Thursday, December 22, 2011

Ha! Segala kata2 yg terangkai manis atau jelek yg terbaca oleh kita sebenarnya bullshit yg tersembunyi maksudnya. Yg manis bisa aja di permanis, yg biasa aja bisa aja awalnya manis tapi dibuat jadi gak manis. So deep thought before can't sleep cz of it ;)

Wednesday, October 19, 2011

Call me I'm LUCKY ;)

Yes, it was. Eventhough I'm not the luckiest I have to say that I'm lucky. I have a great couple of parents, annoying sister-brother and I'm living in His great creature world.
Tadi pagi, aku bareng sama kelompok agamaku ngelaksanain bakti sosial di Panti Asuhan dan Pesantren Mu'tasim Billah, tepatnya di Jalan Purnama Ujung.. It was an awesome moments! Aku ngerasa sangaaaaaaaat beruntung masih ada orang tua, lengkap. Adik-adik yang even mereke suka bikin kesal tapi ngangenin. Aku masih bisa makan enak, aku masih bisa sekolah, aku bisa punya barang-barang yang aku mau, aku tinggal minta apa yang aku butuhkan. Benar-benar jauh dari kehidupan mereka disana.
Mereka anak-anak yatim yang terkumpul dari berbagai daerah pelosok di Kalimantan Barat ini, dari beberapa daerah yang belum pernah aku dengar namanya sebelum ini, that's why I said pelosok.. Hehe. Mereka gak punya orang tua, orang tua men! Kalau bagi aku gak punya orang tua itu berarti gak ada manja-manjaan lagi, gak ada minta jatah tambahan untuk uang jajan, gak bisa minta tambahan uang pulsa, bahkan mungkin gak bisa sekolah kayak sekarang.
Subhanallahnya mereka futuristik, I love it! Mereka punya mimpi, gak muluk-muluk sih, tapi mulia. Dari 10 orang adik-adik yang kelompoknya bareng aku, delapan yang laki-lakinya pada bercita-cita menjadi Ustadz, Ulama bahkan Da'i. Emm urutannya benar gak sih? Terus ada lagi 2 yang perempuan, yang satunya mau jadi guru and guess what? yup! Satunya lagi mau jadi dokter.. Amin :)
Pas tadi lagi disana seru banget, aku gak berhenti senyum sama mereka, karena aku pikir aku gak bisa ngasih apa-apa lagi selain hanya senyum aku yang manis itu *eh hahaha gak maksud narsis loh ya.. Memang lain sih sikonnya tadi sama yang waktu di SLB, itu benar-benarlah, ndak tahan sekali buat nahan air mata. Jadi ingat kadang-kadang aku suka lupa bersyukur, padahal masih dikasih kemampuan indra paket lengkap. Memang kadang-kadang manusia suka lupa bersyukur.
Aku juga sempat iseng nanyain mereka makan berapa kali sehari. Mereka makan 3 kali sehari sih katanya. Pagi, siang sama ba'da isya. Ya siapa tau aja kan kayak waktu yang di Lapas Anak waktu itu.. Yaudahlah..
Aku cuma bisa pesan sedikit tadi sama mereka untuk menjaga kebersihan badan mereka, untuk yang kami ajarkan diajarin lagi ke teman-teman yang lain yang gak ikut dan bermimpi. Ya, aku nyuruh mereka untuk bermimpi! Aku yang umur segini baru tau kalau kita yang hari ini dalah mimpi kita di masa lalu, jadi untuk mecapai kita yang lebih baik di masa depan kita memang harus bermimpi hari ini. Jadi ya aku pikir makin awal kita tau itu akan lebih bekerja efektif menjadi sugesti dan motivasi. Aku juga jadi so sweet banget tadi, aku bilang; 'Jangan takut bermimpi ya adek-adek, karena kalau bermimpi aja kita udah takut gimana cita-cita kita bisa kesampaian?'
Sorenya aku nyeritain yang tadi ke mama. Aku nyeritain, mereka nanyain masa kecil aku. Aku sih langsung terlintas ya mau nyeritain kalau aku punya orang tua dan adik-adik, pergi kemana-mana bareng eh tapi... Skip. Gajadi nyeritain itu.. Aku juga sedikit tau tentang rasa kehilangan dan aku gak mau sampai menyentuh sisi sensitif mereka. Biarlah jadi hanya milik mereka, karena pun gak semua orang mau membagi susahnya. Langsung deh, mama ceramah di telfon. Mama bilang, jangan lupa bersyukur dan bla bla bla. Tapi satu kata yang nancep banget pas diakhir-akhir pembicaraan; "Teteh kalau rindu masih bisa nelfon mama, kalau mereka?" Jleb.

Saturday, October 8, 2011

sensitive me

Tertanggal 8 Oktober 2011 .

Akhir-akhir ini aku merasa lebih sensitif. Agak berlebihan sebenarnya untuk aku yang biasanya.

Pernah -aku lupa pastinya kapan, masih dalam minggu-minggu inilah- aku ngerasa sedih sekali pas keluar kamar terus liat papa masak, atau ketika gak sengaja aku ngeliat papa jemurin pakaian dimana sebelumnya aku hanya tiduran di kamar atau rasa terharu yang tiba-tiba menyergap ketika pulang dari kampus papa ngingatin untuk makan. Pas ngeliat ke meja makan, nasi bungkus yang tadi papa bawain untuk aku dari sekolahan udah gak ada. Kesal iya, pengen ngambek rasanya. Tapi sebelumaku sempat 'marah' papa bilang, kalau nasinya ada di dalam kulkas soalnya tadi takut semut. Nyess.. Terharu gitu aja. Nanya gitu dalam hati.. Kok apa-apa serba papa? Kok bukan aku? Kok papa ngerjain pekerjaan yang seharusnya bisa aku handle? Makin banyak pertanyaannya aku makin sedih. Apa aku belum berbakti ya? Belum.

Aku berdoa semoga masih dikasih waktu untuk berbakti untuk membahagiakan orang tua aku, papa dan mama. Aku ingin membuat mereka bangga dan melihat hasil jerih payah mereka untuk menyekolahkanku selama ini. Amin

Monday, October 3, 2011

fahri lagi

3911

Apa benar cinta yang tulus itu, cinta yang meskipun bukan untukmu tapi kau masih menyimpannya?

Ntah kenapa hari itu tercetus gitu aja pas kita lagi ngumpul nungguin teman-teman lainnya untuk pergi ke suatu tempat.

"Wahh, kamu cowok sendiri loh disini.." ejek salah seorang teman dekatku.

"Eh, eh biarin dong, berarti aku ganteng dong?" tanyanya balik dengan senyum usil. Ya, aku masih ingat senyum itu. Senyum yang tercipta oleh sesosok anak laki-laki berbalut jaket usang dari sudut mataku yang menatapnya diam-diam.

"Ganteng apaan?" ledek temanku lagi.. "kepaksa doang.." tembaknya lalu tertawa. Dalam hati pengen aku jitakin temenku yang ngomong tadi. 'Emang ganteng, Oon! Kamu yg pura-pura buta!!' sergahku dalam hati.

"Eh pas loh kita berempat.. Yang perempuannya.." sambung temanku itu, usil lagi menunjuk kami-kami yang perempuan disitu.

'Oh my! Jangan!' sambungku dalam hati. Sedangkan dua teman perempuanku yang lain sedang sibuk dengan gadgetnya masing-masing di tangan mereka.

"Ayat- Ayat Cinta?" tebak anak laki-laki itu, yang memang kebetulan ketika itu film itu sedang ramai dibicarakan.

"Yup!" jawab temanku.

"Nah, berarti aku Fahri-nya kan! Haha.. Punya istri banyak! Asikk.."

"Iya. Nih, Ayu yg jadi Aisha-nya!" sambung temenku lagi menyikut lenganku yang sedari tadi pura-pura nengok ke handphone padahal fokus ke pembicaraan mereka. Glek. Ngena men! Karena itu omongan benar-benar nusuk ke hati dan hampir aku amin-aminkan supaya kejadian, aku langsung mendongak ke arah Fahri gadungan itu,

"Ahh, kesenangan dia punya istri banyak.." sahutku sok gak peduli, padahal hati jedat jedut gak karuan.

"Gapapa dong yang penting bahagia.." ucapnya tertawa bahagia. Dari ketawanya kedengaran puas banget, entah memang pengen punya istri banyak apa gimana aku juga gak ngerti.

Setelah bertahun-tahun berlalu, hanya aku dan temanku yang banyak bicaranya itu yang mengingat cerita ini. Gak ada selain kami yang ingat, karena -mungkin- hanya dianggap jokes gak penting sama yang lain.

Padahal, mereka hanya gak tau, dia masih Fahri-ku sampai sekarang meskipun aku bukan Aisha-nya

Tuesday, September 27, 2011

by a girl, to a girl..

Kalau dipikir-pikir lucu juga ada anak SMA yg peluk-pelukan di selasar kelas di sekolah.

Kalau kalian di posisi sebagai orang ketiga, apa yg bakal terpikir oleh kalian? Fyi, kedua anak ini sama-sama perempuan loh ya ;)

Pasti sesuatu yang terlintas di pikiran kalian, dua anak ini penyuka sejenis? Atau sok-sok manjaan? Sok-sok lucuan? Siswi-siswi melankolis? Pasti pemikiran yang jelek-jelek tuh kan? Hahaha. Opini kembali ke diri masing-masing ya.. Baik atau jeleknya opini kalian, aku mesti ngasi tau kalau salah satu siswi itu aku di masa lalu. Hehehe.

Sekarang, aku gak pernah nyesal pernah demikian. Sekarang, aku sangat merindukan memeluk teman yang biasa kupeluk itu. Rasanya ingin balik ke SMA lagi, tapi gak mau. Maunya balik pas cuma momen aku meluk temanku itu aja, selebihnya aku senang dengan yang sekarang.

Dari sekian banyak yang pernah kupeluk cuma dia tuh yang bisa bikin tenang. Rasanya damai aja kalau lagi meluk dia. Kalau nangis di bahunya, cerita dengan berbisik, semuanya. Aku gak tau apakah dia juga demikian terhadapku.

Sekarang, sebagai mahasiswi semester pertama, aku dan dia sulit dipertemukan waktu. Selalu bentrok. Selama ini, yang baru berjalan beberapa bulan perkuliahan,aku hanya bisa berkomunikasi via handphone. Kalau ketemu pun bukan karena memang disengaja pengen bertemu, jadi terkadang dia lebih sibuk dengan yang lain daripada aku. Itu yang buat sedih dan semakin rindu.

Tapi mungkin belum tepat aja kapan harus ketemunya. Pasti nanti ada waktu yang pas.. Semoga aja :)

Hmm

Pernah jatuh cinta?
Hmm.. Ih suer mukaku langsung ngerenyit geli2 gimana gitu abis nulis bagian ini.
Mm dulu. Duluuuuu waktu smp. Aku pernah suka banget sama abang kelas, cowok.. Ya, jatuh cinta-lah.. Cinta. Cinta-cintaan.. Itu bayangan si dia suka tiba2 terlintas aja even pas lagi serius. Misalnya pas lagi di wc, aku dibuatnya kepeleset. Atau waktu udah sma, aku sering banget nyalahin gebetan kalau aku sampai salah tujuan waktu mnegendarai motor. Atau hemm barusan.. Pas ambil wudhu, aku kesedak karena bayangan dia yang lagi senyum ahh manisnyaaaaa :D

Tuesday, September 6, 2011

not a conclusion, real fact

Pernah merasa dikhianati atau di serobot belakang sama teman-teman sendiri? Aku pernah.. Lagi ngalamin malah :')

Sesuatu! Ya, sesuatu! Sesuatu bangeeettts!!

Sunday, August 28, 2011

Dumshhhh

Ini hanya seperti manuver. Lazim dilakukan-khususnya-perempuan untuk mencari massa yang mendukungya. Sms sana sini, bbm sana sini, telfon sana sini hanya untuk mendapatkan kata-kata 'kok dia gitu sih?', 'ih belagu banget..' yang sudah bisa menenangkan perasaannya dan dianggap sebagai dukungan moril penguat batin.
Gak percaya? Atau belum ngalamin? Ntar deh, kebagian jatah ngebuktiin kok ;)

Ayu, 28.8

Friday, August 26, 2011

Ikatan Batin?

Bisa gak sih, keterikatan batin sama orang lain ngebuat kita jadi ikutan ngerasain yang dia rasain? Kalo ini antara aku sama mama sih wajar ya, ibu dan anak itu ikatan batinnya kuat, apalagi kalau kita memang punya kualitas hubungan yang dekat banget. Biasanya kalau mamaku sakit disana, aku juga ikutan sakit disini begitupun sebaliknya. Nah, kalau yang sakit ini cuma orang lain-just-something-called-friend- gimana?
Aku kayaknya lagi ngalamin deh, kita sama-sama sakit(titik)
Lebaran tahun lalu, aku rinduuuuuu banget sama seseorang itu. Bukan sakitnya karena dia sih, tapi sakitku mendingan setelah aku ngubungin dia dan dengar suaranya. Ya, setelah beberapa bulan gak kontak tentunya.
Aku diinfus waktu itu. Dia tuh yang rajin ngingetin makan, makan obat, tidur, untuk gak twitteran.. Ya selain mama yang juga rajin nyuapin atau papa yang rajin komentar mengenai tangan yang gak lepas-lepas dari handphone tentunya. Handphone sempat diambil papa, soalnya ya ngeliatnya aku cuma main-main sih.. Gak tau kalau aku punya kualitas dengan kata-kata yang terekam di memorinya. Kata-kata yang buat aku UP, yang buat aku semangat dan gak terus-terusan betek di kamar nenek dengan infus pink cantik tergantung bersisian dengan tempat tidur.
Tapi ya, mungkin aja itu udah menjadi ketergantungan sampai sekarang. Agak sulit lepas, karena terus terikat walaupun terkadang longgar. Entahlah..

Ayu, 26.8

Thursday, August 25, 2011

Greetings for Fitrop

Done reading #kening by Rakhmawati Fitri alias Fitri Tropika.
Awesome and sooooooooooo touching me. How come? Just making me remember something should be don't. One name, two memories lies. Awww :"> Thanks @fitrop you make me feel complicated things called missing someone..

Best regrads, Ayu unyu.

Wednesday, August 24, 2011

Byebyeee :3

Takdir?
Semacam skenario yg jika di sudah tidak bisa di pangkas ataupun dipanjangkan dengan sengaja. Bakalan norak jatuhnya.
Aku, kamu.. Kita takdir tentunya. Ditakdirkan tidak untuk sama-sama.
Kamu tanpa aku? Kuat banget.. Aku tanpa kamu? Wuiihh, melebihi kuatnya kamu deh ;)
Aku itu bulan kamu matahari, kita sama-sama menyinari meski gak muncul di saat bersamaan. Pernah dengar kata-kata ini dimana ya?
Hmmm, aku udah terbang tinggi loh sekarang.. Tinggiiiiiiiii bangeeeeeeeeet :D Sampai-sampai kamu udah gak keliatan lagi di mataku.
Makasih ya..

Ayu :)

1234 :D

Senaaaaaaaaaaaaaaaang! :D
Lepas, ringan, bebas fufufufu
Gak ada beban lagi :D Iihhh senang banget pokoknya. It is what I called phase. I thru it well lalalalalalaaaa~
Thanks God, for making me having this blast day. I will never repeat that faults anymore.. I think you forgiving me already ;)
Thanks God.

Ayu, 24.8

MO :)

Aku merubah haluan hidup.
Sebenarnya -hmm- terlalu banyak sebenarnya jika harus dijabarkan dengan tepat akurat. Sebenarnya, seharusnya begini dan seharusnya begitu. Ternyata kemampuanku jauh melebihi prediksiku.
Sebenarnya kan ya pengennya menghindar sejauh-jauhnya dari apapun. Tapi faktanya sekarang aku mampu menghadapi tantangan semesta. Semesta memang suka mengerjaiku, sebetulnya.
Aku pernah pengen pergi jauh dan lost contact dengan semuanya, hidup sebelumnya. Tapi... Ternyata hidup lebih asik dihadapi santai, dengan tak dan tik pastinya.
Seperti sekarang.. Meeeh, bukannya meremehkan. Tapi, hidup yang dulu hanya agak seperti salah satu proses unik dalam hidupku. Lucu iya, ngeselin juga iya, complicated lah pokoknya.
Memang proses itu indah, dan penilaian terbaik adalah di prosesnya. Sekarang, aku belum dapat hasil apa-apa yang menegaskan sebenarnya aku juga masih berada di jaring proses itu. Memang pernah beberapa kali gagal meraih nilai yang baik, namun 'beberapa kali' itu mengantarku pada 'sekali' yang -benar-benar- bisa mengantarkanku pada titik balik pencapaian nilai meski aku pun masih menebak-nebak nilaiku berapa ;)

Ayu, 24.8

Sunday, August 21, 2011

Is it?

Terencana gamblang layaknya dedaunan yg jatuh dari pohon.
Tali yg mengikat diantara keduanya, erat, tidak terputus oleh siapapun, ego, jarak maupun waktu.
Setiap menit dan detik kehadirannya lah yg dinanti.
Mereka berarak bersama saling beriring mengisi kerapuhan satu sama lain.
Menguatkan disaat lemah, dan ikut tertawa gembira walau semestinya bersedih.
Air mata menjadi suka.
Sedih menjadi lupa.
Bahagia tidak lagi dicari karena selalu ada.
Itukah cinta?

Wednesday, August 17, 2011

Ralph Indie Norwegia Delta United

Assalamualaikum..
Selamat malam wahai kekasih hatiku :)
Kamu sdg apa sekarang? Sedang beribadahkah? Atau.. Sedang menerka jg disuatu tempat disana mengenai aku?
Sayangku..
Apakah kita sudah pernah dipertemukan sebelum ini? Sebelum aku menulis catatan pendek karena merindumu.
Sayangku..
Jaga hatimu ya? Aku juga sebisaku menjaganya untukmu. Hanya untukmu dan anak-anak kita. Keluarga kecil kita yg bahagia kelak.
Aku sering membayangkan, kamu itu seseorang yg hampir selalu hadir di mimpi malamku. Aku juga sering membayangkan, kamu seorang arsitek. Sosok yang merias, mendesign hatiku untuk terus mencintaimu.
Hemm, jujur saja aku penasaran. Tapi sekarang ini tidak lagi menggebu seperti dulu-dulu. Aku lebih sabar sekarang. Aku menyadari -yah- aku belum jadi apa-apa. Aku belum siap menjadi ibu. Aku belum memiliki mental sempurna sebagai seorang ibu.
Akhir-akhir ini aku agak paranoid dengan 'pernikahan'. Entah mengapa, rasanya jauh sekali dari gapaianku. Agak seperti tidak tersentuh, jauh, sayang..
Nanti, kalau kau dan aku, kita sudah memantapkan hati memiliki satu sama lain, bantu aku ya menjadi ibu yg baik? Aku ingin keturunan kita menjadi manusia kesayangan dan dirahmati Tuhan. Aku hanya ingin dia jauh berkali lipat sempurna keimanannya dibanding kita berdua. Amin.
Hey, penasarannya kamu kayak aku gini gak sih? Kamu follower aku di twitter? Atau aku follow kamu? Atau kamu teman di facebook-ku? Hemm, mungkin kamu bukan yg bermain di jejaring sosial ya?
Kamu ahli ibadah kan ya, Sayang? Amin. Semakin aku mencintaimu kalau begitu ;)

11agtus 2011
2200

Monday, August 15, 2011

7 Hours to go

Be positive, Yu..
Hmm.
Ngerasa tersindir dengan tweet barusan.. Tapi kenapa gak ditanggapin positif aja ya? Bukan juga itu tentu ditujukan untuk aku baca. Gak mungkinlah.. Orang sebaik dia.. Gak, gak.. Gak mungkin..
Hidup ya memang gak hanya selebar daun kelor. Hidup itu luas, untukku. Ya even kita cuma bergumul di lingkaran-lingkaran itu aja. Jangan gak percaya..
Bukan lingkaran kecil. Lingkaran besar dong. Lingkaran nasib, lingkaran dunia, lingkaran semesta. Gak kecil kan? Siapa yang berani bilang kecil?
Aku serius. Ya, pastinya. Dan aku hanya berbicara untuk yang mau mendengar, menulis untuk yang membaca, dan menyayangi dengan yang selalu ada untuk support aku. Selebihnya NO.
Aku selalu serius untuk hal-hal yang terus-terusan membuatku merasa spesial. Ketika kalian gak suka, kalian boleh tutup telinga daripada ucapanku memberatkan telinga kalian :')

Aku memang banyak omong, tapi ya setidaknya samalah dengan yg ada di otak.

Ayu, 18, 7 hours to go
#messageinthebottle

Nb: lupa tulis janji supaya gak manja lagi

teman-teman aku..

...berubah
Mereka bukan yang kemarin lagi :'(
Mereka bukan teman-temanku yang dulu lagi.
Dulu, suka sedikit ngejek becandaan.
Sekarang, ngejeknya beneran. Menjurus ke penghinaan.
Mungkin akunya kali ya yang berubah ya? Mungkin..
Gak mungkin mereka jahatin aku. Mereka kan malaikat o:)

Thursday, August 11, 2011

Aug 11th

Pertengahan sahur, hujan, sedang di wc

Kamu ada lagi dalam tidurku :|
Kenapa sih ndak bosan-bosan hadir? Kenapa kita selalu dipertemukan di mimpi? Kita berjodoh ya?
Arjuna, bukannya aku tidak suka, aku hanya lelah. Kau tak kunjung pergi padahal fisik kita sama sekali tidak lagi pernah bertemu. Setahun yang lalu ya terakhir aku memandang wajah usilmu? Dalam tidurku tadi wajah itu lagi yang muncul. Jaket biru quick silver yang mungkin sekrang udah belel -itu yang kau kenakan- dengan bawahan jeans yang agak melorot sepertinya :|
Aku sungguh tidak bisa menggambarkan seperti apa wajahmu tadi. Tolol, kekanakan. Sungguh polos. Tidak kelihatan jahat seperti seharusnya.
Aku melihatmu di lantai atas mall memegang dua tiket di tangan sambil bersiul. Aku? Jelas tidak ingin bertemu denganmu. Aku dengan kedua temanku waktu itu dan mengajak salah satunya pulang sebelum kau sempat sadar atau bahkan turun menghampiri kami.
Aku selamat malam ini, seperti malam-malam sebelumnya. Kita tidak bertemu. Aku bangun.

Friday, August 5, 2011

Jleb

Pushing! What it spell? Ya bisa berarti pusing seperti bacaannya dan PUSH tertekan. Ya gitu deh. Yang dewasa yang ngalah, yang dewasa yang kuat. Yang dewasa yang bertahan. Yang dewasa yang tidak memperkeruh keadaan. Yang dewasa ya yang tidak menulis beginian ;)

Thursday, August 4, 2011

Idk

Entah ini udah keberapa kalinya air mata aku netes untuk kalian. Bukan.. Bukan aku nyalahin kalian.. Aku kok yang salah.. Aku gak pernah bisa kalah sama ego sendiri.
Berulang kali, entah dengan gurau atau apa aku sampaikan ke kalian yang aku anggap ngerti, 'aku belum sanggup berdiri berEMPAT' tapi kalian tetap menganggap aku kuat, seperti seharusnya.
Aku butuh waktu, teman-teman. Aku butuh waktu memulihkan rasaku. Aku bukan dia yang hanya bergelut dengan logika.
Meski kadang mengalah. Itu lebih gak sanggup ngeliat nantinya kalian memusuhi bahkan mengasihani aku yang belum juga sembuh dari sakitku.
Andai.. Kalian tau sebesar apa rasa yang pernah aku punya. Seberapa banyak yang aku korbankan..
Kalian akan mengerti. Entah akan tetap berdiri tegakkah atau akan menunduk sepertiku.
Kalian hanya tidak menjalaninya seperti aku. Tapi aku berharap kalian bisa mengerti karena udah gak ada siapa-siapa lagi yang aku harap bisa ngerti selain kalian.

another

4 Agustus 2011

Hei, kamu! Tuhkan ada lagi..
Aku gak minta kamu datang sama temenku untuk ngebawain oleh-oleh kok. Kamu kok ada lagi sih??
Kata temenku, anggap aja kamu parasit. Ya separasit-parasitnya kamu, tapi sumpah loh ya kamu eksis banget. Udah jadi best performer kali di alam mimpi, khususnya mimpiku.
Ergh kesal!

Seharusnya ada yang ulang tahun hari ini :D

Sunday, July 31, 2011

lifes

Memang benar segala sesuatu yg terjalin dengan intim itu membuat segala halnya jadi sensitif.

Iyakan? Benarkan?

Hmm *exhale* aku ngerasanya sih gitu. Merasa tersisihkan seringnya -dan itu bahasa kasarnya-. Memang mungkin aku cocoknya gak dekat sama siapa-siapa kali ya?

Aku susah sosialisasi. Aku sombong. Aku sensitif. Aku moody.

Tapi susah sosialisasinya aku dianggap orang lain, aku pendiam.

Sombongnya aku dianggap aku mengerti dan berpengalaman.

Aku sensitif dan moody, seharusnya mereka tau aku sulit berkomunikasi.

Rasanya cuma sama dia-salah-seorang-teman-perempuanku- aku gak merasakan kompetisi. Everything was like purely happened. Lain ketika aku harus berada bersama yang lain. Sekarang aku ingin menghilang. Hilang.. Lepas..
Mungkin aku harus benar-benar bisa berteman baik dengan diriku sendiri sampai aku bisa mendapatkan sempurnaku. Mendapatkan sosok yang benar-benar SEMPURNA. Aku kan sombong ya, ndak level sama yang bohongan.
Sementara yang aku jauhi adalah benar dan yang aku dekati adalah kewajiban.
Aku percaya perempuan, tapi bukan yang bohongan.
Srsly, Ayu.

Friday, July 29, 2011

Seneng :D

Bangeeeeet :D
Iman lagi nanjak disaat gue belum suci.
Ya Allah pertahankan sampai ujung usia hamba ya Allah :D
Amiin :)

Saturday, July 23, 2011

Child Nationals Day II

26. Tiap anak yg dirampas kbebasannya berhak u/ membela diri & mperoleh keadilan di Pengadilan Anak yg objektif, & tertutup u/ umum

27. Tiap anak yg jadi korban kekerasan/pelakku kekerasan sekseual/yg berhadapan dg hukum berhak diRAHASIAKAN# HariAnakNasional

28. Tiap anak yg jd korban/pelaku tindak pidana berhak dpt bantuan hukum & bantuan lainnya [Ps. 18 UU Perlindungan Anak]#HariAnakNasional

29. Demikian Twips, #lawtwit tentang Hak Anak

30. Perlindungan Anak harus mengacu kepada Prinsip non diskriminasi, kepentingan terbaik u/anak, hak untuk hidup, kelangsungan hidup,


31. Perlindungan Anak harus mengacu kepada Prinsip perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak #HariAnakNasional

32. Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional


33. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

34. Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

35. Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

36. Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

37. Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

38. Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

39. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

40. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri(Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

41. Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai(Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

42. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri(Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

43. Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

44. Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

45. Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

46. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

47. Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

48. Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran (Dorothy Law Nolte)#HariAnakNasional

49. Tentang Anak, Kahlil Gibran pernah menulis dalam bukunya (Dari ‘Cinta,
Keindahan, Kesunyian’),#recommended #HariAnakNasional

50. Terimakasih Tuips, mari mulai merubah diri u/ berbuat baik &
mmperhatikan anak2. ditangan mereka masa depan bangsa,#HariAnakNasional

:)

Childs National Day

It's July 23rd, rite?
Means today is Dan Radcliffe bday aaaaand today is National Childs Day!!
Benerkan? Hari Anak Nasional..
Semoga dengan peringatan hari anak nasional hari ini anak-
anak Indonesia bisa mendapatkan apresiasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Semoga anak-anak Indonesia bisa menjadi sosok pembangun, menjadi anak yang berguna bagi bangsa.

Nih ada 50 rangkaian tweets dari @LBH_Jakarta yang sengaja di repost supaya mudah bacanya..

1. Tiap anak berhak u/ hidup, tumbuh & berkembang dan berpartisipasi scr wajar dgn harkat & martabat kemanusiaan#HariAnakNasional

2. Tiap anak berhak mendapat perlindungan dari kekerasan & diskriminasi [Ps.4 UU 23/2002] #HariAnakNasional

3. Tiap anak berhak atas suatu nama sbg identitas diri & status kewarganegaraan [Ps. 5 UU 23/2002] #HariAnakNasional

4. Tiap anak berhak u/ beribadah menurut agamanya, berpikir, & berekspresi dg tingkat kecerdasan & Usianya, dlm bimbingan orang tua

5. Tiap #anak berhak u/ mengetahui orangtuanya, dibesarkan, & diasuh o/ orang tuanya sendiri [Ps. 7 UU 23/2002]#HariAnakNasional

6. Jk org tuanya tdk bs menjamin tumbuh kembang anak, maka anak berhak diasuh atau anak angkat, sesuai undang2 yg berlaku#HariAnakNasional

7. Tiap anak berhak mperoleh pelayanan kesehatan & jaminan sosial sesuai dg kebutuhan fisik, mental, spiritual, & sosial#HariAnakNasional

8. Tiap anak berhak mperoleh pendidikan & pengajaran dlm rangka pengembangan pribadinya & tingkat kecerdasan, ssuai dg minat & bakatnya

9. Khusus bg anak difable berhak memperoleh pendidikan luarbiasa, bg yg memiliki keunggulan berhak dpt pendidikan khusus #HariAnakNasional

10. Tiap anak berhak menyatakan pendapat & didengar pendapatnya [Ps.10 UU 23/2002]#HariAnakNasional

11. Tiap anak berhak menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai tingkat kecerdasan & usianya dmi pengembangan diri

12. Tiap anak berhak u/ beristirahat & memanfaatkan waktu luang, bergaul dg sebaya, bermain, berekreasi, & berkreasi ssuai dg minat & bakat

13. Tiap anak difable berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial [Ps. 12 UU 23/2002]

14. Tiap anak slm dlm pengasuhan berhak dpt perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi, penelantaran, kekejaman, kekerasan

15. Tiap anak berhak dpt perlindungan dr perlakuan penganiayaan, ketidakadilan, & perlakuan salah lainnya

16. Tiap anak berhak u memperoleh perlindungan dari penyalahgunaan dlm kegiatan politik [Ps. 15 UU 23/2002]#HariAnakNasional

17. Tiap anak berhak u/ peroleh perlindungan dari pelibatan dlm sengketa bersenjata #HariAnakNasional

18. Tiap anak berhak peroleh perlindungan dari pelibatan dlm kerusuhan sosial [Ps. 15 UU
Perlindungan Anak]#HariAnakNasional

19. Tiap anak berhak u/ peroleh perlindungan dari pelibatan dlm peristiwa yg mengandung unsur kekerasan#HariAnakNasional

20. Tiap anak berhak peroleh perlindungan dr sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan penghukuman yg tdk manusiawi

21. Tiap anak berhak peroleh kebebasan sesuai dg hukum [Ps. 16 UU Perlindungan Anak]#HariAnakNasional

22. Penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila ssuai dg hukum yg mberlaku

23. Penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir #HariAnakNasional

24. Tiap anak yg dirampas kbebasannya berhak u/ dapat perlakuan scr manusiawi & penempatannya dipisahkan dr orang dewasa#HariAnakNasional

25. Tiap anak yg dirampas kbebasannya berhak u/ memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya scr efektif dlm tiap tahapan upaya hukum

..to be continued..

Friday, July 22, 2011

-

Ternyata persaingan itu bisa membunuh. Membunuh rasa dan menciptakan rasa lainnya. Jangan berpikiran akan menemui rasa-rasa lezat seperti di sepeda mamang roti, rasa disini adalah sesuatu yang berawal kasih menjadi hanya kisah yang telah berubah menjadi benci yang teramat. Bisa saja..
Hati-hati.. Siapapun kita, kendalikanlah emosi. Bentengi diri.
Karena yang terjadi kemarin belum tentu sama dan menjadi episode kelanjutan di paginya. Semua bisa berubah.. Bahkan setelah mata berkedip.

Subhanallah

Bismillahirrahmanirrahim
Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka?
Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..
Aku menjawab..
Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..
Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka?
Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya..
Bagaimana mereka bisa berbaur…
Aku menjawab.. Tahukah kalian..
bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis di jalanan, pada perempuan- perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya di hadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka..
Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita di manapun..
Sering juga kudengar..
Mengapa harus mereka?
Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis? bagaimana mereka
punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta?
Aku menjawab..
Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.
Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah
yang membedakan mereka..
Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu
karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu..
Cinta mereka murni.. bening.. suci..
hanya karena-Nya..
Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permata surga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia.
Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..
Sering juga banyak yang bertanya..
mengapa harus mereka?
Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul- kumpul bersama teman sebaya
mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana
mereka bisa menjadi wanita modern?
Aku menjawab..
Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al-Qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang- orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al Qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya. Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga
diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul di dalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu?
Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar,
mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang- orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.
Dan sering sekali, orang tak puas..
dan terus bertanya.. mengapa harus mereka?
Pada akhirnya, akupun menjawab…
Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang shalih seperti mereka..
Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…
Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga yang turun ke dunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk memberikan kepadamu yang tak berarti di mata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia.
Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang
penghuni surga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.
Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas Islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki shalih penghulu surga…
Seberat itukah?
Ya… Takkan mudah.. sebab surga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada
perjuangan…

Hanya repost sebagai reminder pribadi :)

Life

Pernah dong ya ngerasa suka yang kebanget-bangetan sama orang lain? Even lo sama sekali gak pernah kenal secara nyata sama tu orang?
Seperti yang marak sekarang ini ya kan?
Masa-masa yang kayak gitu udah gue lewatin. Lalu ada apa lagi ya seterusnya di depan? Penasaran? *betulinkacamata*

Thursday, July 21, 2011

Hanya Bisa Diam

Celamat mayam ceman ceman :3
Sounds disguisting, eh? *cila wannabe
Emm so I have something to speak up tonite.
Ya, baru menyadari aja kalo bergantung pada orang lain itu adalah benar-benar tidak nyaman dan tidak memberikan apa-apa pada kita, selain sedikit banyak sakit hati.
Sakit hati dikarenakan kebanyakan hal adalah bukan keinginan kita..
Kebanyakan waktu yang mengatur, dia.
Coba bisa move, bisa gerak sendiri..
Bukannya semuanya bisa lebih kompatibel ya?
Lebih enak atur jadwal yang gak tergantungan sama free timenya orang.
Lebih enak ngatur waktu, kapan mesti nyantai kapan harus kerja.
Ya gak lepas juga, sebagai orang yang digantungi juga pasti sedikit banyaknya merasa dibebani. Sedikit banyak ada tanggung jawab yang harus ditunaikan sendiri sedangkan pada waktu bersamaan ia sendiri seperti sedang ditunggangi. Ya oleh kamu itu, yang suka bergantung.
Kadang ya jita juga suka berpikir; 'Dianya aja mau, kenapa mesti gak enak?'. Sebenarnya mah memang harus gak enak! Gimana pun. Ya itung-itung belajar mandiri kan lumayan. Kenapa sih masih merepotkan orang selama diri masih bisa?
Kenapa harus memaksakan diri menolong diluar batas kemampuan?

Ayu.

*nb: pelajaran dari post ini; Janganlah sekali-sekali bergantung apalagi sampai ketergantungan pada orang lain.

Tuesday, July 19, 2011

how can I give this a title is

Nyambung gak dihargai, sekalinya dihargai malah gak nyambung..
Kira-kira gitu deh isi tweet gue barusan.
*eh, gue? *noyordirisendiri*
Iya deh, pake 'aku'.. :(
Tadi kan di twitter sempat nulis gitu yah, soalnya ngerasa aja.. Ya sebenarnya lebih ke rasa gak bersyukur aja kali yah? Gak legowo..
Seharusnya kan bisa nerimo sesuatu apo adonyo..
Eh tapi sumpah seru loh pake 'gue'.. T.T
Gak papa lah ya? Pake 'gue'?
Cuma di posan kali iniiii ajaa, please?
gak janji sama yang diatas
Sip yaudah pake 'gue' ajah wkwk
Jadi tuh ya, gue ngerasa gitu aja. Sama orang-orang deket ya digituin, sekalinya sama orang gak deket dibaikin. Bingung gue.. Apa gue ini setan yang bergaul dengan setan lain lalu yang lainnya adalah malaikat? Atau orang-orang dekat yang gue anggap malaikat itu cuma pura-pura? Atau gimana sih..
Gue suka putih, tapi bukan yang dikasi corak supaya tambah lucu. Menurut gue dengan putih gitu aja udah manis (menurut gue).. Gue juga suka hitam, tapi bukan hitam yang bisa ngebawa ikutan hitam karena lunturan..
Auk ah.. Bingung sendiri gue -___-
Sementara ini gue masih asik sama diri gue yang -yah- gini. Meskipun gampang banget terikut arus kuat, tapi gue sedang belajar berenang kok untuk melawan arusnya. Ya, siapa tau aja sewaktu-waktu gue butuh skill yang satu ini untuk mempertahankan prinsip yang gue pegang.
Gue juga kadang suka kesal yah sama diri sendiri. Kok gak bisanya nolak nolong orang? Padahal diri sendiri lagi butuh pertolongan.
Baiknya, gue suka mempositifkan suatu yang negatif. Tapi buruknya, kadang yang positif gue jadiin negatif. Jadi kadang-kadang ketika ada yang mengguraui malah gue anggap menggurui dan gak gue bisa terima. Jadinya malah salah paham. Untungnya sih jarang berkepanjangan soalnya langsung gue positifkan lagi.. Terkecuali ya untuk beberapa hal yang sifatnya prinsipil dan sulit diubah(maksudnya, arah pemikiran gue sendiri)
Sebenarnya untuk diajak berunding dan bermusyawarah gue gak terlalu sulit, apalagi untuk orang-orang yang tau gimana caranya membuat agar menjadi kooperatif. Namun sayang hanya beberapa yang bisa. Baguslah.
Memang lidah tak bertulang. Kadang yang tidak pernah terpikirkan pun bisa terkeluar begitu saja dari mulut. Itu yang kadang membuat orang sering kalah. Entah kalah atau mengalah :D
Pastinya jikapun membaca ini kita sama taulah ya perempuan jauh lebih andal berbicara daripada laki-laki. Namun sebaliknya laki-laki jago sekali dalam urusan mengintimidasi. Dan jujur gue 'kalah' kalo diharuskan berhadapan dengan orang-orang yang gue anggap berindikasi untuk mengintimidasi ini. Males. Kayak ngomong sama anak kecil umur 2 tahun. 'Ah uh ah uh' omongannya.
Kadang jauh dari realistis. Terlalu mendramatisir.
Lebay.
Gue pastinya suka sama laki-laki yang gak mengintimidasi lah.. Takut juga ikutan terlibat kasus pelecehan secara mental ini di pengadilan. Mau sama laki-laki sakit jiwa?
Gue mah ogah..
;)

Ayu

Saturday, June 4, 2011

Am I Princess?

Yep, actually every girls are princess. We were princess for our parents, our friends and for our own self..
Sometime I have thought that princess is, someone who treated from other. But now I think, princess is the one who treating everybody right.
by coming early,appreciate people nice, act with polite, that's absolutely princess.
That's absolutely I wanna be..
Pray for me :3




Real P,
Ayu

Wednesday, June 1, 2011

SNMPTN

Pre-days

Ke untan sore2 ngeliat kursi.
Aku dapetnya di Auditorium UNTAN buat IPC-nya, Tami dapat di UPT MKU.
Nih, aku foto sama bangkuku :)


Trus di jalan ketemu sama Ayu sama Dhani, trus ngobrol geje di jalan, misah kan ya, eh ketemu lagi loh di tempat makan mi ramen hehehe

May 30th

Aaah sumpaaah gabisa ngisi, TPA-nya gak nyangka..
Teman sampingku resek lg

June 1st

Dtg telat, eh gak ding pas2, pas org udah nerima LJU.
Teman sblhku gak dtg smp ujian selesai, tapi ada penggangu lain, org blkgku erghhh
IPA-nya lumayan deh..
Cm krg pintar *eh kt mama krg aplikasi :)
IPSnya butaaa ahahahahaha

Saturday, May 28, 2011

sonic

Aku masih masuk angin gara-gara berenang kemaren. Sampai-sampai Tami gak jadi mau ke rumah. Muaaal, pusing-pusinglah pokoknya. Pulang Try Out langsung becari mi soto yang waktu itu kubeli sama Erin hujan-hujan, trus dimasak, dikasi cabe bakwan yang kemaren ahhhh nikmat langsung tidur dur dur..
Pasang alarm jam 3, kebangun masih pusing dan dibangunkan 4 sms masuk.. Boleh deh nih PD? Eeeeh bukan.. Dari Arfi satu, Te Heni satu, Niar satu, satunya lagi lupa dari siapa.. Zzz
Jam setengah 4 belum dapat kabar.. And somewhere the sky was cloudy, yaudah, hari ini aku yang ngalah.. Kusmsin.. Ya gitu deh.. Aku gak joging.. Mama juga gak restu..
:(

Katanya 'sebentar'.. Sampai setengah 6 'sebentar'? Biasa juga sampai jam segitu kok padahal.. Argghh untung sama-sama ngesak.. Biarin jak dia ngeliat aku juga gak di rumah doang week :p
Sukurin!

Aku ke K-fest loohh sama Westi, Kak Yindunixia, Bang Sami, Kak Amoy + Kak Visi.. Asikkk mamamnya huhuw
Banyak mamamnya :)
Tadi beli aegyoo pancake harga tujuh ribuan, jadi pancake gitu dimakan pakai saos lemon sama saos pandan *sluurp.. Sama apa gitu -lupa namanya- makannya pakai saos khas korea, rasanya semacam bakso ikan disinilah.. Ngantri kimchi di stand bingsujib, asliii lamaaaa --" soalnya ramai pada ngantri disitu juga.. Kimchi itu yang waktu itu dimakan Riri. Omelet. Sayang gak kufotoin tadi.. Ramai soalnya, rada norak juga moto moto. Hehe.
Trus trus akunya dijamin es krim sama Kak Yindunixia. Baik amat memang kakak itu. Nah berlebih lebih diksi kalau muji haha..
Ada lomba nyanyi sama lomba dance juga.. Nah si Galuh, Sari sama Debby ada ikutan juga, satu tim sama temannya satu lagi. Itu dia kita tungguin sampai setengah sembilanan.. Jam sembilan capcus pulang deh.. Yang para tetua itu ngelanjut jalan lagi kali.. Kan keren hehe aku sih alim :'>

Ini finally home..
Masih kepikiran someone..
Padahal aku kan senang liat dia pakai baju itu..
Argh gak rezeki banget siih akunya u,u

Agak merasa bersalah,
Ayu :|

Thursday, May 26, 2011

tututuutuututulululu

Helooooooow :))
Masih ada bahagia disini.
Mama barusaaan aja pulang jadinya aku kesepian lagi deh. Mm, tapi senang.. Mama baik banget hari ini *jadi selama ini gak baik gitu? mm bukannya gitu!! Tapi mama banyak beliin aku barang hari ini. Bukan sekedar baju yang memang keperluan wajib untuk dibeli, tapi mama juga nurut aja aku minta beliin bulu mata sama lemnya ckck
Trus aku cantik hari ini, shiny gimana gitu hihi
Ew ew kena karma sekalian loh akunya.. Masa iya cemburu sama cewek yang namanya sama u,u terus jadi tau gimana rasanya senang setiap ada bebunyian disusul alert merah :D
Ikhlasss deeeh, dulu kan aku pemeran utamanya, sekarang?
Aku penulis ceritanya.. :)


Sincerely, Ayu :)

Monday, May 9, 2011

A day w REBELS

Re-photoshoot buat yearbook (lagi). Kesal amat datanya sampai hilang. Tapi seru sih, kali ini viewnya lebih bagus daripada kemaren huehehehe
Pulangnya aku jalan bareng 'mereka', asik. Mereka tuh asik sebenarnya. Cuma karena oknum yang buat aku gak suka.
However, I miss them.
My dem Rebellion.

Tuesday, April 26, 2011

the rebels
Kelasku yg adem ayem, ribut ny cm kalo lagi rapat dan jam ksong..
Awalny ada nama kelas ini krn dikejar deadline buat jaket dan krn mghdapi ujian :D

Pertama masuk kelas ini, aku senaaang skali.. Karena dari klas X aku pengeen sklai duduk di salah satu bangku kelas ini. Selain itu, byk teman2 baru yg awlnya tidak sekelas.. Hanya bbrp teman yg berasal dari kelas yg sm wktu kls XI, selebihnya hasil baur dari ipa1 dan ipa2..
Antusiasmeku tak hanya smpai situ..
byk hal brkesan yg trjd diruang 3x4 itu. Yg kuingat adlh Pandangn dari teman2 di kelas sebelum para pejabat osis mpk turun jabatn wktu awal2 msk kmaren, soalny kelas mndadak sepi krn ramai yg kluar krn panggilan rapat.
Meski begitu, aku salut.
Berawal dari pembauran itu, kami yg sm skali tdk terbiasa dipaksa beradaptasi.. Awalnya mmg ckup berat, krn masih ckup kentara pengelompokan di kelas brdasarkn teman2 waktu kelas XI..
seiring berjlnnya wktu, kami mampu menyatukn suara demi kepentingan kelas. aku memprediksi akan merindukan org2 dg berbagai pribadi unik ini.. Krn udah ndak ad lg yg bakal bikin kesal pagi2,
Ndak ad lg yg resek, ndak ad lg bunyi2an suara aneh jerih pita suara seseorg di bangku ujung.
Asisten master, tukang kabel rebelion.
Lemak men, ketua jrkomholic, multitalented yg selalu membawa persiapan perkakas komputer di dlm ranselnya.
Lim, yg trkenal seantero ruang gur.
Justin Bibir, yg senang menjalin kasih dg tembok.
yg kuat ngantuk, tp anehnya cm di satu pelajaran dy selalu nyaris hampir tertidur.
Ndak ad lg yg teriak minta nyawa kduanya, headset.
Bule tanjung yg ndak pernah mengeluh dan selalu baik hati.
Gadis penjual risoles.
Si cantik yg lemah gemulai dan selalu memainkan jari lentiknya setiap ia berjalan, bahkan menari..
Objek foto paling mengesalkan, wajahnya selalu tanpa ekspresi..
Tertawaan yg masih diingt, hapus sendiri papan tulisnya sambil mengdipkn mata.
jago nyakat orang tp skali disakat, ngancam pindah skolah..
Si ajaib, pembawa botol marjan berisi air bekal ke skolah. Yg selalu prcy ekspresi kaku wajahku mengartikn marah :D
Si plin plan yg loadingnya lamaaaaaa kalo disakat..
sosok yg menyimpan sisi feminismenya untk dirinya sndiri.
Si Pendiam yg jarang bercuap di kelas.
Pemilik hobi yg sm dgku, bhkn membuat kami dekat krn hobi serupa.
Yg paling pintar, tp ndak pernah bs ngajarin lg..
Si keriting, manis, selalu baik hati, tidak pernah marah..
teriakan dari bangku belakg mnta uang seratusan untk fotokopi, skalinya dikasi 500an dy marah..
manajer kelas ni, kakak2 penjual pulsa punya rambut cantik yg suka aku pelintirin..
pintar gambar, smpai2 wktu qt tugas bikin komik pd rebutan mau sklmpok..
Alaaaay, si ganteng satu ini. yg slalu maju ke dpn klas kalo giliran laki2 yg dsuruh maju..
sekretaris yg pagi2 udah ngisi jurnal kelas, krn skretaris 1 ny brtugas nulis di papan kelas.
Yg paling sering di omelin sm teman2 perempuan di kelas.
Penggebuk drum perempuan di kelas kami, kami punya satu dan bangga.
Ibu2 bendahara, tukang tagih LKs, buku paket, kas kelas..
cicak phobia, ada cicak radius sepuluh meter aja dy udah mnggeliat sana sini.
master fisika.
pemetik gitar yg slalu diprovokasi ganti lagu kalo udah ada yg nyanyi ngeduluin tempo.
Ndak ad lg yg teriak kelupaan bw ikat pinggang sehabis olhraga.
Pd bemintaan bekal makan siang.
Yg buat iri, dianterin bekal mkn siang sm ibunya.
Yg suka kumintain air minum.


krg lebih setaun kami merasakan kebersamaan..
Bermiang dan nyakat brsm,
Menjdkn dewasa dan kami berdiri bersisian..
Aku bertrimakasih skali sm teman2 the rebels, mrk mnjdkn aku ngrti bahwa dak smua hal yg kita mau bs kita dptkan tapi alngkah lebih sygnya kalo yg kita dpt ndak dinikmati.
Semoga hari ini bukan perpisahan kita yg sesungguhnya teman2, aku masih brharap suatu hari nnt kita brtmu ud pd berhasil.

Friday, April 15, 2011

H-3

Innalillahiwainnailaihi roji'un..
Papanya Andri meninggal. Iya, Andri yang itu yang pernah aku ceritain sebelumnya. Andri yang baik sama aku tapi reseknya minta ampun.
Datang-datang ke rumahnya, aku sama teman-teman rombongan pertama yang datang. Dianya keliatan santai, seolah olah biasa. Tapi tatapannya lain sih. Sedih.
Aku ndak bisa nahan nangis sedari tahu. Sedih gitu, papanya teman aku meninggal. H-3 ujian nasional.
Hufh~

Wednesday, March 30, 2011

Andaikan Aku Tahu Lebih Awal (II)

Sambungan dari Andai Aku Tahu Lebih Awal.

"Mbak, mas tu gimana sih di mata mbak?" tanya Kara sambil menyalin sesekali melihat coretan Tama tadi.
"Gimana apanya? Gak ngerti mbak."
"Gimana ya, sikapnya gitu mbak.."
"Mm, biasa aja sih."
"Kalo mas ke mbak gimana?" Luna diam, tatap matanya mengisyaratkan bahwa ia tak mengerti, "Perlakuan dia ke mbak gitu.."
"Hm, dia baik. Baik sekali. Mbak sering ngerasa jadi tuan putri kalo lagi sama mas.." jawab Luna sambil menerawang.
"Trus?"
"Dia tuh laki-laki yg pinter memperlakukan perempuan. Dia yg ngebukain pintu, dia yg narikin kursi kalo mbak mau duduk, dia yg ramah, pendengar yg baik, bukan pengeluh, dia yg segala galanya. Loh kok mbak jd curhat sm kamu?"
"Gak papa kok, mbak. Mbak cinta sm mas?""Terlalu jauh dek untuk ngomongin cinta, untuk mbak sih sekarang yg pasti-pasti aja. Mbak pikir juga udah cukup kok sm perasaan mbak yg sekarang, lebih dari cukup malahan."
"Mas jahat sm mbak?"
"Kategori jahat yg kayak gimana dulu nih?"
"Yang nyakitin hati mbak gitu.."
"Dulu pernah sih dia pergi ke ulang tahun teman mbak dg cewek lain, tapi dulu banget sih waktu belum ada apa-apa. Jahat gak sih? Soalnya mbak kesal banget waktu itu.""Itu mah bukan jahat mbak, mbak aja yg cemburuan.. Ya kalo gitu mas gak pernah jahat dong ya? Beda banget kalo sm dedek."
"Emang baik banget, dia kayak emang dikirim buat mbak. Nyaris sempurna!"
"Halah, itu bawaan karena mbak cinta aja sm mas.. Haha. Tapi iya kok mbak, di rumah mas kasar banget. Dedek sm Laras sering dibuat nangis sm dia."
"Itu emang dasar dia yg iseng. Dedek tau gak sih kenapa sekarang mbak ada disini? Mama lagi di luar kota, mas tidur-tiduran di kamarnya? Mbak ada disini diajak mas untuk ngebantuin kamu ngerjain PR, dia sayang sm kalian tapi dia gak tau gimana cara nunjukinnya. Makanya dia minta tolong mbak."
"Mas sayang sm dedek, mbak?" tanya Kara dg mata berair.
"Sayanglah, gak percaya?"
"Tapi mas suka ngebentak.."
"Dia terlanjur ngerasa jauh sm keluarga, makanya dia kayak gitu. Dia sering cerita sm Mbak."
"Dulu mas gamau nganter dedek sekolah mbak. Dia marah-marah sm mama. Jadi dedek pake jasa antar jemput deh, kasian mama dibentak bentak mas. Untung gak ada papa, kalo nggak pasti mas ribut sm papa. Sejak itu dedek benci sm mas."
"Tapi setelah tau kebenarannya, kamu gak benci lagi kan sm mas? Sesekali deh, coba minta antar mas kemana gitu. Pasti dia mau deh.."
"Takut mbak.."
"Belum juga dicoba.."
"Iya deh, ntar dedek coba."
Terdengar deritan pintu terbuka, Tama berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Udah selesai belajarnya? Udah mau jam 4 nih, kamu mau pulang kan, Lu?" tanya Tama.
"Iya, udah kok. Nih lagi ngerjain soal terakhir.." jawab Luna sambil mengemasi barangnya masuk ke dalam tas.
"Mbak kapan kesini lagi?" Kara bersuara
"Besok lagi lah, besok kan mama pulang.."
"Oke deh. Mbak bilang sm mas jangan garang-garang.." bisik Kara.Luna tertawa, renyah.
"Iya sayang, nanti mbak bilang. Mbak pulang dulu ya, nanti salam aja buat Laras. Bilang besok mbak kesini lagi." pesan Luna sambil berjalan ke depan rumah.
"Oke, ntar kalo Laras udah bangun dedek sampein."
"Yuk, udah belum?" tanya Tama dari dalam mobil.
"Udah udah, bentar." jawab Luna sambil berlari kecil ke pintu samping pengemudi.
"Mas nganter mbak dulu, jaga rumah ya, kunci pintu jangan lupa!" Tama berkata pada Kara."Oke mas, ih mas jadi baik ya? Hehe." balas Kara yg langsung berlari masuk ke dalam.
"Makanya, sama adik tuh jangan garang-garang. Gitu tuh jadi takut dianya." ledek Luna.
"Ah biarin, yg penting..."
"Yg penting apa?"
"Ah udahlah.." jawab Tama mengalihkan pembicaraan dan menginjak gas maju.

**

"Ma, dedek mau punya pacar kayak mas." kata suara di seberang sana
"Loh? Gak benci lagi sm mas?"
"Nggak, mas gak jahat ma. Dedek bangga punya kakak kayak mas! Dedek sayang mas."
"Bagus deh, mama senang kalian akur. Besok mama pulang, hati-hati ya kalian bertiga di rumah. Mama lagi dampingin papa nyambut tamu nih, udah dulu ya? Nanti mama telpon lagi."
"Oke ma, bye."
Klik. Telepon di tutup.

facebook, Sunday, 01 August 2010 at 10:56

Andaikan Aku Tahu Lebih Awal

Anak laki-laki itu berlari keluar dg membawa dua puluh ribuan di tangan kanannya. Belum lama ia melenggang masuk ke rumah dg wajah sumringah.
"Tadi mama liat kamu bawa uang mas? Mana?" tanya ibunya.
"Mas kasih ke pengemis tadi, ma." jawabnya enteng lalu ngeloyor ke arah Playstation yang tadi ditinggalkan nya.
"Ma, Dedek pengen kayak mas."
"Kayak mas gimana, sayang?" tanya ibunya pada Kara.
"Jadi orang yg baik hati sm semua orang. Dedek juga nanti mau punya pacar yangg kayak mas.."

**

Percakapan 3 tahun yang lalu itu terus terngiang di kepala Kara hingga ia menyesali kata-kata yang pernah diucapnya itu. Mas Tama, kakaknya tak sebaik yang ia lihat dulu. Hingga pada suatu hari Tama seperti mendapat penerangan dalam hidupnya, Mbak Luna. Sahabat sekaligus pacar yg sering ia bawa ke rumah. Mama sayang dengan Mbak Luna, begitu juga dengan Kara dan adiknya Laras.

**

2 tahun terakhir Kara benar-benar membenci Tama, benci sebenci bencinya!

"Dek, kamu ada PR gak?" tanya Mbak Lu.
"Ada mbak, mbak mau bantu dedek ngerjain?"
"Boleh.."
"Bentar ya mbak," Kara berlari ke kamar dan mengobrak abrik tas yang tadi di pakainya sekolah. Got it! Kara berlari balik ke ruang TV. Sepintas di lihatnya Tama sedang berbaring di kamar dari celah pintu yg di biarkan sedikit terbuka. Dalam hatinya ia merutuki kakaknya, bisa-bisanya lagi ada tamu dia malah baring-baring, enak-enakan di kamar sedangkan ada tamu datang. Untung ini Mbak Lu yang bukan orang lain,
"PR apa dek?" tanya Mbak Lu membuyarkan pikiran Kara.
"Kimia, mbak. Mbak bisa bantu kan?"
"Bisa dong, mana soalnya?"
"Ini nih mbak, dedek gak ngerti kenapa ini bisa jadi gini?"
"Ini sih mudah, dek. Kita tinggal liat angkanya aja, tinggal tentuin deh mana asam mana basa."
"Bukan yang itu, mbak. Itu juga dedek ngerti."
"Trus yang mana?" tanya Mbak Lu lagi.
"Yang ini," tunjuk Kara pada satu soal, "Titrasi, mbak."
"Hmm, kalo Titrasi mas kamu nih yg jago.."
"Glek! Kara benar benar tak habis pikir dg selera humor Mbak Luna, bisa bisanya nyangkutin kimia dg mas? Mas tau apa juga? "Dedek tanya teman aja ya, mbak?"
"Tanya mas gih, mas pinter yg beginian.."
"Mas bobo mbak."
"Bangunin, bilang mbak yg manggil.." Mbak Lu sudah tau kalau tanpa menjual namanya hanya akan membuat mas marah karena terganggu tidurnya.Kara bergerak ragu. Berjalan perlahan ke arah pintu kamar mas. Mbak Lu mengangguk angguk tanda ia meminta Kara menyegerakan niatnya

.Tok.. Tok.. Tok..

Di dorongnya pintu perlahan,"Mas," Kara mundur satu langkah karena gerakan tiba-tiba sang kakak, "Dipanggil Mbak Luna."
"Luna?" sahut mas langsung terjaga.
"Iya, di tunggu di depan ya, Mas..Benar kata mama, Mbak Lu udah kayak pawangnya si Mas. Hanya kata-kata Mbak Lu yg didengerin sama Mas..Belum lama mas keluar kamar dg wajah yang baru dibasahi oleh air.
"Ada ap, Lu?"
"Nih, titrasi. Ajarin dedek.."
"Males." jawab Tama pendek.
"Kalo gitu ajarin aku aja deh, ntar aku yg ngajarin dedek." bujuk Luna.
"Hmm," Tama memandangi soal itu, berfikir. "Pen!" pintanya pada Kara, ia mencorat coret kertas kosong di sisi soal. Ia tersenyum, "Nah gini." tunjuknya pada Luna.
"Jadi daritadi cuma aplikasi rumus ini, yank?" tanya Luna.
"Tepat sekali!" jawab Tama sambil menjentikkan jari, pertanda itu merupakan hal kecil baginya.Mas Tama hebat batin Kara, ia tak menyangka di balik sifat jahatnya ternyata ia punya kepribadian yg menarik.Tak lama setelah itu, Tama bangkit & kembali ke kamar tidurnya."Aku tidur lagi ya, Lu?" pamitnya pada Luna.
"Iya, tapi jangan lama-lama. Jam 4 aku udah harus pulang."
"Oke sayang.."

be continued to Part II

facebook, Saturday, 31 July 2010 at 23:55

Alya & Fahri

Siang itu mereka duduk berhadapan dibawah pohon dengan meja kecil diantaranya, dialasi kain kotak kotak merah putih mereka besantai sambil bercengkrama.

"Aku percaya kok sama kamu." Fahri memancing pembicaraan.
"Hmm? Apa?" sahut Alya sambil mengunyah pisang, gak nyambung. "Waktu itu aku pernah baca sms di hp kamu, trus temenku bilang pesan itu gak wajar, jadi setelah hari itu aku ada nguntitin kamu diem diem."
Uhuk uhuk, Alya tersedak dengan pisang yg ia makan. Lalu oleh Fahri, ditepuknya punggung Alya dan berserakanlah pisang pisang halus itu di sisi Alya. Wajah Alya cemberut, jelas bukan karna efek tersedak tadi, tapi..
"Kenapa kamu mukulin punggung aku?"
"Kenapa, Ya? Sakit?" tanya Fahri khawatir.
"Sayang pisangnya kebuang." rengek Alya.

*jeger*

Fahri menggeleng, melanjutkan ceritanya tanpa menghiraukan Alya yang masih membersihkan pisang halus tadi.
"Lalu," lanjut Fahri, "Aku ngerasa bersalah gak percaya sama kamu." Alya masih sibuk mengelap kain alas mereka duduk. "Aku salah besar, tenyata aku gak kenal kamu."
"Emang kapan sih kamu ngikutin aku?" tanya Alya.
"Waktu kamu ke percetakan,"
"Ooh, waktu yg aku pergi sama Kiki?"
"Iya, kamu juga ada beli sepatu kan?"
"Kamu tau sedetil itu? Kamu liat aku darimana sih?"
"Kata Alif sm Farah, kebetulan mereka juga ada disitu."
"Oh, iya aku juga ada ketemu mereka. Jadi?"
"Jadi apa?"
"Masih mau nguntitin aku?"
"Nggak!"
"Kamu belum bilang kenapa harus nguntitin gituan, kamu juga tadi bilang kamu gak kenal aku. Jelasin.." rengek Alya.
"Susah ngejelasinnya, Ya. Aku bingung mau mulai darimana."
"Terserah mulainya darimana, mau dijelasin pake kalimat paling berantakan aku juga ngerti kok. Cepetan!"
"Hm, jadi hari itu aku ketemu Maesa, dia bilang ada baca sms di hp kamu, ntah dari siapa trus dia nakutin aku kalo itu dari cowok lain. Jadi ya aku sampe curigaan sama kamu."
"Hahaha," tawa Alya pecah, "Kamu tuh ya, udah juga kamu yang suka ngelarang larang aku temenan sama teman teman cowok, kamu juga yang takut. Aku mana pernah smsan atau apa sama teman cowok lain, itupun paling hanya sekedar Dani yang suka nanyain pelajaran, kamu juga tau.. Hahaha.."
"Iya, makanya kubilang tadi, aku berlebihan. Aku kan khawatir juga sama Razo, Azki ataupun Evan. Kamu lumayan dekat sm mereka."
"Apaan sih, mereka teman temannya Westy kali, aku sama sama mereka juga kalo ada Westy. Kamu berlebihan deh, Sayang."
"Aku juga ngerasa salah suka gak ngerespon kalo kamu bersikap manja, aku gak terlalu suka kamu yang gitu."
"Iya, gapapa kok."
"Seharusnya aku bisa terima kalo kamu emang manja, toh nyatanya kamu lebih dekat sm teman teman kamu daripada aku. Kamu malah make topeng dihadapan aku, bukannya malah nunjukin aslinya kamu."
"Abisnya kan kamu gak suka aku manja? Kamu suka bilang 'Bising' atau apapun lah itu yg buat hati aku sakiiit banget waktu dengarnya, jadi sejak itu aku males manjaan sama kamu."
"Hehe, maaf.."
"Maaf maaf.. Nih bukain dulu." omel Alya sambil mengulurkan botol susu Frisian Flag jumbo, Alya memang maniak susu. Berlaku untuk jenis apapun.
"Nih," botol susu kembali ke tangan Alya, "Udah dimaafin kan?"
"Udah," sahut Alya sambil meneguk susu coklatnya.
"Aku harus nerima kamu apa adanya. Manjanya kamu, childishnya kamu, cengengnya kamu. Meskipun itu bukan maunya kamu, aku mikir aja mungkin itu cara kamu untuk menarik perhatian aku, aku juga bangga kok sm kedewasaan kamu, kesabaran kamu ngadepin aku yg emosian, kamu hebat bisa jadi kakak, adik, mama, guru privat sekaligus pacar yang hebat di mata aku."
"Ah, kamu lebay. Masa aku jadi mama kamu juga?"
"Kamu nih lagi dipuji juga."
"Iya, aku senang dipuji. Tapi aku jadi malu."
"Trus?"
"Susunya tumpah, hehe."
"Ckck, gak ada yang gak tumpah!"
"Maaf sayang.."
"Maaf maaf.. Bersihin dulu.."
"Ih jahat, main balas balasan.."
Alya menungkupkan kedua tangan dan kepalanya keatas meja, merajuk.
"Alah, gitu doang merajuk, pendek tongkeng!"
*diam, hening*
"Ya, kamu nangis?"
"Iya." sahut Alya parau.
Bergegas Fahri mengelap tumpahan susu yang setengah kering karena lama dibiarkan.
"Ya.." panggil Fahri.
"Hmmm." sahut Alya.
"Udah aku bersihin, kamu jangan nangis lagi."
"Aku gak nangis kok week " ejek Alya setelah mengangkat kepalanya, ia berlari.
Fahri pun bangkit berkejaran dengan Alya.


Dunia seolah serasa milik berdua dibuat mereka.
Etcieeee~
"Memang seharusnya aku lebih percaya sm kamu, Ya."
#Fahri

it has been 3 years, happy silent day, coffee :)

facebook, Saturday, 31 July 2010 at 05:37

REVARIO

Siang itu di selasar, sepulang sekolah. Revo dan Vario belum juga kunjung pulang ke rumah. Mereka masih menikmati tontonan futsal gratis di lapangan besar di hadapan mereka.
"Yeah gol lagi!" ucap Vario yang sedari tadi heboh. "Aku selalu suka tuh cowok yang jago main bola." katanya polos, memandang sekilas ke arah Revo lalu ke lapangan.
"Aku gak terlalu hebat main bola."
"Trus?"
"Kamu gak suka aku dong?"
"Ya, gak gitu juga sih. Tadi kan aku bilang aku suka yang kayak gitu, bukan berarti yang nggak kayak gitu aku gak suka."
"Hm, bagus deh kalau gitu. Hehe." suara Revo terdengar lega sambil sedikit cengengesan.
"Emang kamu suka sama aku? Ngada-ngada ih." Revo tertawa hambar mendengar perkataan Vario barusan. Perempuan satu ini memang tidak peka, batinnya.

Bukan Pertanyaan Untuk di Jawab

"Kenapa? Kamu belum jawab.."
"Karena.."
"Kenapa harus tergagap jika alasanmu jelas Arjuna?"
"Alasanku jelas Dewi, tapi kau tak mungkin kan senang mendengarnya.."
"Ah kau selalu berpikiran seperti itu, aku DewiMu Arjuna, seperti apapun kau mengecewakanku kau tahu aku takkan bisa pergi darimu."
Arjuna bimbang. Pilihan hanya berkata yang benar atau berbohong. Diam bukan bagian dari opsi kali ini.
"Bagaimana jika aku bilang aku sudah di jodohkan oleh ibuku?"
"Baru dijodohkan bukan? Mengapa aku harus tidak senang? Sudah kubilang aku percaya kamu, Mas. Seutuhnya."
"Jika kubilang sudah tak dapat di tangguhkan?"
"Aku bisa berkata apa? Toh jika itu balasan kesungguhan cintaku, ya sudahlah, kau yang menentukan Arjuna. Selalu dirimu."
"Kau pasrah Dewi. Tidakkah kau coba mempertahankanku? Atau memperjuangkanku?"
"Ini bukan masalah pasrah tidaknya aku, Mas. Tapi kau sendiri tidak memperjuangkan cinta kita di hadapan Ibumu, untuk apa aku berusaha untuk yang orang tidak mau?"

facebook, Friday, 24 September 2010 at 22:22

Silent Love

"Nih liat deh, Din.." berapi-api Airin menyerahkan ponsel qwerty-nya kepada Dinda.
"Apaan?" tanya Dinda masih menyantap nikmat ayam goreng di hadapannya.
"Nih, liat dulu makanya!" ponsel diambil dari tangan Airin.
Uhuk uhuk.. Dinda terbatuk menahan ayam yang menari indah di kerongkongannya. Airin menyodorkan es teh jahe kepada Dinda. Untuk di minum.
"Apaan sih?" tanya Lily dan Dessi hampir bersamaan.
"Nih, kalian liat nih!" Dinda gantian menyodorkan ponsel ke mereka berdua.
"Apanya?" tanya Tami.
"Itunya, Ta. Status." jawab Airin ditengah kunyahannya. Semua melongok ke layar ponsel Airin. Satu persatu dari mereka menunjukkan simpati personal.
"Ah cari aja lagi, Din!" cetus Dessi.
"Kamu tuh cantik, Din dia gak ada apa-apanya. Kamu pasti bisa deh dapat yang lebih dari dia." hibur Lily.
"Huahahahaaaa-" tawa meledak dari Tami. "Sukurin lo!" ledeknya.
"Kalian nih ya dasar perempuan! Gitu aja diributin. Gak penting tau gak? Dinda juga, Din, udah gue bilangin kamu tuh harus bisa bedain, dia bukan siapa-siapa kali?" kata Satria yang sedari tadi asyik makan tiba-tiba angkat suara.
"Lagian, aku emang gak suka dari awal. Kan udah dibilangin dia itu gak bisa dipercaya. Hahahahaa." Tami masih tertawa.
"Tapi.."
"Udah deh, Din, gak penting sama cowok gituan.." sambung Dessi.
"Kalian nih ya, paling seneng kalo Dinda teraniaya. Kasih dia kesempatan ngomong kek, bela diri atau apa.." potong Lily.
"Ssst diam.. Dinda mau ngomong." kali ini Airin yang bicara.
"Emmm.."
"Yah, gak ngomong.." Airin lesu.
"Gimana mau ngomong coba, Rin? Terkejut gitu juga." Tami bersuara lagi. Masih dengan nada mengejek.
"Udah udah. Sekarang gini deh, Din, alasan kamu nunjukin itu status ke kita apaan?" Satria menengahi.
"Emmmm.."
"Yah, masih amm emm aja nih." celutuk Tami resek.
"Aku cemburu, Ta.." jawab Dinda nyaris terdengar seperti cicitan.
"Hahahaha-" semua serempak tertawa. Tidak ketinggalan dengan menggebrak meja dan menghentakkan kaki tentunya. Dinda hanya bisa diam. Menunggu sampai mereka berhenti menertawainya. Selalu begitu, memang selalu Dinda yang menjadi objek tertawaan di kelompoknya. Karena Dinda, si bungsu yang pada kenyataannya memang merupakan yang paling manja.
Setelah sekian menit, tawa mereda. Lily tentu saja berhenti terlebih dulu karena merasa tidak nyaman. Dinda menunduk.
Hujan mengguyur warung tempat mereka makan.

***
Pagi itu cuaca cerah sekali. Ben turun awal ke sekolah. Sesampainya di sekolah, sepi. Ternyata memang banyak siswa yang datang tepat waktu, seperti yang biasanya ia lakukan. Ia tertawa sendiri melihat sekelebat bayangan itu di ujung koridor dengan sudut matanya. Tanpa menoleh ia yakin itu Dinda. Dilewatinya begitu saja meski ada kuat hasrat untuk disapa lebih dulu.

15 menit sebelum bel masuk.

Dinda menyambangi kelasnya untuk bertemu Lily. Dari percakapan mereka didengarnya Dinda baru saja datang dan hampir saja terlambat karena ban sepeda motornya tadi sempat bocor dalam perjalanan ke sekolah. Lalu siapa yang dilihatnya tadi?
Ketika guru lengah ia melempari remasan kertas kepada Lily yang duduk persis di depannya.
"Ly, Lily!" desisnya.
"Apaan?" Lily menoleh.
"Mau nanya dong.."
"Tanya bapak aja deh, aku belum ngerti nih.."
"Bukan tentang pelajaran. Ini tentang rasa."
"Ih jorok banget sih! Masih pagi tau?"
"Ih dasar cewek mesum pikirannya kemana-mana. Eh beneran amu nanya nih."
"Iya iya deh, sok atuh tanya.." Lily mulai geram.
"Pernah ngerasain semacam fatamorgana? Tapi bukan di padang pasir.."
"Hah? Maksudnya?"
"Ya, semisal ngerasa ngeliat orang gitu padahal orangnya gak ada?"
"Hm, sering! Sama si Andro itu.." Andro, kekasih yang dua tahun lalu meninggalkannya karena kecelakaan.
"Nah, itu kenapa ya?" tanya Ben menggebu-gebu.
"Rindu." jawab Lily sebelum membalikkan badannya. Singkat, padat, mengena.
"Oh, makasih." Ben tidak lagi sanggup berkata-kata.

***
Dalam diam mereka berpandang.
Dalam diam mereka bertegur.
Sangat halus tersembunyi dari pendengaran yang lain.
Tanpa pernah terucap tapi jelas sayatannya.
Tatapan satu sama lain seperti mata pisau yang haus membunuh.
Tampak jelas tidak rela satu atau yang lain untuk hidup lebih lama, tanpa satu lain.

***
Tanpa mereka sadari, mereka sama-sama merasakannya. Cemburu. Rindu.

***
Nb: saling cinta mungkin? Tidak pernah ada yang tahu pasti. Sekalipun bagi mereka yang terlibat di dalamnya.

what we call this? Love?
facebook, Friday, 24 September 2010 at 21:38

Bukan Kembar

"Kembar ya?" tanya Kasir di kassa 2 kepada Diandra dan Tata yang sedang menunggu giliran mereka di Kassa 1.
"Bukan.." jawab Tata senyum-senyum. Kasir itu membuang rasa penasarannya dengan melanjutkan kewajibannya menyelesaikan antrian.
"Ini, kamu yang bayar." Tata memberikan dompetnya kepada Diandra.
"Sini." kata Diandra sambil mengambil dompet dari tangan Tata. "Berapa Mas?" tanyanya.
"Empat puluh tujuh ratus rupiah.." jawabnya sambil senyum-senyum melihat Diandra dan Tata. Dilihatnya lekat. Serupa.
"Ini ya, Mas.." Diandra mengangsurkan selembar lima puluh ribuan ke meja kasir.
"Mbak, kembar kan!" masih penasaran, kasir tadi bertanya lagi setelah selesai melayani pelanggan yang baru saja membawa nampannya pergi.
"Iya Mbak.." jawab Diandra menoleh dari ponselnya.
"Tuh kan!" sahutnya puas sambil menjentikkan jari.
"Yang mana yang kakak?" tanya kasir yang sedang melayani mereka sambil memberikan uang kembalian.
"Pasti yang ini.." tunjuk kasir di sebelahnya pada Diandra.
"Hehe tau aja." jawab Diandra sekenanya sambil menahan tawanya.
"Iya, dia kakaknya.." Tata masih menahan tawa sambil melirik usil ke arah Diandra. Belum lama setelah itu nampan berisi pesanan mereka siap dan diletakkan diatas meja kasir. Setelah mengucapkan terima kasih mereka pergi membawa nampan ke meja makan.
"Mbak kembar!" mereka menoleh, kasir yang pertama memanggil mereka. "Sering-sering makan disini ya!" ucapnya.
"Ah, asal ada gratisan aja Mas." sahut Tata lalu tertawa. Mereka bukan kembar.

facebook, Friday, 22 October 2010 at 20:10

Ternyata Bukan Dia

Sekilas terpandang ketika tanpa disengaja mata kami saling bertemu. Kutoleh balik arah pandangku ke depan. Familiar. Dadaku terasa hangat sesaat tadi, kutoleh sekali lagi. Bukan. Itu bukan dia. Itu saudara kembarnya.

facebook, Friday, 22 October 2010 at 20:45

Semalam untuk Selamanya

Dia Marissa. Mereka biasa memanggilnya Icha. Mereka? Para sahabat yang selalu menguatkannya Witya, Kika dan Raffi. Masa-masa labilnya sangatlah jauh dari kata baik. Ayah dan ibunya bercerai ketika Marissa berusia lima belas tahun yang saat itu duduk di kelas X SMA. Dia tumbuh sebagai pribadi yang sulit percaya dan sulit berinteraksi dengan orang lain. Ia menjadi seseorang yang menyebalkan dengan segala kata-kata pedasnya. Hanya mereka yang berusaha membuatnya kembali ceria, sedang yang lain mendekati hanya untuk memanfaatkan.

Berbulan-bulan muak ditahannya hingga Rabu itu ia memutuskan pergi dari rumah. Ingin melepas bebannya, pergi dari segala tekanan yang menderanya.Dengan berbekal uang yang diambilnya di ATM, dia nekat pergi dan berencana menginap di hotel yang terletak di pinggiran kota. Disana memang setengah harga dari hotel-hotel di tengah kota tapi disanalah Marissa mendapat salah satu pelajaran berharga.

Menunggu giliran dipanggil resepsionis, Marissa memandang ke sekelilingnya. Tidak terlalu buruk. Tempatnya bersih dan jauh dari suara bising kendaraan. Dia akan tenang disana, pikirnya. Tidak jauh darinya terlihat seorang gadis seumurannya menangis menggedor-gedor pintu mobil merah yang perlahan maju meninggalkannya duduk sendirian di hall hotel, menangis tersedu memegang perutnya.
”Kenapa, Mbak?” tanya Marissa mendatanginya. Ia masih menangis dan tidak menggubris Marissa.”Mbak..?” panggil Marissa lagi lalu menengok ke depan wajahnya.
”Saya belum makan, Mbak..” masih memegang perutnya meringis, ”Itu yang ada di dalam mobil tadi Ayah saya... Saya..” ia terlihat seperti tidak sanggup melanjutkan ceritanya lalu terus menangis. Marissa iba melihatnya. Mereka sama-sama sebatang kara saat ini yang berbeda hanyalah Marissa membawa serta sejumlah uang di sakunya.
”Mbak, kamarnya sudah siap.. Apakah mau sekalian dibawakan ke atas barang-barangnya?” resepsionis yang sibuk tadi lalu menyusulnya ke hall.”Iya, Mbak.. Sekalian aja dibawa ke atas.. Kuncinya saya tinggal di resepsionis aja ya? Saya ada urusan sebentar..” pamit Marissa lalu menggandeng gadis yang menangis tadi pergi. Marissa membawanya ke warung nasi di sekitar hotel dan mereka saling membagi cerita disana. Gadis itu bernama Rika. Rika bercerita bahwa ia pergi dari rumah dan tadi bertemu ayahnya. Ia ditampar habis-habisan karena menolak diajak pulang. Lain Marissa, lain Rika. Rika pergi dari rumah karena ia ingin fipergi dari ayahnya yang tempramen. Bahkan ia bercerita beberapa bulan yang lalu ibunya meninggal di tangan ayahnya sendiri, sungguh tragis.
”Wajarlah alasan kamu, Ka.” kata Marissa menyelesaikan kunyahan sambil menyeruput es tehnya.
”Iya, wajar. Menghindarkan Bapak dari dosa karena membunuhku.” jawab Rika enteng sambil menaikkan sebelah kakinya ke kakki yang lainnya.
”Kamu kenapa nggak ngelapor ke polisi sih?” tanya Marissa menyelidik.”Apa kamu tega ngelihat bapakmu di penjara karena ulahmu? Gak akan, Sa..” kali ini ia sambil mencongkel sisa-sisa makanan yang tersangkut di giginya.
”Emm, iya juga sih.. Apa bedanya bapak kamu sama pembunuh? Bapakmu kan yang membunuh ibumu?” Marissa menepuk jidatnya setelah menyelesaikan kata-katanya barusan. Bicaranya tidak pakai dipikir, pasti Rika tersinggung.”Ya, pembunuh sih pembunuh tapi tetap aja gak tega, Sa.. Gimana pun orang tua sendiri..” jawab Rika bijak tanpa melihatkan mimik tidak nyaman sekalipun. Belum lama estela menyelesaikan kata-katanya terdengar kumandang adzan maghrib.
”Yuk!” Rika menarik lengan Marissa keluar.
”Eh, tunggu, Ka. Aku bayar makanan dulu..” lalu Marissa masuk lagi ke dalam warung dan membayar makanan mereka. ”Kita mau kemana?” tanya Marissa masih terengah menyusul Rika yang sudah berpuluh langkah darinya.
”Solat, kamu solat kan?” tanya Rika lalu meninggalkannya yang mematung ke tempat wudhu.
”Iya,” jawab Marissa ragu, diam di tempatnya. Lalu, ” Ya! Aku solat!” jawabnya mantap dan ini lalu dilihatnya Rika tersenyum.Malamnya Marissa kembali ke hotel dengan perasaan tak menentu. Terlintas pikiran buruk takut-takut ayah atau ibunya memaksanya pulang dengan menamparnya. Mobil si sisi surau tadi. Banyak hal yang membuatnya galau malam ini, pikiran seseorang yang dalam pelarian. Ia sampai ke kamarnya dan merebahkan tubuh ke penidurannya.Satu yang benar-benar mengganggunya ketika berpisah tadi, Rika mengatakan sesuatu padanya ’Bicaramu kadang agak susah dimengerti, Marissa. Tapi terkadang juga amat tidak nyaman didengar..’. Ia terlelap.

**

Esoknya, ia terbangun karena layanan telepon hotel di kamarnya berdering. Masih separuh sadar ia mengangkat asal gagang telepon yang terletak di samping tempat tidur,
”Aloo..Huaaaah..” sahutnya seakan tidak peduli.
”Selamat Pagi, Kostumer kamar nomor dua satu enam atas nama Marissa, benar?” terdengar suara manis resepsionis di telinganya.
"Iya, ini Marissa. Ada apa?” tanya Marissa kini sudah duduk di sisi tempat tidur sambil mengucek matanya.
"Ini ada yang mencari, Mbak..” gagang itu bersuara lagi.
"Siapa?” tanyanya heran. Aneh, sudah ke tepian ini masih ada yang mencarinya. Pasti Rika, pikirnya.
”Dua orang perempuan dengan satu orang laki-laki, Mbak.. Siapa, Mas tadi namanya?” tanya resepsionis pada tamu Marissa.
“Raffi, bilang Marissa ada Raffi di bawah.” terdengar suara berat di balik gagang telepon dari bawah, Raffi. Pasti Raffi, duanya lagi Witya dan Kika. Panik, Marissa menjejalkan segala bawaannya masuk ke dalam ransel merah kesayangannya. Dibiarkannya begitu saja gagang telepon menggantung dari badannya. Dipakainya jaket dan sepatu. Hari masih sejuk, masih pukul empat. Dikeluarkannya sejumlah uang untuk di sisi telepon, uang pembayaran sewa hotel satu malamnya.Dasar seorang Marissa adalah jagoan, ia menyusuri tepi dinding jendela kamarnya dan melompat masuk ke sisi lain hotel. Lalu keluarlah ia dari gerbang belakang hotel dengan menahan dingin yang menusuk tubuhnya.

Ia bersedekap menahan dingin dan melanjutkan berlari. Berarti memang mobil mereka yang dilihatnya di sisi surau semalam. Marissa terus berlari dan masuk ke ruangan gelap yang sesak dengan barang-barang dan debu. Ia melanjutkan tidurnya diatas drum di sudut ruangan.Sampai matanya terbuka lagi menyadari hari sudah pagi dan beberapa pasang mata kepala dan tubuh memandang diatasnya. Para pekerja pabrik penyimpanan barang itu. Ribut membicarakannya dan memperhatikannya takjub. Setelah memohon diri dan meminta maaf Marissa keluar dari ruangan itu dengan santai. Ditolehnya ke belakang para pekerja sibuk dengan urusan nya masing-masing, lalu dikejarnya waktu.

Dalam pelariannya ia menertawakan hari keduanya, sungguh bodoh ia tanpa segala yang biasa sudah tersedia. Perlahan-lahan ia menghentikan langkah di dekat warung makan di tepi kali. Diingatnya terakhir makan kemarin bersama Rika. Pantas perutnya terasa lapar sekali. Dipanggilnya penjaga warung itu dan minta dilayani. Kenyang. Marissa melanjutkan pelariannya. Makin jauh ia berjalan, semakin jelas letih yang dirasakannya. Ia hampir menyerah hari ini kalau saja hari itu tidak hujan.

Inilah indahnya rekayasa Tuhan, Marissa ditemukan dengan seorang pedagang ember keliling yang kebetulan juga sedang berteduh di sudut kecil emperan toko. Awalnya mereka hanya saling tersenyum kepada satu sama lain. Sampai akhirnya pedagang itu membuka pembicaraan,
”Mau kemana, Neng?”
”Gak kemana-mana, Pak. Abis jalan-jalan.”
”Si Eneng pergi dari rumah ya? Kenapa neng? Kalau di rumah eneng pasti gak kehujanan gini..” tanyanya tepat pada sasaran. Marissa hanya terdiam. ”Si Eneng bagusan mash pulang ke rumahnya, pasti ibu sama bapaknya nyariin atuh neng..” kata pedagang itu lagi dengan logat Sundanya yang kental.
”Iya, Pak. Saya juga mulai gak betah jauh dari rumah. Ternyata saya butuh mereka.” tunduk Marissa menahan airmatanya. Pedagang itu tersenyum.
”Ichaaaaaaaaaaaaa..’ teriak Kika dari kejauhan berlari dan memeluknya disusul Witya dan Raffi di belakang menadah hujan dengan tangan di atas kepala mereka.
”Ngerasa hebat jadi ‘most wanted’?” Tanya Witya sambil bercekak pinggang. ”Kemana aja?” sambungnya lagi.
”Hehe.. Aku berpetualang, yah gak ekstrim sih tapi banyak pelajarannya..” jawab Marissa membela diri.”Pelajaran apa? PKn? Agama? Ekonomi? Atau apa?” tanya Witya tidak sabaran.
”Ya, ada semuanya tuh yang kamu sebutin. Aku jadi tau gimana caranya ngomong sopan sama orang lain, aku juga udah tau kalau ternyata solat juga penting sama aku juga tau kalo harga ayam mahal, jadi kalau mau makan murah ya tahu tempe aja.” jawab Marissa cengengesan, Katya semakin erat memeluknya. ”Keren kan?” tanyanya kepada tiga lainnya.
”Bodoh!” kali ini Raffi yang bersuara lalu menoyor kesal kepala Marissa yang disambut dengan manyun manja dari bibir Marissa.
”Iish..” sentak Witya pada lengan Raffi menjauhkan tangannya membela Marissa.
”Eh, kok kalian tau aku disini sih?” tanya Marissa lagi.
”Tau dong, kita kan sahabat!” jawab Witya lantas juga memeluk Marissa.
”Eh, udah pelukannya, aku kehujanan..” protes Raffi yang disambut tertawa yang lain karena Raffi memamng benar-benar berdiri langsung di bawah hujan. Tempat sempit tadi otomatis melindungi Witya dan Kika dari hujan karena mereka memeluk Marissa. Tinggallah Raffi kehujanan tanpa ada atap yang melindungi.
”Raffi kenapa? Iri ya? Sini.. Sini..” ejek Marissa membentangkan kedua tangannya seolah mau memeluk.
”Dasar! Maunya!” bisik Witya dan Kika hampir bersamaan di telinganya. Rahasia Marissa yang satu ini memang tersimpan aman bersama pelukan mereka bertiga.Tiba-tiba Marissa melepas pelukannya dan menyeruak berteriak riuh di bawah hujan.
”Ayo! Sini semuanya!” lengkingnya sambil menari-nari di bawah hujan.
”Hey, ngapain disitu? Ntar sakit.” Raffi menarik lengannya. Marissa memberontak.
”Witya, Kika sini! Masa tega sih ngebiarin Raffi kena hujan sendirian?” teriaknya menunjuk Raffi di sampingnya. Witya dan Kika berpandangan. Ekspresi mereka sama-sama menggambarkan penolakan mereka untuk berhujan. ”Katanya sahabat?” teriak Marissa lagi. Kalimat andalan.Menyingsing ransel Marissa, Witya menyusul Kika mengejar Marissa dan Raffi. Tiba-tiba langkah Marissa terhenti. Ia memutar arah larinya ke tempat berteduh tadi.
”Kenapa?” tanya Raffi ikut menoleh.
”Mau ngucapin makasih sama..” ditolehnya ke belakang bapak pedagang tadi sudah tidak ada.
”Siapa?” tanya Witya.
”Emm.. Tadi ada liat bapak-bapak gak disitu sama aku?” tunjuk Marissa ke tempatnya tadi berteduh?
”Nggak, nggak ada siapa-siapa kok daritadi..” jawab Kika.
”Beneran?” tanya Marissa meyakinkan.
”Iya..” jawab ketiganya serempak.
”Waaaaaaa hantuuuuuuu!” kocar kacir mereka semua berlari menuju mobil Raffi.

..to be continued

Sunday, 14 November 2010 at 10:48
nulisbuku, facebook

Sajak Cinta Alya

Bagiku tidak masalah bagian siapa yang muncul duluan. Bagian siapa yang tertulis lebih dahulu. Toh, kita tetap dalam satu cerita bukan? Hanya tidak akan merubah apa-apa. jika memang ditakdirkan bahagia, bahagialah. Jika ditakdirkan sengsara, semoga kita tetap dapat berbahagia di dalamnya.

"Yuk, pulang.." ajak Fahri menyentuh pundakku.
"Tapi Fahri.."
"Ah yuk ah, daripada nulis-nulis gak jelas gitu di buku?" tunjuk dagunya kearah sajakku di sampul buku matematika.
"Ahh Fahri ngintip!" kataku lalu memukul lengannya dengan buku yang kupegang, ia kabur berlari ke arah parkiran. Kumasukan buku ke dalam tas dan bergegas mengejarnya ke parkiran. "Fahri!! Tunggu pembalasanku.." teriakku dari jauh yang ditanggapi dengan ejekan di wajahnya yang semakin menjadi. Bagian ini yang aku suka. Bagian aku yang selalu mencintainya.

facebook, Dec 7th 2010

Sunday, March 27, 2011

hari keempat uas

Hari ini, setelah tadi malam gak bisa bangun dari tempat tidur, ngerayau sama westi ke;
1. Dunkin donuts
2. Pizza Hut
3. Rumah Bersalin Harapan Bunda
Haha ngapain ke RB? Kak Ici melahirkan.
Trus setelah numpang p*p, belajar buat UAS TIK besoknya, makan donat, kita pulang :D
Intinya sih tekor ya hari ini wkwk

Saturday, March 26, 2011

random

Happy 15th monthsarry, Westi sama Rudi pacarnya. Semoga benaran bisa langgeng sampai selama-lamanya :3
Sekamat hidup dengan banyak teman juga buat aku, semoga selama-lamanya punya teman-teman.
In fact, aku udah gak terlalu ngebet nikah.. Gak tau kenapa. Mungkin pengaruh mau UAN ini juga kali ya? Kuliah bla bla bla bla dan sebagainya. Ntar juga akhirnya kepikiran kesitu lagi ah.
Hmm, aku ngerasa flat akhir-akhir ini. Gitu-gitu aja. Malah bagus sih jarang badmood tapi ya gitu deh jadi ngeraaa flat gini. Maunya ada heels sedikit, loh ngomongin sepatu? Maksudnya ada apanya gitu. Aku kan menghindar dari keramaian akhir-akhir ini, itulah kali ya penyebabnya. Makanya suka ngerasa sepi? Tapi aku mulai biasa kok. Toh teman-teman atau pun siapapun lagi sibuk sama dirinya sendiri pas saat-saat gini. Aku sih gak bisa marah atau maksa mereka buat ada. Kalau memang jodoh maksudnya benar-benar baik pengen temanan sama aku ya mereka balik lagi kok :')
Aku sayang sama teman-teman aku.
H-23 menjelang UAN.
Ayu.

Alyami

"Hey!" sapa Almi menepuk pundak Alya yang sedang duduk di teras depan kelas.
"Hmm.." sahutnya tanpa menoleh.
"Ngeliat apaan sih? Seru amat?" selidik Almi melihat lurus tatapan Alya lalu menoleh ke arahnya. "Loh? Loh? Kamu nangis lagi, Ya?" teguran Almi barusan tak digubris Alya. Air matanya makin tak terbendung. Senggukan Alya menangis tanpa suara. Almi yang salah tingkah melihat sahabatnya merangkul Alya lalu duduk di hadapannya. "Kenapa, Ya? Cerita ya?" bujuk Almi.
"Hmm.." Alya mengangguk dengan suara bergetar menahan tangis sambil mengatur nafasnya. "Fahri, Al.." akhirnya Alya bersuara.
"Fahri lagi? Oke, kenapa dia?" tanya Almi mulai terpancing emosinya.
"Kamu jangan marah-marah nanggepinnya. Aku gak jadi cerita nih."
"Iya, iya. Fahri kenapa, sayang?" tanya Almi lembut seraya membelai lembut rambut Alya.
"Dia jahat!"
"Emang jahat kan? Trus?"
"Tuh kan, Almiiiiii! Fahri gak jahat!" sontak suara Alya mengeras dan dengan segera teredam oleh bekapan tangan Almi. Setelah adanya tolehan dari beberapa yang juga duduk di sekitar melihat ke sumber suara yang ditanggapi dengan senyum permohonan maaf dari Almi.
"Woy, gak pake teriak-teriak bisa kan? Diliatin tuh." kata Almi mengingatkan.
"Abisnya tadi kamu bilang Fahri jahat." bela Alya.
"Loh? Tadi yang duluan bilang Fahri jahat siapa ya?" tatap Almi sinis.
"Iya, aku, tapi cuma aku yang boleh bilang Fahri jahat.." rengek Alya.
"Iya deh, terserah. Emang si Fahri itu kenapa lagi sih?"
"Dia jahat.."
"Hmm.."
"Dia gak mau ngantar aku pulang.."
"Hmm.."
"Tapi dia sempat pergi sama Derby.."
"Hmm.."
"Malemnya dia ke rumah aku sih.."
"Hmm.."
"Kalo males sama aku males aja, Al. Gak usah datang-datang ke rumah segala.."
"Hmm.."
"Kamu ham hem ham hem daritadi.. Respon kenapa?"
"Mau direspon apa coba?" tanya Almi balik bertanya.
"Why did he supposed to do that?"
"Hmm.." mata Alya membelalak mendengar gumaman Almi. Lalu dijawab Almi dengan tangan ke depan dadanya, tanda ia meminta waktu sejenak. "Gini loh, Ya.. Fahri itu kan pacar kamu. Wajar dia datang ke rumah kamu, mastiin gimana keadaan kamu. Daripada dia bimbang gak jelas, mending dia ngeliat langsung kan?"
"Khawatir gitu?"
"Exactly!"
"Kenapa gak ngantar aku pulang aja sih pas aku benar-benar butuh dan pengen banget diantar pulang sama dia? Emangnya dia gak khawatir aku kenapa napa di sekolah? Dia baru khawatir setelah aku beneran gak ngasi kabar gitu?"
"Pikir positif deh, Ya. Bisa aja dia emang lagi ada keperluan apa gitu jadi buru-buru trus gak sempat nganter kamu.."
"Oke pikir positif.. Kenapa dia gak bilang aja sih sama aku alasan sebenarnya? Kalo gini aku mikirnya kemana mana, Al.."
"Ya gak tau juga.."
"Tuh kan, gimana aku bisa mikir positif, Al?"
"Iya pelan-pelan, Ya. Kamu kan juga udah tau Fahri itu gimana, ya kan? Dia sayang cuma gak bisa nunjukin, Ya. Percaya deh sama aku."
"Dia gak sayang sama aku, Al."
"Hah?"
"Dia suka sama cewek lain apa ya?"
"Gak lah.."
"Hmmm.."
"Iya, nggak. Udah ah, aku mulai ngawur deh ah."
"Emang kok, kalo badmood kamu suka ngawur. Weeek.." ejek Almi.
"Ahh resek." secara refeks tangan Alya terdekat menjambak rambut sepunggung Almi lalu berlari menghindar ke dalam kelas.
"Ahhhh.." teriak Almi kesal mengejar Alya untuk membalas perbuatan isengnya tersebut.

Friday, March 25, 2011

carita el lunn

Aku sedih lagi sore ini. Menangisi kekasih yang sudah mati. Percuma? Ya, tentu saja. Toh, udah gak bakal ada dia lagi.
"Dia udah mati, Yu!" Berkali-kali aku meneriakkan kalimat penyadar itu di depan wajahku. Tapi masih saja aku tak kuasa menahan rindu padanya.
Seolah berharap sewaktu-waktu ia akan mengetuk pintu, datang memelukku rindu di bawah hujan.
Berharap jika suatu kali aku mengirim pesan singkat ke ponselnya, dia datang membawakan makanan lalu menyuapiku.
Berharap jika aku sedang gundah, galau terbawa perasaan takut ditinggal sendirian dia hadir membawa senang, menghadirkan senyum cerianya.
Menyemangatiku, menghidupkanku.
Walau dia sudah tak lagi ada, aku masih saja mencari. Siapa tau ada sosoknya pada yang lain. Tidak ada, ya tepatnya belum ada sejauh ini.
Hmm, kenapa Tuhan ngambil dia begitu cepat? Kenapa Tuhan gak ngebiarin aku bisa lebih lama sama dia? Setidaknya sampai waktu aku siap ditinggal. Gak akan ada waktu siapnya kali ya kalau nunggu siap?
Kadang sempat terlintas pikiran pengen jadi laki-laki supaya bisa berpikir rasional seperti mereka. Mereka tak terbawa perasaan seperti aku sekarang.
Kekasihku sudah lama sekali perginya. Terakhir bertemu awal Januari lalu, selebihnya aku mendapatinya mati, meninggalkan bekas robekan halus di katup jantungku. Begitu halusnya, sampai-sampai harus sering terluka ketika tersentuh, lagi dan terus-terusan entah sampai kapan.
Awalnya aku berpikiran rasanya akan sama saja dengan ditinggal putus cinta atau dikhianati seperti yang sudah-sudah. Tetapi ternyata tidak. Rasanya jauh lebih menusuk, karena sesungguhnya aku jauh lebih tidak siap ditinggal tanpa kembali.
Berkaca dari yang sebelumnya walaupun mereka pergi, mereka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka masih berbagi udara denganku, berbagi space kehidupan bersamaku. Jika sesekali sesak rindu menghampiri aku masih bisa, misalnya sekedar memandangi.
Bagaimana aku?
Ya, masih saja melakukan hal-hal bodoh yang tak pernah kuceritakan pada siapapun karena hanya akan mendapat kecaman jika mereka tau.
Aku membuat beberapa space dimana aku bisa berbicara lepas tanpa ada seorang pun yang memperdulikanku, pembicaraanku tentangnya.
My another twitter account.
Aku hanya tidak ingin membagi jejak jeleknya secara rinci menurut setiap sudut pandangku di mata para followers. Cukup aku yang tau dan tidak ada yang sakit ketika membacanya. Karena jujur saja aku merasa sedih dan kasihan jika ada seorang di timeline yang berujar seperti yang aku coba sembunyikan. Tapi mereka hebat, mereka tidak berusaha menyembunyikan kesedihan. Lain mereka lain aku, aku juga dengan pertimbangan menjaga nama baiknya. Aku juga bukannya butuh dikasihani. Aku hanya akan merasa tidak nyaman hati jika mereka menjatuhkan nilai negatif tentangnya, sedang hanya aku sendiri yang merasa ia demikian. Aku dan marahku. Aku dan cemburuku. Aku dan segala keegoisan dan kekanakanku. Aku sembunyikan hanya untuk aku agar tak seorang pun tahu kecuali kita. Sekarang rahasia itu rapat tak berjejak di bawah tanah bersama nisan batunya.
Bersama kedua sahabat perempuanku, mereka tau aku. Hanya bersama mereka aku pernah melepaskan tawa. Kau bisa menanyai mereka jika aku tak lagi ada. Mereka bisa dipercaya.
Aku tidak tau apa maksud Tuhan mengambil orang yang aku sayangi dengan sangat. Tepatnya satu persatu dari mereka diambil dengan pasti dan tidak untukku lagi. Tetapi aku tetap meyakini secara pasti, suatu hari nanti Tuhan pasti akan mengganti dengan sosok-sosok yang lebih tak tergantikan, pasti!

Tuesday, March 22, 2011

Hari kedua UAS.
Entahlah seperti ada yang memandang dari radius 3 meter.
Aku tidak tau.

Cinta Takkan Salah (Ost Love In Perth) lyrics

Ku kira benar, kau kira salah
Cinta berbeda kita tak sama
Tak pernah searah
Ku bilang iya, kau bilang tidak
Selalu begitu tak pernah setuju
Tak pernah menyatu
Namun ternyata tak pernah ku kira
Di sini kita memulai cerita

Perbedaan jadi tidak berarti
Karena hati telah memilih
Di mataku kita berdua satu
Apapun yang mengganggu
Cinta takkan salah

Ku ingin yang ini, ku ingin yang lain
Coba ‘tuk mengerti, coba ‘tuk pahami
Saling melengkapi
Kini ternyata tak pernah ku kira
Di sini kita memulai cerita

:)

Two Is Better Than One lyrics

Featuring: Taylor Swift

I remember what you wore on the first day
You came into my life and I thought, hey
You know this could be something

'Cause everything you do and words you say
You know that it all takes my breath away
And now I'm left with nothing

So maybe it's true
That I can't live without you
And maybe two is better than one
But there's so much time
To figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone
And I'm thinking two is better than one

I remember every look upon your face
The way you roll your eyes, the way you say
You make it hard for breathing

'Cause when I close my eyes and drift away
I think of you and everything's okay
I'm finally now believing

That maybe it's true
That I can't live without you
And maybe two is better than one
But there's so much time
To figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone
And I'm thinking two is better than one

I remember what you wore on the first day
You came into my life and I thought, hey

Maybe it's true
That I can't live without you
And maybe two is better than one
There's so much time
To figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone

And I'm thinking, ooh
I can't live without you
'Cause baby, two
Is better than one

There's so much time
To figure out the rest of my life
But I figured out with all that's said and done
Two is better than one
Two is better than one




:)