"Nih liat deh, Din.." berapi-api Airin menyerahkan ponsel qwerty-nya kepada Dinda.
"Apaan?" tanya Dinda masih menyantap nikmat ayam goreng di hadapannya.
"Nih, liat dulu makanya!" ponsel diambil dari tangan Airin.
Uhuk uhuk.. Dinda terbatuk menahan ayam yang menari indah di kerongkongannya. Airin menyodorkan es teh jahe kepada Dinda. Untuk di minum.
"Apaan sih?" tanya Lily dan Dessi hampir bersamaan.
"Nih, kalian liat nih!" Dinda gantian menyodorkan ponsel ke mereka berdua.
"Apanya?" tanya Tami.
"Itunya, Ta. Status." jawab Airin ditengah kunyahannya. Semua melongok ke layar ponsel Airin. Satu persatu dari mereka menunjukkan simpati personal.
"Ah cari aja lagi, Din!" cetus Dessi.
"Kamu tuh cantik, Din dia gak ada apa-apanya. Kamu pasti bisa deh dapat yang lebih dari dia." hibur Lily.
"Huahahahaaaa-" tawa meledak dari Tami. "Sukurin lo!" ledeknya.
"Kalian nih ya dasar perempuan! Gitu aja diributin. Gak penting tau gak? Dinda juga, Din, udah gue bilangin kamu tuh harus bisa bedain, dia bukan siapa-siapa kali?" kata Satria yang sedari tadi asyik makan tiba-tiba angkat suara.
"Lagian, aku emang gak suka dari awal. Kan udah dibilangin dia itu gak bisa dipercaya. Hahahahaa." Tami masih tertawa.
"Tapi.."
"Udah deh, Din, gak penting sama cowok gituan.." sambung Dessi.
"Kalian nih ya, paling seneng kalo Dinda teraniaya. Kasih dia kesempatan ngomong kek, bela diri atau apa.." potong Lily.
"Ssst diam.. Dinda mau ngomong." kali ini Airin yang bicara.
"Emmm.."
"Yah, gak ngomong.." Airin lesu.
"Gimana mau ngomong coba, Rin? Terkejut gitu juga." Tami bersuara lagi. Masih dengan nada mengejek.
"Udah udah. Sekarang gini deh, Din, alasan kamu nunjukin itu status ke kita apaan?" Satria menengahi.
"Emmmm.."
"Yah, masih amm emm aja nih." celutuk Tami resek.
"Aku cemburu, Ta.." jawab Dinda nyaris terdengar seperti cicitan.
"Hahahaha-" semua serempak tertawa. Tidak ketinggalan dengan menggebrak meja dan menghentakkan kaki tentunya. Dinda hanya bisa diam. Menunggu sampai mereka berhenti menertawainya. Selalu begitu, memang selalu Dinda yang menjadi objek tertawaan di kelompoknya. Karena Dinda, si bungsu yang pada kenyataannya memang merupakan yang paling manja.
Setelah sekian menit, tawa mereda. Lily tentu saja berhenti terlebih dulu karena merasa tidak nyaman. Dinda menunduk.
Hujan mengguyur warung tempat mereka makan.
***
Pagi itu cuaca cerah sekali. Ben turun awal ke sekolah. Sesampainya di sekolah, sepi. Ternyata memang banyak siswa yang datang tepat waktu, seperti yang biasanya ia lakukan. Ia tertawa sendiri melihat sekelebat bayangan itu di ujung koridor dengan sudut matanya. Tanpa menoleh ia yakin itu Dinda. Dilewatinya begitu saja meski ada kuat hasrat untuk disapa lebih dulu.
15 menit sebelum bel masuk.
Dinda menyambangi kelasnya untuk bertemu Lily. Dari percakapan mereka didengarnya Dinda baru saja datang dan hampir saja terlambat karena ban sepeda motornya tadi sempat bocor dalam perjalanan ke sekolah. Lalu siapa yang dilihatnya tadi?
Ketika guru lengah ia melempari remasan kertas kepada Lily yang duduk persis di depannya.
"Ly, Lily!" desisnya.
"Apaan?" Lily menoleh.
"Mau nanya dong.."
"Tanya bapak aja deh, aku belum ngerti nih.."
"Bukan tentang pelajaran. Ini tentang rasa."
"Ih jorok banget sih! Masih pagi tau?"
"Ih dasar cewek mesum pikirannya kemana-mana. Eh beneran amu nanya nih."
"Iya iya deh, sok atuh tanya.." Lily mulai geram.
"Pernah ngerasain semacam fatamorgana? Tapi bukan di padang pasir.."
"Hah? Maksudnya?"
"Ya, semisal ngerasa ngeliat orang gitu padahal orangnya gak ada?"
"Hm, sering! Sama si Andro itu.." Andro, kekasih yang dua tahun lalu meninggalkannya karena kecelakaan.
"Nah, itu kenapa ya?" tanya Ben menggebu-gebu.
"Rindu." jawab Lily sebelum membalikkan badannya. Singkat, padat, mengena.
"Oh, makasih." Ben tidak lagi sanggup berkata-kata.
***
Dalam diam mereka berpandang.
Dalam diam mereka bertegur.
Sangat halus tersembunyi dari pendengaran yang lain.
Tanpa pernah terucap tapi jelas sayatannya.
Tatapan satu sama lain seperti mata pisau yang haus membunuh.
Tampak jelas tidak rela satu atau yang lain untuk hidup lebih lama, tanpa satu lain.
***
Tanpa mereka sadari, mereka sama-sama merasakannya. Cemburu. Rindu.
***
Nb: saling cinta mungkin? Tidak pernah ada yang tahu pasti. Sekalipun bagi mereka yang terlibat di dalamnya.
what we call this? Love?
facebook, Friday, 24 September 2010 at 21:38
No comments:
Post a Comment
Turn Your Words Become Strawberry Juice!