Anak laki-laki itu berlari keluar dg membawa dua puluh ribuan di tangan kanannya. Belum lama ia melenggang masuk ke rumah dg wajah sumringah.
"Tadi mama liat kamu bawa uang mas? Mana?" tanya ibunya.
"Mas kasih ke pengemis tadi, ma." jawabnya enteng lalu ngeloyor ke arah Playstation yang tadi ditinggalkan nya.
"Ma, Dedek pengen kayak mas."
"Kayak mas gimana, sayang?" tanya ibunya pada Kara.
"Jadi orang yg baik hati sm semua orang. Dedek juga nanti mau punya pacar yangg kayak mas.."
**
Percakapan 3 tahun yang lalu itu terus terngiang di kepala Kara hingga ia menyesali kata-kata yang pernah diucapnya itu. Mas Tama, kakaknya tak sebaik yang ia lihat dulu. Hingga pada suatu hari Tama seperti mendapat penerangan dalam hidupnya, Mbak Luna. Sahabat sekaligus pacar yg sering ia bawa ke rumah. Mama sayang dengan Mbak Luna, begitu juga dengan Kara dan adiknya Laras.
**
2 tahun terakhir Kara benar-benar membenci Tama, benci sebenci bencinya!
"Dek, kamu ada PR gak?" tanya Mbak Lu.
"Ada mbak, mbak mau bantu dedek ngerjain?"
"Boleh.."
"Bentar ya mbak," Kara berlari ke kamar dan mengobrak abrik tas yang tadi di pakainya sekolah. Got it! Kara berlari balik ke ruang TV. Sepintas di lihatnya Tama sedang berbaring di kamar dari celah pintu yg di biarkan sedikit terbuka. Dalam hatinya ia merutuki kakaknya, bisa-bisanya lagi ada tamu dia malah baring-baring, enak-enakan di kamar sedangkan ada tamu datang. Untung ini Mbak Lu yang bukan orang lain,
"PR apa dek?" tanya Mbak Lu membuyarkan pikiran Kara.
"Kimia, mbak. Mbak bisa bantu kan?"
"Bisa dong, mana soalnya?"
"Ini nih mbak, dedek gak ngerti kenapa ini bisa jadi gini?"
"Ini sih mudah, dek. Kita tinggal liat angkanya aja, tinggal tentuin deh mana asam mana basa."
"Bukan yang itu, mbak. Itu juga dedek ngerti."
"Trus yang mana?" tanya Mbak Lu lagi.
"Yang ini," tunjuk Kara pada satu soal, "Titrasi, mbak."
"Hmm, kalo Titrasi mas kamu nih yg jago.."
"Glek! Kara benar benar tak habis pikir dg selera humor Mbak Luna, bisa bisanya nyangkutin kimia dg mas? Mas tau apa juga? "Dedek tanya teman aja ya, mbak?"
"Tanya mas gih, mas pinter yg beginian.."
"Mas bobo mbak."
"Bangunin, bilang mbak yg manggil.." Mbak Lu sudah tau kalau tanpa menjual namanya hanya akan membuat mas marah karena terganggu tidurnya.Kara bergerak ragu. Berjalan perlahan ke arah pintu kamar mas. Mbak Lu mengangguk angguk tanda ia meminta Kara menyegerakan niatnya
.Tok.. Tok.. Tok..
Di dorongnya pintu perlahan,"Mas," Kara mundur satu langkah karena gerakan tiba-tiba sang kakak, "Dipanggil Mbak Luna."
"Luna?" sahut mas langsung terjaga.
"Iya, di tunggu di depan ya, Mas..Benar kata mama, Mbak Lu udah kayak pawangnya si Mas. Hanya kata-kata Mbak Lu yg didengerin sama Mas..Belum lama mas keluar kamar dg wajah yang baru dibasahi oleh air.
"Ada ap, Lu?"
"Nih, titrasi. Ajarin dedek.."
"Males." jawab Tama pendek.
"Kalo gitu ajarin aku aja deh, ntar aku yg ngajarin dedek." bujuk Luna.
"Hmm," Tama memandangi soal itu, berfikir. "Pen!" pintanya pada Kara, ia mencorat coret kertas kosong di sisi soal. Ia tersenyum, "Nah gini." tunjuknya pada Luna.
"Jadi daritadi cuma aplikasi rumus ini, yank?" tanya Luna.
"Tepat sekali!" jawab Tama sambil menjentikkan jari, pertanda itu merupakan hal kecil baginya.Mas Tama hebat batin Kara, ia tak menyangka di balik sifat jahatnya ternyata ia punya kepribadian yg menarik.Tak lama setelah itu, Tama bangkit & kembali ke kamar tidurnya."Aku tidur lagi ya, Lu?" pamitnya pada Luna.
"Iya, tapi jangan lama-lama. Jam 4 aku udah harus pulang."
"Oke sayang.."
be continued to Part II
facebook, Saturday, 31 July 2010 at 23:55
No comments:
Post a Comment
Turn Your Words Become Strawberry Juice!