Saturday, March 26, 2011

Alyami

"Hey!" sapa Almi menepuk pundak Alya yang sedang duduk di teras depan kelas.
"Hmm.." sahutnya tanpa menoleh.
"Ngeliat apaan sih? Seru amat?" selidik Almi melihat lurus tatapan Alya lalu menoleh ke arahnya. "Loh? Loh? Kamu nangis lagi, Ya?" teguran Almi barusan tak digubris Alya. Air matanya makin tak terbendung. Senggukan Alya menangis tanpa suara. Almi yang salah tingkah melihat sahabatnya merangkul Alya lalu duduk di hadapannya. "Kenapa, Ya? Cerita ya?" bujuk Almi.
"Hmm.." Alya mengangguk dengan suara bergetar menahan tangis sambil mengatur nafasnya. "Fahri, Al.." akhirnya Alya bersuara.
"Fahri lagi? Oke, kenapa dia?" tanya Almi mulai terpancing emosinya.
"Kamu jangan marah-marah nanggepinnya. Aku gak jadi cerita nih."
"Iya, iya. Fahri kenapa, sayang?" tanya Almi lembut seraya membelai lembut rambut Alya.
"Dia jahat!"
"Emang jahat kan? Trus?"
"Tuh kan, Almiiiiii! Fahri gak jahat!" sontak suara Alya mengeras dan dengan segera teredam oleh bekapan tangan Almi. Setelah adanya tolehan dari beberapa yang juga duduk di sekitar melihat ke sumber suara yang ditanggapi dengan senyum permohonan maaf dari Almi.
"Woy, gak pake teriak-teriak bisa kan? Diliatin tuh." kata Almi mengingatkan.
"Abisnya tadi kamu bilang Fahri jahat." bela Alya.
"Loh? Tadi yang duluan bilang Fahri jahat siapa ya?" tatap Almi sinis.
"Iya, aku, tapi cuma aku yang boleh bilang Fahri jahat.." rengek Alya.
"Iya deh, terserah. Emang si Fahri itu kenapa lagi sih?"
"Dia jahat.."
"Hmm.."
"Dia gak mau ngantar aku pulang.."
"Hmm.."
"Tapi dia sempat pergi sama Derby.."
"Hmm.."
"Malemnya dia ke rumah aku sih.."
"Hmm.."
"Kalo males sama aku males aja, Al. Gak usah datang-datang ke rumah segala.."
"Hmm.."
"Kamu ham hem ham hem daritadi.. Respon kenapa?"
"Mau direspon apa coba?" tanya Almi balik bertanya.
"Why did he supposed to do that?"
"Hmm.." mata Alya membelalak mendengar gumaman Almi. Lalu dijawab Almi dengan tangan ke depan dadanya, tanda ia meminta waktu sejenak. "Gini loh, Ya.. Fahri itu kan pacar kamu. Wajar dia datang ke rumah kamu, mastiin gimana keadaan kamu. Daripada dia bimbang gak jelas, mending dia ngeliat langsung kan?"
"Khawatir gitu?"
"Exactly!"
"Kenapa gak ngantar aku pulang aja sih pas aku benar-benar butuh dan pengen banget diantar pulang sama dia? Emangnya dia gak khawatir aku kenapa napa di sekolah? Dia baru khawatir setelah aku beneran gak ngasi kabar gitu?"
"Pikir positif deh, Ya. Bisa aja dia emang lagi ada keperluan apa gitu jadi buru-buru trus gak sempat nganter kamu.."
"Oke pikir positif.. Kenapa dia gak bilang aja sih sama aku alasan sebenarnya? Kalo gini aku mikirnya kemana mana, Al.."
"Ya gak tau juga.."
"Tuh kan, gimana aku bisa mikir positif, Al?"
"Iya pelan-pelan, Ya. Kamu kan juga udah tau Fahri itu gimana, ya kan? Dia sayang cuma gak bisa nunjukin, Ya. Percaya deh sama aku."
"Dia gak sayang sama aku, Al."
"Hah?"
"Dia suka sama cewek lain apa ya?"
"Gak lah.."
"Hmmm.."
"Iya, nggak. Udah ah, aku mulai ngawur deh ah."
"Emang kok, kalo badmood kamu suka ngawur. Weeek.." ejek Almi.
"Ahh resek." secara refeks tangan Alya terdekat menjambak rambut sepunggung Almi lalu berlari menghindar ke dalam kelas.
"Ahhhh.." teriak Almi kesal mengejar Alya untuk membalas perbuatan isengnya tersebut.

No comments:

Post a Comment

Turn Your Words Become Strawberry Juice!