Wednesday, March 30, 2011

Semalam untuk Selamanya

Dia Marissa. Mereka biasa memanggilnya Icha. Mereka? Para sahabat yang selalu menguatkannya Witya, Kika dan Raffi. Masa-masa labilnya sangatlah jauh dari kata baik. Ayah dan ibunya bercerai ketika Marissa berusia lima belas tahun yang saat itu duduk di kelas X SMA. Dia tumbuh sebagai pribadi yang sulit percaya dan sulit berinteraksi dengan orang lain. Ia menjadi seseorang yang menyebalkan dengan segala kata-kata pedasnya. Hanya mereka yang berusaha membuatnya kembali ceria, sedang yang lain mendekati hanya untuk memanfaatkan.

Berbulan-bulan muak ditahannya hingga Rabu itu ia memutuskan pergi dari rumah. Ingin melepas bebannya, pergi dari segala tekanan yang menderanya.Dengan berbekal uang yang diambilnya di ATM, dia nekat pergi dan berencana menginap di hotel yang terletak di pinggiran kota. Disana memang setengah harga dari hotel-hotel di tengah kota tapi disanalah Marissa mendapat salah satu pelajaran berharga.

Menunggu giliran dipanggil resepsionis, Marissa memandang ke sekelilingnya. Tidak terlalu buruk. Tempatnya bersih dan jauh dari suara bising kendaraan. Dia akan tenang disana, pikirnya. Tidak jauh darinya terlihat seorang gadis seumurannya menangis menggedor-gedor pintu mobil merah yang perlahan maju meninggalkannya duduk sendirian di hall hotel, menangis tersedu memegang perutnya.
”Kenapa, Mbak?” tanya Marissa mendatanginya. Ia masih menangis dan tidak menggubris Marissa.”Mbak..?” panggil Marissa lagi lalu menengok ke depan wajahnya.
”Saya belum makan, Mbak..” masih memegang perutnya meringis, ”Itu yang ada di dalam mobil tadi Ayah saya... Saya..” ia terlihat seperti tidak sanggup melanjutkan ceritanya lalu terus menangis. Marissa iba melihatnya. Mereka sama-sama sebatang kara saat ini yang berbeda hanyalah Marissa membawa serta sejumlah uang di sakunya.
”Mbak, kamarnya sudah siap.. Apakah mau sekalian dibawakan ke atas barang-barangnya?” resepsionis yang sibuk tadi lalu menyusulnya ke hall.”Iya, Mbak.. Sekalian aja dibawa ke atas.. Kuncinya saya tinggal di resepsionis aja ya? Saya ada urusan sebentar..” pamit Marissa lalu menggandeng gadis yang menangis tadi pergi. Marissa membawanya ke warung nasi di sekitar hotel dan mereka saling membagi cerita disana. Gadis itu bernama Rika. Rika bercerita bahwa ia pergi dari rumah dan tadi bertemu ayahnya. Ia ditampar habis-habisan karena menolak diajak pulang. Lain Marissa, lain Rika. Rika pergi dari rumah karena ia ingin fipergi dari ayahnya yang tempramen. Bahkan ia bercerita beberapa bulan yang lalu ibunya meninggal di tangan ayahnya sendiri, sungguh tragis.
”Wajarlah alasan kamu, Ka.” kata Marissa menyelesaikan kunyahan sambil menyeruput es tehnya.
”Iya, wajar. Menghindarkan Bapak dari dosa karena membunuhku.” jawab Rika enteng sambil menaikkan sebelah kakinya ke kakki yang lainnya.
”Kamu kenapa nggak ngelapor ke polisi sih?” tanya Marissa menyelidik.”Apa kamu tega ngelihat bapakmu di penjara karena ulahmu? Gak akan, Sa..” kali ini ia sambil mencongkel sisa-sisa makanan yang tersangkut di giginya.
”Emm, iya juga sih.. Apa bedanya bapak kamu sama pembunuh? Bapakmu kan yang membunuh ibumu?” Marissa menepuk jidatnya setelah menyelesaikan kata-katanya barusan. Bicaranya tidak pakai dipikir, pasti Rika tersinggung.”Ya, pembunuh sih pembunuh tapi tetap aja gak tega, Sa.. Gimana pun orang tua sendiri..” jawab Rika bijak tanpa melihatkan mimik tidak nyaman sekalipun. Belum lama estela menyelesaikan kata-katanya terdengar kumandang adzan maghrib.
”Yuk!” Rika menarik lengan Marissa keluar.
”Eh, tunggu, Ka. Aku bayar makanan dulu..” lalu Marissa masuk lagi ke dalam warung dan membayar makanan mereka. ”Kita mau kemana?” tanya Marissa masih terengah menyusul Rika yang sudah berpuluh langkah darinya.
”Solat, kamu solat kan?” tanya Rika lalu meninggalkannya yang mematung ke tempat wudhu.
”Iya,” jawab Marissa ragu, diam di tempatnya. Lalu, ” Ya! Aku solat!” jawabnya mantap dan ini lalu dilihatnya Rika tersenyum.Malamnya Marissa kembali ke hotel dengan perasaan tak menentu. Terlintas pikiran buruk takut-takut ayah atau ibunya memaksanya pulang dengan menamparnya. Mobil si sisi surau tadi. Banyak hal yang membuatnya galau malam ini, pikiran seseorang yang dalam pelarian. Ia sampai ke kamarnya dan merebahkan tubuh ke penidurannya.Satu yang benar-benar mengganggunya ketika berpisah tadi, Rika mengatakan sesuatu padanya ’Bicaramu kadang agak susah dimengerti, Marissa. Tapi terkadang juga amat tidak nyaman didengar..’. Ia terlelap.

**

Esoknya, ia terbangun karena layanan telepon hotel di kamarnya berdering. Masih separuh sadar ia mengangkat asal gagang telepon yang terletak di samping tempat tidur,
”Aloo..Huaaaah..” sahutnya seakan tidak peduli.
”Selamat Pagi, Kostumer kamar nomor dua satu enam atas nama Marissa, benar?” terdengar suara manis resepsionis di telinganya.
"Iya, ini Marissa. Ada apa?” tanya Marissa kini sudah duduk di sisi tempat tidur sambil mengucek matanya.
"Ini ada yang mencari, Mbak..” gagang itu bersuara lagi.
"Siapa?” tanyanya heran. Aneh, sudah ke tepian ini masih ada yang mencarinya. Pasti Rika, pikirnya.
”Dua orang perempuan dengan satu orang laki-laki, Mbak.. Siapa, Mas tadi namanya?” tanya resepsionis pada tamu Marissa.
“Raffi, bilang Marissa ada Raffi di bawah.” terdengar suara berat di balik gagang telepon dari bawah, Raffi. Pasti Raffi, duanya lagi Witya dan Kika. Panik, Marissa menjejalkan segala bawaannya masuk ke dalam ransel merah kesayangannya. Dibiarkannya begitu saja gagang telepon menggantung dari badannya. Dipakainya jaket dan sepatu. Hari masih sejuk, masih pukul empat. Dikeluarkannya sejumlah uang untuk di sisi telepon, uang pembayaran sewa hotel satu malamnya.Dasar seorang Marissa adalah jagoan, ia menyusuri tepi dinding jendela kamarnya dan melompat masuk ke sisi lain hotel. Lalu keluarlah ia dari gerbang belakang hotel dengan menahan dingin yang menusuk tubuhnya.

Ia bersedekap menahan dingin dan melanjutkan berlari. Berarti memang mobil mereka yang dilihatnya di sisi surau semalam. Marissa terus berlari dan masuk ke ruangan gelap yang sesak dengan barang-barang dan debu. Ia melanjutkan tidurnya diatas drum di sudut ruangan.Sampai matanya terbuka lagi menyadari hari sudah pagi dan beberapa pasang mata kepala dan tubuh memandang diatasnya. Para pekerja pabrik penyimpanan barang itu. Ribut membicarakannya dan memperhatikannya takjub. Setelah memohon diri dan meminta maaf Marissa keluar dari ruangan itu dengan santai. Ditolehnya ke belakang para pekerja sibuk dengan urusan nya masing-masing, lalu dikejarnya waktu.

Dalam pelariannya ia menertawakan hari keduanya, sungguh bodoh ia tanpa segala yang biasa sudah tersedia. Perlahan-lahan ia menghentikan langkah di dekat warung makan di tepi kali. Diingatnya terakhir makan kemarin bersama Rika. Pantas perutnya terasa lapar sekali. Dipanggilnya penjaga warung itu dan minta dilayani. Kenyang. Marissa melanjutkan pelariannya. Makin jauh ia berjalan, semakin jelas letih yang dirasakannya. Ia hampir menyerah hari ini kalau saja hari itu tidak hujan.

Inilah indahnya rekayasa Tuhan, Marissa ditemukan dengan seorang pedagang ember keliling yang kebetulan juga sedang berteduh di sudut kecil emperan toko. Awalnya mereka hanya saling tersenyum kepada satu sama lain. Sampai akhirnya pedagang itu membuka pembicaraan,
”Mau kemana, Neng?”
”Gak kemana-mana, Pak. Abis jalan-jalan.”
”Si Eneng pergi dari rumah ya? Kenapa neng? Kalau di rumah eneng pasti gak kehujanan gini..” tanyanya tepat pada sasaran. Marissa hanya terdiam. ”Si Eneng bagusan mash pulang ke rumahnya, pasti ibu sama bapaknya nyariin atuh neng..” kata pedagang itu lagi dengan logat Sundanya yang kental.
”Iya, Pak. Saya juga mulai gak betah jauh dari rumah. Ternyata saya butuh mereka.” tunduk Marissa menahan airmatanya. Pedagang itu tersenyum.
”Ichaaaaaaaaaaaaa..’ teriak Kika dari kejauhan berlari dan memeluknya disusul Witya dan Raffi di belakang menadah hujan dengan tangan di atas kepala mereka.
”Ngerasa hebat jadi ‘most wanted’?” Tanya Witya sambil bercekak pinggang. ”Kemana aja?” sambungnya lagi.
”Hehe.. Aku berpetualang, yah gak ekstrim sih tapi banyak pelajarannya..” jawab Marissa membela diri.”Pelajaran apa? PKn? Agama? Ekonomi? Atau apa?” tanya Witya tidak sabaran.
”Ya, ada semuanya tuh yang kamu sebutin. Aku jadi tau gimana caranya ngomong sopan sama orang lain, aku juga udah tau kalau ternyata solat juga penting sama aku juga tau kalo harga ayam mahal, jadi kalau mau makan murah ya tahu tempe aja.” jawab Marissa cengengesan, Katya semakin erat memeluknya. ”Keren kan?” tanyanya kepada tiga lainnya.
”Bodoh!” kali ini Raffi yang bersuara lalu menoyor kesal kepala Marissa yang disambut dengan manyun manja dari bibir Marissa.
”Iish..” sentak Witya pada lengan Raffi menjauhkan tangannya membela Marissa.
”Eh, kok kalian tau aku disini sih?” tanya Marissa lagi.
”Tau dong, kita kan sahabat!” jawab Witya lantas juga memeluk Marissa.
”Eh, udah pelukannya, aku kehujanan..” protes Raffi yang disambut tertawa yang lain karena Raffi memamng benar-benar berdiri langsung di bawah hujan. Tempat sempit tadi otomatis melindungi Witya dan Kika dari hujan karena mereka memeluk Marissa. Tinggallah Raffi kehujanan tanpa ada atap yang melindungi.
”Raffi kenapa? Iri ya? Sini.. Sini..” ejek Marissa membentangkan kedua tangannya seolah mau memeluk.
”Dasar! Maunya!” bisik Witya dan Kika hampir bersamaan di telinganya. Rahasia Marissa yang satu ini memang tersimpan aman bersama pelukan mereka bertiga.Tiba-tiba Marissa melepas pelukannya dan menyeruak berteriak riuh di bawah hujan.
”Ayo! Sini semuanya!” lengkingnya sambil menari-nari di bawah hujan.
”Hey, ngapain disitu? Ntar sakit.” Raffi menarik lengannya. Marissa memberontak.
”Witya, Kika sini! Masa tega sih ngebiarin Raffi kena hujan sendirian?” teriaknya menunjuk Raffi di sampingnya. Witya dan Kika berpandangan. Ekspresi mereka sama-sama menggambarkan penolakan mereka untuk berhujan. ”Katanya sahabat?” teriak Marissa lagi. Kalimat andalan.Menyingsing ransel Marissa, Witya menyusul Kika mengejar Marissa dan Raffi. Tiba-tiba langkah Marissa terhenti. Ia memutar arah larinya ke tempat berteduh tadi.
”Kenapa?” tanya Raffi ikut menoleh.
”Mau ngucapin makasih sama..” ditolehnya ke belakang bapak pedagang tadi sudah tidak ada.
”Siapa?” tanya Witya.
”Emm.. Tadi ada liat bapak-bapak gak disitu sama aku?” tunjuk Marissa ke tempatnya tadi berteduh?
”Nggak, nggak ada siapa-siapa kok daritadi..” jawab Kika.
”Beneran?” tanya Marissa meyakinkan.
”Iya..” jawab ketiganya serempak.
”Waaaaaaa hantuuuuuuu!” kocar kacir mereka semua berlari menuju mobil Raffi.

..to be continued

Sunday, 14 November 2010 at 10:48
nulisbuku, facebook

No comments:

Post a Comment

Turn Your Words Become Strawberry Juice!