Siang itu mereka duduk berhadapan dibawah pohon dengan meja kecil diantaranya, dialasi kain kotak kotak merah putih mereka besantai sambil bercengkrama.
"Aku percaya kok sama kamu." Fahri memancing pembicaraan.
"Hmm? Apa?" sahut Alya sambil mengunyah pisang, gak nyambung. "Waktu itu aku pernah baca sms di hp kamu, trus temenku bilang pesan itu gak wajar, jadi setelah hari itu aku ada nguntitin kamu diem diem."
Uhuk uhuk, Alya tersedak dengan pisang yg ia makan. Lalu oleh Fahri, ditepuknya punggung Alya dan berserakanlah pisang pisang halus itu di sisi Alya. Wajah Alya cemberut, jelas bukan karna efek tersedak tadi, tapi..
"Kenapa kamu mukulin punggung aku?"
"Kenapa, Ya? Sakit?" tanya Fahri khawatir.
"Sayang pisangnya kebuang." rengek Alya.
*jeger*
Fahri menggeleng, melanjutkan ceritanya tanpa menghiraukan Alya yang masih membersihkan pisang halus tadi.
"Lalu," lanjut Fahri, "Aku ngerasa bersalah gak percaya sama kamu." Alya masih sibuk mengelap kain alas mereka duduk. "Aku salah besar, tenyata aku gak kenal kamu."
"Emang kapan sih kamu ngikutin aku?" tanya Alya.
"Waktu kamu ke percetakan,"
"Ooh, waktu yg aku pergi sama Kiki?"
"Iya, kamu juga ada beli sepatu kan?"
"Kamu tau sedetil itu? Kamu liat aku darimana sih?"
"Kata Alif sm Farah, kebetulan mereka juga ada disitu."
"Oh, iya aku juga ada ketemu mereka. Jadi?"
"Jadi apa?"
"Masih mau nguntitin aku?"
"Nggak!"
"Kamu belum bilang kenapa harus nguntitin gituan, kamu juga tadi bilang kamu gak kenal aku. Jelasin.." rengek Alya.
"Susah ngejelasinnya, Ya. Aku bingung mau mulai darimana."
"Terserah mulainya darimana, mau dijelasin pake kalimat paling berantakan aku juga ngerti kok. Cepetan!"
"Hm, jadi hari itu aku ketemu Maesa, dia bilang ada baca sms di hp kamu, ntah dari siapa trus dia nakutin aku kalo itu dari cowok lain. Jadi ya aku sampe curigaan sama kamu."
"Hahaha," tawa Alya pecah, "Kamu tuh ya, udah juga kamu yang suka ngelarang larang aku temenan sama teman teman cowok, kamu juga yang takut. Aku mana pernah smsan atau apa sama teman cowok lain, itupun paling hanya sekedar Dani yang suka nanyain pelajaran, kamu juga tau.. Hahaha.."
"Iya, makanya kubilang tadi, aku berlebihan. Aku kan khawatir juga sama Razo, Azki ataupun Evan. Kamu lumayan dekat sm mereka."
"Apaan sih, mereka teman temannya Westy kali, aku sama sama mereka juga kalo ada Westy. Kamu berlebihan deh, Sayang."
"Aku juga ngerasa salah suka gak ngerespon kalo kamu bersikap manja, aku gak terlalu suka kamu yang gitu."
"Iya, gapapa kok."
"Seharusnya aku bisa terima kalo kamu emang manja, toh nyatanya kamu lebih dekat sm teman teman kamu daripada aku. Kamu malah make topeng dihadapan aku, bukannya malah nunjukin aslinya kamu."
"Abisnya kan kamu gak suka aku manja? Kamu suka bilang 'Bising' atau apapun lah itu yg buat hati aku sakiiit banget waktu dengarnya, jadi sejak itu aku males manjaan sama kamu."
"Hehe, maaf.."
"Maaf maaf.. Nih bukain dulu." omel Alya sambil mengulurkan botol susu Frisian Flag jumbo, Alya memang maniak susu. Berlaku untuk jenis apapun.
"Nih," botol susu kembali ke tangan Alya, "Udah dimaafin kan?"
"Udah," sahut Alya sambil meneguk susu coklatnya.
"Aku harus nerima kamu apa adanya. Manjanya kamu, childishnya kamu, cengengnya kamu. Meskipun itu bukan maunya kamu, aku mikir aja mungkin itu cara kamu untuk menarik perhatian aku, aku juga bangga kok sm kedewasaan kamu, kesabaran kamu ngadepin aku yg emosian, kamu hebat bisa jadi kakak, adik, mama, guru privat sekaligus pacar yang hebat di mata aku."
"Ah, kamu lebay. Masa aku jadi mama kamu juga?"
"Kamu nih lagi dipuji juga."
"Iya, aku senang dipuji. Tapi aku jadi malu."
"Trus?"
"Susunya tumpah, hehe."
"Ckck, gak ada yang gak tumpah!"
"Maaf sayang.."
"Maaf maaf.. Bersihin dulu.."
"Ih jahat, main balas balasan.."
Alya menungkupkan kedua tangan dan kepalanya keatas meja, merajuk.
"Alah, gitu doang merajuk, pendek tongkeng!"
*diam, hening*
"Ya, kamu nangis?"
"Iya." sahut Alya parau.
Bergegas Fahri mengelap tumpahan susu yang setengah kering karena lama dibiarkan.
"Ya.." panggil Fahri.
"Hmmm." sahut Alya.
"Udah aku bersihin, kamu jangan nangis lagi."
"Aku gak nangis kok week " ejek Alya setelah mengangkat kepalanya, ia berlari.
Fahri pun bangkit berkejaran dengan Alya.
Dunia seolah serasa milik berdua dibuat mereka.
Etcieeee~
"Memang seharusnya aku lebih percaya sm kamu, Ya."
#Fahri
it has been 3 years, happy silent day, coffee :)
facebook, Saturday, 31 July 2010 at 05:37
No comments:
Post a Comment
Turn Your Words Become Strawberry Juice!