Monday, February 20, 2012

rindu sahabat

Dimana setiap ada pertemuan disitu ada perpisahan bukan?
Begitu juga seringnya dengan adanya keputusan maka akan ada panyesalan..
Manyesal? Aku juga tidak dapat menggambarkan secara pasti, menyesal itu perasaan yang seperti apa. Tapi jika senang memflashback melihat yang sudah terjadi termasuk ke dalamnya berarti aku pernah menyesal untuk sesuatu. Hehehe.
Aku menjalani hidup sekarang hampir tanpa beban yang berarti jika yang kumaksud adalah tekanan yang selalu mneyertai setahun, dua tahun lalu.
Satu-satunya hal yang membuat aku masih merasa tidak nyaman bahkan terbuang adalah sikapmu. Iya, kamu itu. Sadar tapi tidak mau peduli kan? Dengar tapi suka berpura tuli kan? Basi.

Aku rasa memang hanya itu satu-satunya hal yang kadang membuat aku berat bergabung, menjadi seperti istilah orang-orang; kacang atau obat nyamuk. Ya begitu posisiku. Pembicaraan yang begitu di monopoli dan kisah-kisah asing yang tidak pernah tahu apa dan kapan dibahas kembali.

Aku tidak menyalahkan rasa tidak nyamanmu untuk berbagi denganku jika memang tidak mau. Atau memang tidak nyaman? Untuk apa? Menjaga perasaan? Huh, bukannya aku bahkan kamu sendiri yang pernah bilang ‘jika memang ada yang mau diceritain, ada aku.’ Mana? Apa mungkin karena kita sudah hidup di masa sekarang? Jadi kita melupakan yang pernah kita katakan? Aku selalu ingat karena kau pernah jadi pendengar terbaik . Begitu pula aku. Dulu kita hampir selalu membagi semuanya. Semuanya! Sekarang mungkin kesibukan modul dan sks memisahkan kita, meskipun kau dengan whatsapp users yang lain sering berbicara di belakangku. Inilah alasanku menghapus aplikasi obrolan tersebut dari handphoneku. Rasanya terlalu tidak dianggap dalam ‘kelompok kita’. Aku ini apa dan siapa saja bagimu aku sudah tidak bisa mendeskripsikannya, setiap kita bertemu dan berinteraksi, rasanya aku sedang memerankan skrip ‘ How I Met Stranger’. Ya, memang karena kita seperti tidak pernah kenal, tidak pernah berbagi, tidak pernah sehati.

Kini semuanya berlainan, kau, aku kita bagai kedua kutub di bumi yang berada di kedua sisi berbeda. Apakah aku terlalu banyak mencampuri ketentuan semesta sehingga pada akhirnya aku yang kewalahan sendiri? Ketahuilah, kau yang membuatku percaya segalanya memiliki akhir dan harga kepercayaan itu mahal. Seperti karenamu, aku sekarang mempercayai orang lain tidak sebaik dulu.

Dulu, aku selalu beranggapan semuanya akan selalu baik-baik walaupun terjadi konflik. Semuanya akan baik-baik saja ketika aku mengaggapnya baik, ketika yang berkonflik saling memaafkan. Namun sekarang perlahan aku percaya semua memiliki akhir. Seperti kita. Persahabatan kita yang mungkin sudah akan berakhir. Kepercayaan yang dimulai begitu saja. Rasa nyaman yang tidak dibuat-buat dan dapat bersikap apa adanya. Rasa membutuhkan ketika semua sahabat perempuan sedang sibuk dengan dunianya. Semuanya sudah tinggal kenangan. Tapi ya mau apa? Aku tidak yakin force yang hanya dariku dapat mengembalikannya menjadi baik. Menjadikan seperti dulu memang sudah sulit, setidaknya ya menjadi lebih enak dari yang sekarang. Tapi tapi tapi ya sudahlah itu hanya harapan yang hanya bisa tertulis namun tidak bisa diungkapkan. Aku juga tidak tahu pasti kalau diungkapkan segalanya akan membaik atau akan lebih memburuk. Biarlah sekarang aku yang mengalah, entah sampai kapan karena bagiku kau sudah cukup banyak bersabar ketika kita sangat dekat dulu.

Aku berharap waktu, jarak dan ridha Allah bisa membantu memperbaiki segala hal yang terlanjur buruk dan tidak bisa kuhandle ini. Amin. Semoga Allah melembutkan hatimu dan membuka mata dan pikiranmu agar dapat memandang persoalan yang mungkin hanya perasaanku ini dari sudut pandangku. Ketahuilah, seperti katamu, ‘pintuku selalu terbuka jika kau ingin datang..’ seperti itu juga aku. Meskipun sebenarnya berharap pun aku tidak berani..

Aku rindu sahabatku yang dulu, for sure..

P.S. Kehilanganmu adalah seperti kehilangan angin di ban belakang mimio, masih bisa mengantarku sampai kampus hanya saja sedikit oleng rasanya. Sesimpel itu.