Friday, March 25, 2011

carita el lunn

Aku sedih lagi sore ini. Menangisi kekasih yang sudah mati. Percuma? Ya, tentu saja. Toh, udah gak bakal ada dia lagi.
"Dia udah mati, Yu!" Berkali-kali aku meneriakkan kalimat penyadar itu di depan wajahku. Tapi masih saja aku tak kuasa menahan rindu padanya.
Seolah berharap sewaktu-waktu ia akan mengetuk pintu, datang memelukku rindu di bawah hujan.
Berharap jika suatu kali aku mengirim pesan singkat ke ponselnya, dia datang membawakan makanan lalu menyuapiku.
Berharap jika aku sedang gundah, galau terbawa perasaan takut ditinggal sendirian dia hadir membawa senang, menghadirkan senyum cerianya.
Menyemangatiku, menghidupkanku.
Walau dia sudah tak lagi ada, aku masih saja mencari. Siapa tau ada sosoknya pada yang lain. Tidak ada, ya tepatnya belum ada sejauh ini.
Hmm, kenapa Tuhan ngambil dia begitu cepat? Kenapa Tuhan gak ngebiarin aku bisa lebih lama sama dia? Setidaknya sampai waktu aku siap ditinggal. Gak akan ada waktu siapnya kali ya kalau nunggu siap?
Kadang sempat terlintas pikiran pengen jadi laki-laki supaya bisa berpikir rasional seperti mereka. Mereka tak terbawa perasaan seperti aku sekarang.
Kekasihku sudah lama sekali perginya. Terakhir bertemu awal Januari lalu, selebihnya aku mendapatinya mati, meninggalkan bekas robekan halus di katup jantungku. Begitu halusnya, sampai-sampai harus sering terluka ketika tersentuh, lagi dan terus-terusan entah sampai kapan.
Awalnya aku berpikiran rasanya akan sama saja dengan ditinggal putus cinta atau dikhianati seperti yang sudah-sudah. Tetapi ternyata tidak. Rasanya jauh lebih menusuk, karena sesungguhnya aku jauh lebih tidak siap ditinggal tanpa kembali.
Berkaca dari yang sebelumnya walaupun mereka pergi, mereka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka masih berbagi udara denganku, berbagi space kehidupan bersamaku. Jika sesekali sesak rindu menghampiri aku masih bisa, misalnya sekedar memandangi.
Bagaimana aku?
Ya, masih saja melakukan hal-hal bodoh yang tak pernah kuceritakan pada siapapun karena hanya akan mendapat kecaman jika mereka tau.
Aku membuat beberapa space dimana aku bisa berbicara lepas tanpa ada seorang pun yang memperdulikanku, pembicaraanku tentangnya.
My another twitter account.
Aku hanya tidak ingin membagi jejak jeleknya secara rinci menurut setiap sudut pandangku di mata para followers. Cukup aku yang tau dan tidak ada yang sakit ketika membacanya. Karena jujur saja aku merasa sedih dan kasihan jika ada seorang di timeline yang berujar seperti yang aku coba sembunyikan. Tapi mereka hebat, mereka tidak berusaha menyembunyikan kesedihan. Lain mereka lain aku, aku juga dengan pertimbangan menjaga nama baiknya. Aku juga bukannya butuh dikasihani. Aku hanya akan merasa tidak nyaman hati jika mereka menjatuhkan nilai negatif tentangnya, sedang hanya aku sendiri yang merasa ia demikian. Aku dan marahku. Aku dan cemburuku. Aku dan segala keegoisan dan kekanakanku. Aku sembunyikan hanya untuk aku agar tak seorang pun tahu kecuali kita. Sekarang rahasia itu rapat tak berjejak di bawah tanah bersama nisan batunya.
Bersama kedua sahabat perempuanku, mereka tau aku. Hanya bersama mereka aku pernah melepaskan tawa. Kau bisa menanyai mereka jika aku tak lagi ada. Mereka bisa dipercaya.
Aku tidak tau apa maksud Tuhan mengambil orang yang aku sayangi dengan sangat. Tepatnya satu persatu dari mereka diambil dengan pasti dan tidak untukku lagi. Tetapi aku tetap meyakini secara pasti, suatu hari nanti Tuhan pasti akan mengganti dengan sosok-sosok yang lebih tak tergantikan, pasti!

No comments:

Post a Comment

Turn Your Words Become Strawberry Juice!