Sambungan dari Andai Aku Tahu Lebih Awal.
"Mbak, mas tu gimana sih di mata mbak?" tanya Kara sambil menyalin sesekali melihat coretan Tama tadi.
"Gimana apanya? Gak ngerti mbak."
"Gimana ya, sikapnya gitu mbak.."
"Mm, biasa aja sih."
"Kalo mas ke mbak gimana?" Luna diam, tatap matanya mengisyaratkan bahwa ia tak mengerti, "Perlakuan dia ke mbak gitu.."
"Hm, dia baik. Baik sekali. Mbak sering ngerasa jadi tuan putri kalo lagi sama mas.." jawab Luna sambil menerawang.
"Trus?"
"Dia tuh laki-laki yg pinter memperlakukan perempuan. Dia yg ngebukain pintu, dia yg narikin kursi kalo mbak mau duduk, dia yg ramah, pendengar yg baik, bukan pengeluh, dia yg segala galanya. Loh kok mbak jd curhat sm kamu?"
"Gak papa kok, mbak. Mbak cinta sm mas?""Terlalu jauh dek untuk ngomongin cinta, untuk mbak sih sekarang yg pasti-pasti aja. Mbak pikir juga udah cukup kok sm perasaan mbak yg sekarang, lebih dari cukup malahan."
"Mas jahat sm mbak?"
"Kategori jahat yg kayak gimana dulu nih?"
"Yang nyakitin hati mbak gitu.."
"Dulu pernah sih dia pergi ke ulang tahun teman mbak dg cewek lain, tapi dulu banget sih waktu belum ada apa-apa. Jahat gak sih? Soalnya mbak kesal banget waktu itu.""Itu mah bukan jahat mbak, mbak aja yg cemburuan.. Ya kalo gitu mas gak pernah jahat dong ya? Beda banget kalo sm dedek."
"Emang baik banget, dia kayak emang dikirim buat mbak. Nyaris sempurna!"
"Halah, itu bawaan karena mbak cinta aja sm mas.. Haha. Tapi iya kok mbak, di rumah mas kasar banget. Dedek sm Laras sering dibuat nangis sm dia."
"Itu emang dasar dia yg iseng. Dedek tau gak sih kenapa sekarang mbak ada disini? Mama lagi di luar kota, mas tidur-tiduran di kamarnya? Mbak ada disini diajak mas untuk ngebantuin kamu ngerjain PR, dia sayang sm kalian tapi dia gak tau gimana cara nunjukinnya. Makanya dia minta tolong mbak."
"Mas sayang sm dedek, mbak?" tanya Kara dg mata berair.
"Sayanglah, gak percaya?"
"Tapi mas suka ngebentak.."
"Dia terlanjur ngerasa jauh sm keluarga, makanya dia kayak gitu. Dia sering cerita sm Mbak."
"Dulu mas gamau nganter dedek sekolah mbak. Dia marah-marah sm mama. Jadi dedek pake jasa antar jemput deh, kasian mama dibentak bentak mas. Untung gak ada papa, kalo nggak pasti mas ribut sm papa. Sejak itu dedek benci sm mas."
"Tapi setelah tau kebenarannya, kamu gak benci lagi kan sm mas? Sesekali deh, coba minta antar mas kemana gitu. Pasti dia mau deh.."
"Takut mbak.."
"Belum juga dicoba.."
"Iya deh, ntar dedek coba."
Terdengar deritan pintu terbuka, Tama berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Udah selesai belajarnya? Udah mau jam 4 nih, kamu mau pulang kan, Lu?" tanya Tama.
"Iya, udah kok. Nih lagi ngerjain soal terakhir.." jawab Luna sambil mengemasi barangnya masuk ke dalam tas.
"Mbak kapan kesini lagi?" Kara bersuara
"Besok lagi lah, besok kan mama pulang.."
"Oke deh. Mbak bilang sm mas jangan garang-garang.." bisik Kara.Luna tertawa, renyah.
"Iya sayang, nanti mbak bilang. Mbak pulang dulu ya, nanti salam aja buat Laras. Bilang besok mbak kesini lagi." pesan Luna sambil berjalan ke depan rumah.
"Oke, ntar kalo Laras udah bangun dedek sampein."
"Yuk, udah belum?" tanya Tama dari dalam mobil.
"Udah udah, bentar." jawab Luna sambil berlari kecil ke pintu samping pengemudi.
"Mas nganter mbak dulu, jaga rumah ya, kunci pintu jangan lupa!" Tama berkata pada Kara."Oke mas, ih mas jadi baik ya? Hehe." balas Kara yg langsung berlari masuk ke dalam.
"Makanya, sama adik tuh jangan garang-garang. Gitu tuh jadi takut dianya." ledek Luna.
"Ah biarin, yg penting..."
"Yg penting apa?"
"Ah udahlah.." jawab Tama mengalihkan pembicaraan dan menginjak gas maju.
**
"Ma, dedek mau punya pacar kayak mas." kata suara di seberang sana
"Loh? Gak benci lagi sm mas?"
"Nggak, mas gak jahat ma. Dedek bangga punya kakak kayak mas! Dedek sayang mas."
"Bagus deh, mama senang kalian akur. Besok mama pulang, hati-hati ya kalian bertiga di rumah. Mama lagi dampingin papa nyambut tamu nih, udah dulu ya? Nanti mama telpon lagi."
"Oke ma, bye."
Klik. Telepon di tutup.
facebook, Sunday, 01 August 2010 at 10:56
Wednesday, March 30, 2011
Andaikan Aku Tahu Lebih Awal
Anak laki-laki itu berlari keluar dg membawa dua puluh ribuan di tangan kanannya. Belum lama ia melenggang masuk ke rumah dg wajah sumringah.
"Tadi mama liat kamu bawa uang mas? Mana?" tanya ibunya.
"Mas kasih ke pengemis tadi, ma." jawabnya enteng lalu ngeloyor ke arah Playstation yang tadi ditinggalkan nya.
"Ma, Dedek pengen kayak mas."
"Kayak mas gimana, sayang?" tanya ibunya pada Kara.
"Jadi orang yg baik hati sm semua orang. Dedek juga nanti mau punya pacar yangg kayak mas.."
**
Percakapan 3 tahun yang lalu itu terus terngiang di kepala Kara hingga ia menyesali kata-kata yang pernah diucapnya itu. Mas Tama, kakaknya tak sebaik yang ia lihat dulu. Hingga pada suatu hari Tama seperti mendapat penerangan dalam hidupnya, Mbak Luna. Sahabat sekaligus pacar yg sering ia bawa ke rumah. Mama sayang dengan Mbak Luna, begitu juga dengan Kara dan adiknya Laras.
**
2 tahun terakhir Kara benar-benar membenci Tama, benci sebenci bencinya!
"Dek, kamu ada PR gak?" tanya Mbak Lu.
"Ada mbak, mbak mau bantu dedek ngerjain?"
"Boleh.."
"Bentar ya mbak," Kara berlari ke kamar dan mengobrak abrik tas yang tadi di pakainya sekolah. Got it! Kara berlari balik ke ruang TV. Sepintas di lihatnya Tama sedang berbaring di kamar dari celah pintu yg di biarkan sedikit terbuka. Dalam hatinya ia merutuki kakaknya, bisa-bisanya lagi ada tamu dia malah baring-baring, enak-enakan di kamar sedangkan ada tamu datang. Untung ini Mbak Lu yang bukan orang lain,
"PR apa dek?" tanya Mbak Lu membuyarkan pikiran Kara.
"Kimia, mbak. Mbak bisa bantu kan?"
"Bisa dong, mana soalnya?"
"Ini nih mbak, dedek gak ngerti kenapa ini bisa jadi gini?"
"Ini sih mudah, dek. Kita tinggal liat angkanya aja, tinggal tentuin deh mana asam mana basa."
"Bukan yang itu, mbak. Itu juga dedek ngerti."
"Trus yang mana?" tanya Mbak Lu lagi.
"Yang ini," tunjuk Kara pada satu soal, "Titrasi, mbak."
"Hmm, kalo Titrasi mas kamu nih yg jago.."
"Glek! Kara benar benar tak habis pikir dg selera humor Mbak Luna, bisa bisanya nyangkutin kimia dg mas? Mas tau apa juga? "Dedek tanya teman aja ya, mbak?"
"Tanya mas gih, mas pinter yg beginian.."
"Mas bobo mbak."
"Bangunin, bilang mbak yg manggil.." Mbak Lu sudah tau kalau tanpa menjual namanya hanya akan membuat mas marah karena terganggu tidurnya.Kara bergerak ragu. Berjalan perlahan ke arah pintu kamar mas. Mbak Lu mengangguk angguk tanda ia meminta Kara menyegerakan niatnya
.Tok.. Tok.. Tok..
Di dorongnya pintu perlahan,"Mas," Kara mundur satu langkah karena gerakan tiba-tiba sang kakak, "Dipanggil Mbak Luna."
"Luna?" sahut mas langsung terjaga.
"Iya, di tunggu di depan ya, Mas..Benar kata mama, Mbak Lu udah kayak pawangnya si Mas. Hanya kata-kata Mbak Lu yg didengerin sama Mas..Belum lama mas keluar kamar dg wajah yang baru dibasahi oleh air.
"Ada ap, Lu?"
"Nih, titrasi. Ajarin dedek.."
"Males." jawab Tama pendek.
"Kalo gitu ajarin aku aja deh, ntar aku yg ngajarin dedek." bujuk Luna.
"Hmm," Tama memandangi soal itu, berfikir. "Pen!" pintanya pada Kara, ia mencorat coret kertas kosong di sisi soal. Ia tersenyum, "Nah gini." tunjuknya pada Luna.
"Jadi daritadi cuma aplikasi rumus ini, yank?" tanya Luna.
"Tepat sekali!" jawab Tama sambil menjentikkan jari, pertanda itu merupakan hal kecil baginya.Mas Tama hebat batin Kara, ia tak menyangka di balik sifat jahatnya ternyata ia punya kepribadian yg menarik.Tak lama setelah itu, Tama bangkit & kembali ke kamar tidurnya."Aku tidur lagi ya, Lu?" pamitnya pada Luna.
"Iya, tapi jangan lama-lama. Jam 4 aku udah harus pulang."
"Oke sayang.."
be continued to Part II
facebook, Saturday, 31 July 2010 at 23:55
"Tadi mama liat kamu bawa uang mas? Mana?" tanya ibunya.
"Mas kasih ke pengemis tadi, ma." jawabnya enteng lalu ngeloyor ke arah Playstation yang tadi ditinggalkan nya.
"Ma, Dedek pengen kayak mas."
"Kayak mas gimana, sayang?" tanya ibunya pada Kara.
"Jadi orang yg baik hati sm semua orang. Dedek juga nanti mau punya pacar yangg kayak mas.."
**
Percakapan 3 tahun yang lalu itu terus terngiang di kepala Kara hingga ia menyesali kata-kata yang pernah diucapnya itu. Mas Tama, kakaknya tak sebaik yang ia lihat dulu. Hingga pada suatu hari Tama seperti mendapat penerangan dalam hidupnya, Mbak Luna. Sahabat sekaligus pacar yg sering ia bawa ke rumah. Mama sayang dengan Mbak Luna, begitu juga dengan Kara dan adiknya Laras.
**
2 tahun terakhir Kara benar-benar membenci Tama, benci sebenci bencinya!
"Dek, kamu ada PR gak?" tanya Mbak Lu.
"Ada mbak, mbak mau bantu dedek ngerjain?"
"Boleh.."
"Bentar ya mbak," Kara berlari ke kamar dan mengobrak abrik tas yang tadi di pakainya sekolah. Got it! Kara berlari balik ke ruang TV. Sepintas di lihatnya Tama sedang berbaring di kamar dari celah pintu yg di biarkan sedikit terbuka. Dalam hatinya ia merutuki kakaknya, bisa-bisanya lagi ada tamu dia malah baring-baring, enak-enakan di kamar sedangkan ada tamu datang. Untung ini Mbak Lu yang bukan orang lain,
"PR apa dek?" tanya Mbak Lu membuyarkan pikiran Kara.
"Kimia, mbak. Mbak bisa bantu kan?"
"Bisa dong, mana soalnya?"
"Ini nih mbak, dedek gak ngerti kenapa ini bisa jadi gini?"
"Ini sih mudah, dek. Kita tinggal liat angkanya aja, tinggal tentuin deh mana asam mana basa."
"Bukan yang itu, mbak. Itu juga dedek ngerti."
"Trus yang mana?" tanya Mbak Lu lagi.
"Yang ini," tunjuk Kara pada satu soal, "Titrasi, mbak."
"Hmm, kalo Titrasi mas kamu nih yg jago.."
"Glek! Kara benar benar tak habis pikir dg selera humor Mbak Luna, bisa bisanya nyangkutin kimia dg mas? Mas tau apa juga? "Dedek tanya teman aja ya, mbak?"
"Tanya mas gih, mas pinter yg beginian.."
"Mas bobo mbak."
"Bangunin, bilang mbak yg manggil.." Mbak Lu sudah tau kalau tanpa menjual namanya hanya akan membuat mas marah karena terganggu tidurnya.Kara bergerak ragu. Berjalan perlahan ke arah pintu kamar mas. Mbak Lu mengangguk angguk tanda ia meminta Kara menyegerakan niatnya
.Tok.. Tok.. Tok..
Di dorongnya pintu perlahan,"Mas," Kara mundur satu langkah karena gerakan tiba-tiba sang kakak, "Dipanggil Mbak Luna."
"Luna?" sahut mas langsung terjaga.
"Iya, di tunggu di depan ya, Mas..Benar kata mama, Mbak Lu udah kayak pawangnya si Mas. Hanya kata-kata Mbak Lu yg didengerin sama Mas..Belum lama mas keluar kamar dg wajah yang baru dibasahi oleh air.
"Ada ap, Lu?"
"Nih, titrasi. Ajarin dedek.."
"Males." jawab Tama pendek.
"Kalo gitu ajarin aku aja deh, ntar aku yg ngajarin dedek." bujuk Luna.
"Hmm," Tama memandangi soal itu, berfikir. "Pen!" pintanya pada Kara, ia mencorat coret kertas kosong di sisi soal. Ia tersenyum, "Nah gini." tunjuknya pada Luna.
"Jadi daritadi cuma aplikasi rumus ini, yank?" tanya Luna.
"Tepat sekali!" jawab Tama sambil menjentikkan jari, pertanda itu merupakan hal kecil baginya.Mas Tama hebat batin Kara, ia tak menyangka di balik sifat jahatnya ternyata ia punya kepribadian yg menarik.Tak lama setelah itu, Tama bangkit & kembali ke kamar tidurnya."Aku tidur lagi ya, Lu?" pamitnya pada Luna.
"Iya, tapi jangan lama-lama. Jam 4 aku udah harus pulang."
"Oke sayang.."
be continued to Part II
facebook, Saturday, 31 July 2010 at 23:55
Alya & Fahri
Siang itu mereka duduk berhadapan dibawah pohon dengan meja kecil diantaranya, dialasi kain kotak kotak merah putih mereka besantai sambil bercengkrama.
"Aku percaya kok sama kamu." Fahri memancing pembicaraan.
"Hmm? Apa?" sahut Alya sambil mengunyah pisang, gak nyambung. "Waktu itu aku pernah baca sms di hp kamu, trus temenku bilang pesan itu gak wajar, jadi setelah hari itu aku ada nguntitin kamu diem diem."
Uhuk uhuk, Alya tersedak dengan pisang yg ia makan. Lalu oleh Fahri, ditepuknya punggung Alya dan berserakanlah pisang pisang halus itu di sisi Alya. Wajah Alya cemberut, jelas bukan karna efek tersedak tadi, tapi..
"Kenapa kamu mukulin punggung aku?"
"Kenapa, Ya? Sakit?" tanya Fahri khawatir.
"Sayang pisangnya kebuang." rengek Alya.
*jeger*
Fahri menggeleng, melanjutkan ceritanya tanpa menghiraukan Alya yang masih membersihkan pisang halus tadi.
"Lalu," lanjut Fahri, "Aku ngerasa bersalah gak percaya sama kamu." Alya masih sibuk mengelap kain alas mereka duduk. "Aku salah besar, tenyata aku gak kenal kamu."
"Emang kapan sih kamu ngikutin aku?" tanya Alya.
"Waktu kamu ke percetakan,"
"Ooh, waktu yg aku pergi sama Kiki?"
"Iya, kamu juga ada beli sepatu kan?"
"Kamu tau sedetil itu? Kamu liat aku darimana sih?"
"Kata Alif sm Farah, kebetulan mereka juga ada disitu."
"Oh, iya aku juga ada ketemu mereka. Jadi?"
"Jadi apa?"
"Masih mau nguntitin aku?"
"Nggak!"
"Kamu belum bilang kenapa harus nguntitin gituan, kamu juga tadi bilang kamu gak kenal aku. Jelasin.." rengek Alya.
"Susah ngejelasinnya, Ya. Aku bingung mau mulai darimana."
"Terserah mulainya darimana, mau dijelasin pake kalimat paling berantakan aku juga ngerti kok. Cepetan!"
"Hm, jadi hari itu aku ketemu Maesa, dia bilang ada baca sms di hp kamu, ntah dari siapa trus dia nakutin aku kalo itu dari cowok lain. Jadi ya aku sampe curigaan sama kamu."
"Hahaha," tawa Alya pecah, "Kamu tuh ya, udah juga kamu yang suka ngelarang larang aku temenan sama teman teman cowok, kamu juga yang takut. Aku mana pernah smsan atau apa sama teman cowok lain, itupun paling hanya sekedar Dani yang suka nanyain pelajaran, kamu juga tau.. Hahaha.."
"Iya, makanya kubilang tadi, aku berlebihan. Aku kan khawatir juga sama Razo, Azki ataupun Evan. Kamu lumayan dekat sm mereka."
"Apaan sih, mereka teman temannya Westy kali, aku sama sama mereka juga kalo ada Westy. Kamu berlebihan deh, Sayang."
"Aku juga ngerasa salah suka gak ngerespon kalo kamu bersikap manja, aku gak terlalu suka kamu yang gitu."
"Iya, gapapa kok."
"Seharusnya aku bisa terima kalo kamu emang manja, toh nyatanya kamu lebih dekat sm teman teman kamu daripada aku. Kamu malah make topeng dihadapan aku, bukannya malah nunjukin aslinya kamu."
"Abisnya kan kamu gak suka aku manja? Kamu suka bilang 'Bising' atau apapun lah itu yg buat hati aku sakiiit banget waktu dengarnya, jadi sejak itu aku males manjaan sama kamu."
"Hehe, maaf.."
"Maaf maaf.. Nih bukain dulu." omel Alya sambil mengulurkan botol susu Frisian Flag jumbo, Alya memang maniak susu. Berlaku untuk jenis apapun.
"Nih," botol susu kembali ke tangan Alya, "Udah dimaafin kan?"
"Udah," sahut Alya sambil meneguk susu coklatnya.
"Aku harus nerima kamu apa adanya. Manjanya kamu, childishnya kamu, cengengnya kamu. Meskipun itu bukan maunya kamu, aku mikir aja mungkin itu cara kamu untuk menarik perhatian aku, aku juga bangga kok sm kedewasaan kamu, kesabaran kamu ngadepin aku yg emosian, kamu hebat bisa jadi kakak, adik, mama, guru privat sekaligus pacar yang hebat di mata aku."
"Ah, kamu lebay. Masa aku jadi mama kamu juga?"
"Kamu nih lagi dipuji juga."
"Iya, aku senang dipuji. Tapi aku jadi malu."
"Trus?"
"Susunya tumpah, hehe."
"Ckck, gak ada yang gak tumpah!"
"Maaf sayang.."
"Maaf maaf.. Bersihin dulu.."
"Ih jahat, main balas balasan.."
Alya menungkupkan kedua tangan dan kepalanya keatas meja, merajuk.
"Alah, gitu doang merajuk, pendek tongkeng!"
*diam, hening*
"Ya, kamu nangis?"
"Iya." sahut Alya parau.
Bergegas Fahri mengelap tumpahan susu yang setengah kering karena lama dibiarkan.
"Ya.." panggil Fahri.
"Hmmm." sahut Alya.
"Udah aku bersihin, kamu jangan nangis lagi."
"Aku gak nangis kok week " ejek Alya setelah mengangkat kepalanya, ia berlari.
Fahri pun bangkit berkejaran dengan Alya.
Dunia seolah serasa milik berdua dibuat mereka.
Etcieeee~
"Memang seharusnya aku lebih percaya sm kamu, Ya."
#Fahri
it has been 3 years, happy silent day, coffee :)
facebook, Saturday, 31 July 2010 at 05:37
"Aku percaya kok sama kamu." Fahri memancing pembicaraan.
"Hmm? Apa?" sahut Alya sambil mengunyah pisang, gak nyambung. "Waktu itu aku pernah baca sms di hp kamu, trus temenku bilang pesan itu gak wajar, jadi setelah hari itu aku ada nguntitin kamu diem diem."
Uhuk uhuk, Alya tersedak dengan pisang yg ia makan. Lalu oleh Fahri, ditepuknya punggung Alya dan berserakanlah pisang pisang halus itu di sisi Alya. Wajah Alya cemberut, jelas bukan karna efek tersedak tadi, tapi..
"Kenapa kamu mukulin punggung aku?"
"Kenapa, Ya? Sakit?" tanya Fahri khawatir.
"Sayang pisangnya kebuang." rengek Alya.
*jeger*
Fahri menggeleng, melanjutkan ceritanya tanpa menghiraukan Alya yang masih membersihkan pisang halus tadi.
"Lalu," lanjut Fahri, "Aku ngerasa bersalah gak percaya sama kamu." Alya masih sibuk mengelap kain alas mereka duduk. "Aku salah besar, tenyata aku gak kenal kamu."
"Emang kapan sih kamu ngikutin aku?" tanya Alya.
"Waktu kamu ke percetakan,"
"Ooh, waktu yg aku pergi sama Kiki?"
"Iya, kamu juga ada beli sepatu kan?"
"Kamu tau sedetil itu? Kamu liat aku darimana sih?"
"Kata Alif sm Farah, kebetulan mereka juga ada disitu."
"Oh, iya aku juga ada ketemu mereka. Jadi?"
"Jadi apa?"
"Masih mau nguntitin aku?"
"Nggak!"
"Kamu belum bilang kenapa harus nguntitin gituan, kamu juga tadi bilang kamu gak kenal aku. Jelasin.." rengek Alya.
"Susah ngejelasinnya, Ya. Aku bingung mau mulai darimana."
"Terserah mulainya darimana, mau dijelasin pake kalimat paling berantakan aku juga ngerti kok. Cepetan!"
"Hm, jadi hari itu aku ketemu Maesa, dia bilang ada baca sms di hp kamu, ntah dari siapa trus dia nakutin aku kalo itu dari cowok lain. Jadi ya aku sampe curigaan sama kamu."
"Hahaha," tawa Alya pecah, "Kamu tuh ya, udah juga kamu yang suka ngelarang larang aku temenan sama teman teman cowok, kamu juga yang takut. Aku mana pernah smsan atau apa sama teman cowok lain, itupun paling hanya sekedar Dani yang suka nanyain pelajaran, kamu juga tau.. Hahaha.."
"Iya, makanya kubilang tadi, aku berlebihan. Aku kan khawatir juga sama Razo, Azki ataupun Evan. Kamu lumayan dekat sm mereka."
"Apaan sih, mereka teman temannya Westy kali, aku sama sama mereka juga kalo ada Westy. Kamu berlebihan deh, Sayang."
"Aku juga ngerasa salah suka gak ngerespon kalo kamu bersikap manja, aku gak terlalu suka kamu yang gitu."
"Iya, gapapa kok."
"Seharusnya aku bisa terima kalo kamu emang manja, toh nyatanya kamu lebih dekat sm teman teman kamu daripada aku. Kamu malah make topeng dihadapan aku, bukannya malah nunjukin aslinya kamu."
"Abisnya kan kamu gak suka aku manja? Kamu suka bilang 'Bising' atau apapun lah itu yg buat hati aku sakiiit banget waktu dengarnya, jadi sejak itu aku males manjaan sama kamu."
"Hehe, maaf.."
"Maaf maaf.. Nih bukain dulu." omel Alya sambil mengulurkan botol susu Frisian Flag jumbo, Alya memang maniak susu. Berlaku untuk jenis apapun.
"Nih," botol susu kembali ke tangan Alya, "Udah dimaafin kan?"
"Udah," sahut Alya sambil meneguk susu coklatnya.
"Aku harus nerima kamu apa adanya. Manjanya kamu, childishnya kamu, cengengnya kamu. Meskipun itu bukan maunya kamu, aku mikir aja mungkin itu cara kamu untuk menarik perhatian aku, aku juga bangga kok sm kedewasaan kamu, kesabaran kamu ngadepin aku yg emosian, kamu hebat bisa jadi kakak, adik, mama, guru privat sekaligus pacar yang hebat di mata aku."
"Ah, kamu lebay. Masa aku jadi mama kamu juga?"
"Kamu nih lagi dipuji juga."
"Iya, aku senang dipuji. Tapi aku jadi malu."
"Trus?"
"Susunya tumpah, hehe."
"Ckck, gak ada yang gak tumpah!"
"Maaf sayang.."
"Maaf maaf.. Bersihin dulu.."
"Ih jahat, main balas balasan.."
Alya menungkupkan kedua tangan dan kepalanya keatas meja, merajuk.
"Alah, gitu doang merajuk, pendek tongkeng!"
*diam, hening*
"Ya, kamu nangis?"
"Iya." sahut Alya parau.
Bergegas Fahri mengelap tumpahan susu yang setengah kering karena lama dibiarkan.
"Ya.." panggil Fahri.
"Hmmm." sahut Alya.
"Udah aku bersihin, kamu jangan nangis lagi."
"Aku gak nangis kok week " ejek Alya setelah mengangkat kepalanya, ia berlari.
Fahri pun bangkit berkejaran dengan Alya.
Dunia seolah serasa milik berdua dibuat mereka.
Etcieeee~
"Memang seharusnya aku lebih percaya sm kamu, Ya."
#Fahri
it has been 3 years, happy silent day, coffee :)
facebook, Saturday, 31 July 2010 at 05:37
REVARIO
Siang itu di selasar, sepulang sekolah. Revo dan Vario belum juga kunjung pulang ke rumah. Mereka masih menikmati tontonan futsal gratis di lapangan besar di hadapan mereka.
"Yeah gol lagi!" ucap Vario yang sedari tadi heboh. "Aku selalu suka tuh cowok yang jago main bola." katanya polos, memandang sekilas ke arah Revo lalu ke lapangan.
"Aku gak terlalu hebat main bola."
"Trus?"
"Kamu gak suka aku dong?"
"Ya, gak gitu juga sih. Tadi kan aku bilang aku suka yang kayak gitu, bukan berarti yang nggak kayak gitu aku gak suka."
"Hm, bagus deh kalau gitu. Hehe." suara Revo terdengar lega sambil sedikit cengengesan.
"Emang kamu suka sama aku? Ngada-ngada ih." Revo tertawa hambar mendengar perkataan Vario barusan. Perempuan satu ini memang tidak peka, batinnya.
"Yeah gol lagi!" ucap Vario yang sedari tadi heboh. "Aku selalu suka tuh cowok yang jago main bola." katanya polos, memandang sekilas ke arah Revo lalu ke lapangan.
"Aku gak terlalu hebat main bola."
"Trus?"
"Kamu gak suka aku dong?"
"Ya, gak gitu juga sih. Tadi kan aku bilang aku suka yang kayak gitu, bukan berarti yang nggak kayak gitu aku gak suka."
"Hm, bagus deh kalau gitu. Hehe." suara Revo terdengar lega sambil sedikit cengengesan.
"Emang kamu suka sama aku? Ngada-ngada ih." Revo tertawa hambar mendengar perkataan Vario barusan. Perempuan satu ini memang tidak peka, batinnya.
Bukan Pertanyaan Untuk di Jawab
"Kenapa? Kamu belum jawab.."
"Karena.."
"Kenapa harus tergagap jika alasanmu jelas Arjuna?"
"Alasanku jelas Dewi, tapi kau tak mungkin kan senang mendengarnya.."
"Ah kau selalu berpikiran seperti itu, aku DewiMu Arjuna, seperti apapun kau mengecewakanku kau tahu aku takkan bisa pergi darimu."
Arjuna bimbang. Pilihan hanya berkata yang benar atau berbohong. Diam bukan bagian dari opsi kali ini.
"Bagaimana jika aku bilang aku sudah di jodohkan oleh ibuku?"
"Baru dijodohkan bukan? Mengapa aku harus tidak senang? Sudah kubilang aku percaya kamu, Mas. Seutuhnya."
"Jika kubilang sudah tak dapat di tangguhkan?"
"Aku bisa berkata apa? Toh jika itu balasan kesungguhan cintaku, ya sudahlah, kau yang menentukan Arjuna. Selalu dirimu."
"Kau pasrah Dewi. Tidakkah kau coba mempertahankanku? Atau memperjuangkanku?"
"Ini bukan masalah pasrah tidaknya aku, Mas. Tapi kau sendiri tidak memperjuangkan cinta kita di hadapan Ibumu, untuk apa aku berusaha untuk yang orang tidak mau?"
facebook, Friday, 24 September 2010 at 22:22
"Karena.."
"Kenapa harus tergagap jika alasanmu jelas Arjuna?"
"Alasanku jelas Dewi, tapi kau tak mungkin kan senang mendengarnya.."
"Ah kau selalu berpikiran seperti itu, aku DewiMu Arjuna, seperti apapun kau mengecewakanku kau tahu aku takkan bisa pergi darimu."
Arjuna bimbang. Pilihan hanya berkata yang benar atau berbohong. Diam bukan bagian dari opsi kali ini.
"Bagaimana jika aku bilang aku sudah di jodohkan oleh ibuku?"
"Baru dijodohkan bukan? Mengapa aku harus tidak senang? Sudah kubilang aku percaya kamu, Mas. Seutuhnya."
"Jika kubilang sudah tak dapat di tangguhkan?"
"Aku bisa berkata apa? Toh jika itu balasan kesungguhan cintaku, ya sudahlah, kau yang menentukan Arjuna. Selalu dirimu."
"Kau pasrah Dewi. Tidakkah kau coba mempertahankanku? Atau memperjuangkanku?"
"Ini bukan masalah pasrah tidaknya aku, Mas. Tapi kau sendiri tidak memperjuangkan cinta kita di hadapan Ibumu, untuk apa aku berusaha untuk yang orang tidak mau?"
facebook, Friday, 24 September 2010 at 22:22
Silent Love
"Nih liat deh, Din.." berapi-api Airin menyerahkan ponsel qwerty-nya kepada Dinda.
"Apaan?" tanya Dinda masih menyantap nikmat ayam goreng di hadapannya.
"Nih, liat dulu makanya!" ponsel diambil dari tangan Airin.
Uhuk uhuk.. Dinda terbatuk menahan ayam yang menari indah di kerongkongannya. Airin menyodorkan es teh jahe kepada Dinda. Untuk di minum.
"Apaan sih?" tanya Lily dan Dessi hampir bersamaan.
"Nih, kalian liat nih!" Dinda gantian menyodorkan ponsel ke mereka berdua.
"Apanya?" tanya Tami.
"Itunya, Ta. Status." jawab Airin ditengah kunyahannya. Semua melongok ke layar ponsel Airin. Satu persatu dari mereka menunjukkan simpati personal.
"Ah cari aja lagi, Din!" cetus Dessi.
"Kamu tuh cantik, Din dia gak ada apa-apanya. Kamu pasti bisa deh dapat yang lebih dari dia." hibur Lily.
"Huahahahaaaa-" tawa meledak dari Tami. "Sukurin lo!" ledeknya.
"Kalian nih ya dasar perempuan! Gitu aja diributin. Gak penting tau gak? Dinda juga, Din, udah gue bilangin kamu tuh harus bisa bedain, dia bukan siapa-siapa kali?" kata Satria yang sedari tadi asyik makan tiba-tiba angkat suara.
"Lagian, aku emang gak suka dari awal. Kan udah dibilangin dia itu gak bisa dipercaya. Hahahahaa." Tami masih tertawa.
"Tapi.."
"Udah deh, Din, gak penting sama cowok gituan.." sambung Dessi.
"Kalian nih ya, paling seneng kalo Dinda teraniaya. Kasih dia kesempatan ngomong kek, bela diri atau apa.." potong Lily.
"Ssst diam.. Dinda mau ngomong." kali ini Airin yang bicara.
"Emmm.."
"Yah, gak ngomong.." Airin lesu.
"Gimana mau ngomong coba, Rin? Terkejut gitu juga." Tami bersuara lagi. Masih dengan nada mengejek.
"Udah udah. Sekarang gini deh, Din, alasan kamu nunjukin itu status ke kita apaan?" Satria menengahi.
"Emmmm.."
"Yah, masih amm emm aja nih." celutuk Tami resek.
"Aku cemburu, Ta.." jawab Dinda nyaris terdengar seperti cicitan.
"Hahahaha-" semua serempak tertawa. Tidak ketinggalan dengan menggebrak meja dan menghentakkan kaki tentunya. Dinda hanya bisa diam. Menunggu sampai mereka berhenti menertawainya. Selalu begitu, memang selalu Dinda yang menjadi objek tertawaan di kelompoknya. Karena Dinda, si bungsu yang pada kenyataannya memang merupakan yang paling manja.
Setelah sekian menit, tawa mereda. Lily tentu saja berhenti terlebih dulu karena merasa tidak nyaman. Dinda menunduk.
Hujan mengguyur warung tempat mereka makan.
***
Pagi itu cuaca cerah sekali. Ben turun awal ke sekolah. Sesampainya di sekolah, sepi. Ternyata memang banyak siswa yang datang tepat waktu, seperti yang biasanya ia lakukan. Ia tertawa sendiri melihat sekelebat bayangan itu di ujung koridor dengan sudut matanya. Tanpa menoleh ia yakin itu Dinda. Dilewatinya begitu saja meski ada kuat hasrat untuk disapa lebih dulu.
15 menit sebelum bel masuk.
Dinda menyambangi kelasnya untuk bertemu Lily. Dari percakapan mereka didengarnya Dinda baru saja datang dan hampir saja terlambat karena ban sepeda motornya tadi sempat bocor dalam perjalanan ke sekolah. Lalu siapa yang dilihatnya tadi?
Ketika guru lengah ia melempari remasan kertas kepada Lily yang duduk persis di depannya.
"Ly, Lily!" desisnya.
"Apaan?" Lily menoleh.
"Mau nanya dong.."
"Tanya bapak aja deh, aku belum ngerti nih.."
"Bukan tentang pelajaran. Ini tentang rasa."
"Ih jorok banget sih! Masih pagi tau?"
"Ih dasar cewek mesum pikirannya kemana-mana. Eh beneran amu nanya nih."
"Iya iya deh, sok atuh tanya.." Lily mulai geram.
"Pernah ngerasain semacam fatamorgana? Tapi bukan di padang pasir.."
"Hah? Maksudnya?"
"Ya, semisal ngerasa ngeliat orang gitu padahal orangnya gak ada?"
"Hm, sering! Sama si Andro itu.." Andro, kekasih yang dua tahun lalu meninggalkannya karena kecelakaan.
"Nah, itu kenapa ya?" tanya Ben menggebu-gebu.
"Rindu." jawab Lily sebelum membalikkan badannya. Singkat, padat, mengena.
"Oh, makasih." Ben tidak lagi sanggup berkata-kata.
***
Dalam diam mereka berpandang.
Dalam diam mereka bertegur.
Sangat halus tersembunyi dari pendengaran yang lain.
Tanpa pernah terucap tapi jelas sayatannya.
Tatapan satu sama lain seperti mata pisau yang haus membunuh.
Tampak jelas tidak rela satu atau yang lain untuk hidup lebih lama, tanpa satu lain.
***
Tanpa mereka sadari, mereka sama-sama merasakannya. Cemburu. Rindu.
***
Nb: saling cinta mungkin? Tidak pernah ada yang tahu pasti. Sekalipun bagi mereka yang terlibat di dalamnya.
what we call this? Love?
facebook, Friday, 24 September 2010 at 21:38
"Apaan?" tanya Dinda masih menyantap nikmat ayam goreng di hadapannya.
"Nih, liat dulu makanya!" ponsel diambil dari tangan Airin.
Uhuk uhuk.. Dinda terbatuk menahan ayam yang menari indah di kerongkongannya. Airin menyodorkan es teh jahe kepada Dinda. Untuk di minum.
"Apaan sih?" tanya Lily dan Dessi hampir bersamaan.
"Nih, kalian liat nih!" Dinda gantian menyodorkan ponsel ke mereka berdua.
"Apanya?" tanya Tami.
"Itunya, Ta. Status." jawab Airin ditengah kunyahannya. Semua melongok ke layar ponsel Airin. Satu persatu dari mereka menunjukkan simpati personal.
"Ah cari aja lagi, Din!" cetus Dessi.
"Kamu tuh cantik, Din dia gak ada apa-apanya. Kamu pasti bisa deh dapat yang lebih dari dia." hibur Lily.
"Huahahahaaaa-" tawa meledak dari Tami. "Sukurin lo!" ledeknya.
"Kalian nih ya dasar perempuan! Gitu aja diributin. Gak penting tau gak? Dinda juga, Din, udah gue bilangin kamu tuh harus bisa bedain, dia bukan siapa-siapa kali?" kata Satria yang sedari tadi asyik makan tiba-tiba angkat suara.
"Lagian, aku emang gak suka dari awal. Kan udah dibilangin dia itu gak bisa dipercaya. Hahahahaa." Tami masih tertawa.
"Tapi.."
"Udah deh, Din, gak penting sama cowok gituan.." sambung Dessi.
"Kalian nih ya, paling seneng kalo Dinda teraniaya. Kasih dia kesempatan ngomong kek, bela diri atau apa.." potong Lily.
"Ssst diam.. Dinda mau ngomong." kali ini Airin yang bicara.
"Emmm.."
"Yah, gak ngomong.." Airin lesu.
"Gimana mau ngomong coba, Rin? Terkejut gitu juga." Tami bersuara lagi. Masih dengan nada mengejek.
"Udah udah. Sekarang gini deh, Din, alasan kamu nunjukin itu status ke kita apaan?" Satria menengahi.
"Emmmm.."
"Yah, masih amm emm aja nih." celutuk Tami resek.
"Aku cemburu, Ta.." jawab Dinda nyaris terdengar seperti cicitan.
"Hahahaha-" semua serempak tertawa. Tidak ketinggalan dengan menggebrak meja dan menghentakkan kaki tentunya. Dinda hanya bisa diam. Menunggu sampai mereka berhenti menertawainya. Selalu begitu, memang selalu Dinda yang menjadi objek tertawaan di kelompoknya. Karena Dinda, si bungsu yang pada kenyataannya memang merupakan yang paling manja.
Setelah sekian menit, tawa mereda. Lily tentu saja berhenti terlebih dulu karena merasa tidak nyaman. Dinda menunduk.
Hujan mengguyur warung tempat mereka makan.
***
Pagi itu cuaca cerah sekali. Ben turun awal ke sekolah. Sesampainya di sekolah, sepi. Ternyata memang banyak siswa yang datang tepat waktu, seperti yang biasanya ia lakukan. Ia tertawa sendiri melihat sekelebat bayangan itu di ujung koridor dengan sudut matanya. Tanpa menoleh ia yakin itu Dinda. Dilewatinya begitu saja meski ada kuat hasrat untuk disapa lebih dulu.
15 menit sebelum bel masuk.
Dinda menyambangi kelasnya untuk bertemu Lily. Dari percakapan mereka didengarnya Dinda baru saja datang dan hampir saja terlambat karena ban sepeda motornya tadi sempat bocor dalam perjalanan ke sekolah. Lalu siapa yang dilihatnya tadi?
Ketika guru lengah ia melempari remasan kertas kepada Lily yang duduk persis di depannya.
"Ly, Lily!" desisnya.
"Apaan?" Lily menoleh.
"Mau nanya dong.."
"Tanya bapak aja deh, aku belum ngerti nih.."
"Bukan tentang pelajaran. Ini tentang rasa."
"Ih jorok banget sih! Masih pagi tau?"
"Ih dasar cewek mesum pikirannya kemana-mana. Eh beneran amu nanya nih."
"Iya iya deh, sok atuh tanya.." Lily mulai geram.
"Pernah ngerasain semacam fatamorgana? Tapi bukan di padang pasir.."
"Hah? Maksudnya?"
"Ya, semisal ngerasa ngeliat orang gitu padahal orangnya gak ada?"
"Hm, sering! Sama si Andro itu.." Andro, kekasih yang dua tahun lalu meninggalkannya karena kecelakaan.
"Nah, itu kenapa ya?" tanya Ben menggebu-gebu.
"Rindu." jawab Lily sebelum membalikkan badannya. Singkat, padat, mengena.
"Oh, makasih." Ben tidak lagi sanggup berkata-kata.
***
Dalam diam mereka berpandang.
Dalam diam mereka bertegur.
Sangat halus tersembunyi dari pendengaran yang lain.
Tanpa pernah terucap tapi jelas sayatannya.
Tatapan satu sama lain seperti mata pisau yang haus membunuh.
Tampak jelas tidak rela satu atau yang lain untuk hidup lebih lama, tanpa satu lain.
***
Tanpa mereka sadari, mereka sama-sama merasakannya. Cemburu. Rindu.
***
Nb: saling cinta mungkin? Tidak pernah ada yang tahu pasti. Sekalipun bagi mereka yang terlibat di dalamnya.
what we call this? Love?
facebook, Friday, 24 September 2010 at 21:38
Bukan Kembar
"Kembar ya?" tanya Kasir di kassa 2 kepada Diandra dan Tata yang sedang menunggu giliran mereka di Kassa 1.
"Bukan.." jawab Tata senyum-senyum. Kasir itu membuang rasa penasarannya dengan melanjutkan kewajibannya menyelesaikan antrian.
"Ini, kamu yang bayar." Tata memberikan dompetnya kepada Diandra.
"Sini." kata Diandra sambil mengambil dompet dari tangan Tata. "Berapa Mas?" tanyanya.
"Empat puluh tujuh ratus rupiah.." jawabnya sambil senyum-senyum melihat Diandra dan Tata. Dilihatnya lekat. Serupa.
"Ini ya, Mas.." Diandra mengangsurkan selembar lima puluh ribuan ke meja kasir.
"Mbak, kembar kan!" masih penasaran, kasir tadi bertanya lagi setelah selesai melayani pelanggan yang baru saja membawa nampannya pergi.
"Iya Mbak.." jawab Diandra menoleh dari ponselnya.
"Tuh kan!" sahutnya puas sambil menjentikkan jari.
"Yang mana yang kakak?" tanya kasir yang sedang melayani mereka sambil memberikan uang kembalian.
"Pasti yang ini.." tunjuk kasir di sebelahnya pada Diandra.
"Hehe tau aja." jawab Diandra sekenanya sambil menahan tawanya.
"Iya, dia kakaknya.." Tata masih menahan tawa sambil melirik usil ke arah Diandra. Belum lama setelah itu nampan berisi pesanan mereka siap dan diletakkan diatas meja kasir. Setelah mengucapkan terima kasih mereka pergi membawa nampan ke meja makan.
"Mbak kembar!" mereka menoleh, kasir yang pertama memanggil mereka. "Sering-sering makan disini ya!" ucapnya.
"Ah, asal ada gratisan aja Mas." sahut Tata lalu tertawa. Mereka bukan kembar.
facebook, Friday, 22 October 2010 at 20:10
"Bukan.." jawab Tata senyum-senyum. Kasir itu membuang rasa penasarannya dengan melanjutkan kewajibannya menyelesaikan antrian.
"Ini, kamu yang bayar." Tata memberikan dompetnya kepada Diandra.
"Sini." kata Diandra sambil mengambil dompet dari tangan Tata. "Berapa Mas?" tanyanya.
"Empat puluh tujuh ratus rupiah.." jawabnya sambil senyum-senyum melihat Diandra dan Tata. Dilihatnya lekat. Serupa.
"Ini ya, Mas.." Diandra mengangsurkan selembar lima puluh ribuan ke meja kasir.
"Mbak, kembar kan!" masih penasaran, kasir tadi bertanya lagi setelah selesai melayani pelanggan yang baru saja membawa nampannya pergi.
"Iya Mbak.." jawab Diandra menoleh dari ponselnya.
"Tuh kan!" sahutnya puas sambil menjentikkan jari.
"Yang mana yang kakak?" tanya kasir yang sedang melayani mereka sambil memberikan uang kembalian.
"Pasti yang ini.." tunjuk kasir di sebelahnya pada Diandra.
"Hehe tau aja." jawab Diandra sekenanya sambil menahan tawanya.
"Iya, dia kakaknya.." Tata masih menahan tawa sambil melirik usil ke arah Diandra. Belum lama setelah itu nampan berisi pesanan mereka siap dan diletakkan diatas meja kasir. Setelah mengucapkan terima kasih mereka pergi membawa nampan ke meja makan.
"Mbak kembar!" mereka menoleh, kasir yang pertama memanggil mereka. "Sering-sering makan disini ya!" ucapnya.
"Ah, asal ada gratisan aja Mas." sahut Tata lalu tertawa. Mereka bukan kembar.
facebook, Friday, 22 October 2010 at 20:10
Ternyata Bukan Dia
Sekilas terpandang ketika tanpa disengaja mata kami saling bertemu. Kutoleh balik arah pandangku ke depan. Familiar. Dadaku terasa hangat sesaat tadi, kutoleh sekali lagi. Bukan. Itu bukan dia. Itu saudara kembarnya.
facebook, Friday, 22 October 2010 at 20:45
facebook, Friday, 22 October 2010 at 20:45
Semalam untuk Selamanya
Dia Marissa. Mereka biasa memanggilnya Icha. Mereka? Para sahabat yang selalu menguatkannya Witya, Kika dan Raffi. Masa-masa labilnya sangatlah jauh dari kata baik. Ayah dan ibunya bercerai ketika Marissa berusia lima belas tahun yang saat itu duduk di kelas X SMA. Dia tumbuh sebagai pribadi yang sulit percaya dan sulit berinteraksi dengan orang lain. Ia menjadi seseorang yang menyebalkan dengan segala kata-kata pedasnya. Hanya mereka yang berusaha membuatnya kembali ceria, sedang yang lain mendekati hanya untuk memanfaatkan.
Berbulan-bulan muak ditahannya hingga Rabu itu ia memutuskan pergi dari rumah. Ingin melepas bebannya, pergi dari segala tekanan yang menderanya.Dengan berbekal uang yang diambilnya di ATM, dia nekat pergi dan berencana menginap di hotel yang terletak di pinggiran kota. Disana memang setengah harga dari hotel-hotel di tengah kota tapi disanalah Marissa mendapat salah satu pelajaran berharga.
Menunggu giliran dipanggil resepsionis, Marissa memandang ke sekelilingnya. Tidak terlalu buruk. Tempatnya bersih dan jauh dari suara bising kendaraan. Dia akan tenang disana, pikirnya. Tidak jauh darinya terlihat seorang gadis seumurannya menangis menggedor-gedor pintu mobil merah yang perlahan maju meninggalkannya duduk sendirian di hall hotel, menangis tersedu memegang perutnya.
”Kenapa, Mbak?” tanya Marissa mendatanginya. Ia masih menangis dan tidak menggubris Marissa.”Mbak..?” panggil Marissa lagi lalu menengok ke depan wajahnya.
”Saya belum makan, Mbak..” masih memegang perutnya meringis, ”Itu yang ada di dalam mobil tadi Ayah saya... Saya..” ia terlihat seperti tidak sanggup melanjutkan ceritanya lalu terus menangis. Marissa iba melihatnya. Mereka sama-sama sebatang kara saat ini yang berbeda hanyalah Marissa membawa serta sejumlah uang di sakunya.
”Mbak, kamarnya sudah siap.. Apakah mau sekalian dibawakan ke atas barang-barangnya?” resepsionis yang sibuk tadi lalu menyusulnya ke hall.”Iya, Mbak.. Sekalian aja dibawa ke atas.. Kuncinya saya tinggal di resepsionis aja ya? Saya ada urusan sebentar..” pamit Marissa lalu menggandeng gadis yang menangis tadi pergi. Marissa membawanya ke warung nasi di sekitar hotel dan mereka saling membagi cerita disana. Gadis itu bernama Rika. Rika bercerita bahwa ia pergi dari rumah dan tadi bertemu ayahnya. Ia ditampar habis-habisan karena menolak diajak pulang. Lain Marissa, lain Rika. Rika pergi dari rumah karena ia ingin fipergi dari ayahnya yang tempramen. Bahkan ia bercerita beberapa bulan yang lalu ibunya meninggal di tangan ayahnya sendiri, sungguh tragis.
”Wajarlah alasan kamu, Ka.” kata Marissa menyelesaikan kunyahan sambil menyeruput es tehnya.
”Iya, wajar. Menghindarkan Bapak dari dosa karena membunuhku.” jawab Rika enteng sambil menaikkan sebelah kakinya ke kakki yang lainnya.
”Kamu kenapa nggak ngelapor ke polisi sih?” tanya Marissa menyelidik.”Apa kamu tega ngelihat bapakmu di penjara karena ulahmu? Gak akan, Sa..” kali ini ia sambil mencongkel sisa-sisa makanan yang tersangkut di giginya.
”Emm, iya juga sih.. Apa bedanya bapak kamu sama pembunuh? Bapakmu kan yang membunuh ibumu?” Marissa menepuk jidatnya setelah menyelesaikan kata-katanya barusan. Bicaranya tidak pakai dipikir, pasti Rika tersinggung.”Ya, pembunuh sih pembunuh tapi tetap aja gak tega, Sa.. Gimana pun orang tua sendiri..” jawab Rika bijak tanpa melihatkan mimik tidak nyaman sekalipun. Belum lama estela menyelesaikan kata-katanya terdengar kumandang adzan maghrib.
”Yuk!” Rika menarik lengan Marissa keluar.
”Eh, tunggu, Ka. Aku bayar makanan dulu..” lalu Marissa masuk lagi ke dalam warung dan membayar makanan mereka. ”Kita mau kemana?” tanya Marissa masih terengah menyusul Rika yang sudah berpuluh langkah darinya.
”Solat, kamu solat kan?” tanya Rika lalu meninggalkannya yang mematung ke tempat wudhu.
”Iya,” jawab Marissa ragu, diam di tempatnya. Lalu, ” Ya! Aku solat!” jawabnya mantap dan ini lalu dilihatnya Rika tersenyum.Malamnya Marissa kembali ke hotel dengan perasaan tak menentu. Terlintas pikiran buruk takut-takut ayah atau ibunya memaksanya pulang dengan menamparnya. Mobil si sisi surau tadi. Banyak hal yang membuatnya galau malam ini, pikiran seseorang yang dalam pelarian. Ia sampai ke kamarnya dan merebahkan tubuh ke penidurannya.Satu yang benar-benar mengganggunya ketika berpisah tadi, Rika mengatakan sesuatu padanya ’Bicaramu kadang agak susah dimengerti, Marissa. Tapi terkadang juga amat tidak nyaman didengar..’. Ia terlelap.
**
Esoknya, ia terbangun karena layanan telepon hotel di kamarnya berdering. Masih separuh sadar ia mengangkat asal gagang telepon yang terletak di samping tempat tidur,
”Aloo..Huaaaah..” sahutnya seakan tidak peduli.
”Selamat Pagi, Kostumer kamar nomor dua satu enam atas nama Marissa, benar?” terdengar suara manis resepsionis di telinganya.
"Iya, ini Marissa. Ada apa?” tanya Marissa kini sudah duduk di sisi tempat tidur sambil mengucek matanya.
"Ini ada yang mencari, Mbak..” gagang itu bersuara lagi.
"Siapa?” tanyanya heran. Aneh, sudah ke tepian ini masih ada yang mencarinya. Pasti Rika, pikirnya.
”Dua orang perempuan dengan satu orang laki-laki, Mbak.. Siapa, Mas tadi namanya?” tanya resepsionis pada tamu Marissa.
“Raffi, bilang Marissa ada Raffi di bawah.” terdengar suara berat di balik gagang telepon dari bawah, Raffi. Pasti Raffi, duanya lagi Witya dan Kika. Panik, Marissa menjejalkan segala bawaannya masuk ke dalam ransel merah kesayangannya. Dibiarkannya begitu saja gagang telepon menggantung dari badannya. Dipakainya jaket dan sepatu. Hari masih sejuk, masih pukul empat. Dikeluarkannya sejumlah uang untuk di sisi telepon, uang pembayaran sewa hotel satu malamnya.Dasar seorang Marissa adalah jagoan, ia menyusuri tepi dinding jendela kamarnya dan melompat masuk ke sisi lain hotel. Lalu keluarlah ia dari gerbang belakang hotel dengan menahan dingin yang menusuk tubuhnya.
Ia bersedekap menahan dingin dan melanjutkan berlari. Berarti memang mobil mereka yang dilihatnya di sisi surau semalam. Marissa terus berlari dan masuk ke ruangan gelap yang sesak dengan barang-barang dan debu. Ia melanjutkan tidurnya diatas drum di sudut ruangan.Sampai matanya terbuka lagi menyadari hari sudah pagi dan beberapa pasang mata kepala dan tubuh memandang diatasnya. Para pekerja pabrik penyimpanan barang itu. Ribut membicarakannya dan memperhatikannya takjub. Setelah memohon diri dan meminta maaf Marissa keluar dari ruangan itu dengan santai. Ditolehnya ke belakang para pekerja sibuk dengan urusan nya masing-masing, lalu dikejarnya waktu.
Dalam pelariannya ia menertawakan hari keduanya, sungguh bodoh ia tanpa segala yang biasa sudah tersedia. Perlahan-lahan ia menghentikan langkah di dekat warung makan di tepi kali. Diingatnya terakhir makan kemarin bersama Rika. Pantas perutnya terasa lapar sekali. Dipanggilnya penjaga warung itu dan minta dilayani. Kenyang. Marissa melanjutkan pelariannya. Makin jauh ia berjalan, semakin jelas letih yang dirasakannya. Ia hampir menyerah hari ini kalau saja hari itu tidak hujan.
Inilah indahnya rekayasa Tuhan, Marissa ditemukan dengan seorang pedagang ember keliling yang kebetulan juga sedang berteduh di sudut kecil emperan toko. Awalnya mereka hanya saling tersenyum kepada satu sama lain. Sampai akhirnya pedagang itu membuka pembicaraan,
”Mau kemana, Neng?”
”Gak kemana-mana, Pak. Abis jalan-jalan.”
”Si Eneng pergi dari rumah ya? Kenapa neng? Kalau di rumah eneng pasti gak kehujanan gini..” tanyanya tepat pada sasaran. Marissa hanya terdiam. ”Si Eneng bagusan mash pulang ke rumahnya, pasti ibu sama bapaknya nyariin atuh neng..” kata pedagang itu lagi dengan logat Sundanya yang kental.
”Iya, Pak. Saya juga mulai gak betah jauh dari rumah. Ternyata saya butuh mereka.” tunduk Marissa menahan airmatanya. Pedagang itu tersenyum.
”Ichaaaaaaaaaaaaa..’ teriak Kika dari kejauhan berlari dan memeluknya disusul Witya dan Raffi di belakang menadah hujan dengan tangan di atas kepala mereka.
”Ngerasa hebat jadi ‘most wanted’?” Tanya Witya sambil bercekak pinggang. ”Kemana aja?” sambungnya lagi.
”Hehe.. Aku berpetualang, yah gak ekstrim sih tapi banyak pelajarannya..” jawab Marissa membela diri.”Pelajaran apa? PKn? Agama? Ekonomi? Atau apa?” tanya Witya tidak sabaran.
”Ya, ada semuanya tuh yang kamu sebutin. Aku jadi tau gimana caranya ngomong sopan sama orang lain, aku juga udah tau kalau ternyata solat juga penting sama aku juga tau kalo harga ayam mahal, jadi kalau mau makan murah ya tahu tempe aja.” jawab Marissa cengengesan, Katya semakin erat memeluknya. ”Keren kan?” tanyanya kepada tiga lainnya.
”Bodoh!” kali ini Raffi yang bersuara lalu menoyor kesal kepala Marissa yang disambut dengan manyun manja dari bibir Marissa.
”Iish..” sentak Witya pada lengan Raffi menjauhkan tangannya membela Marissa.
”Eh, kok kalian tau aku disini sih?” tanya Marissa lagi.
”Tau dong, kita kan sahabat!” jawab Witya lantas juga memeluk Marissa.
”Eh, udah pelukannya, aku kehujanan..” protes Raffi yang disambut tertawa yang lain karena Raffi memamng benar-benar berdiri langsung di bawah hujan. Tempat sempit tadi otomatis melindungi Witya dan Kika dari hujan karena mereka memeluk Marissa. Tinggallah Raffi kehujanan tanpa ada atap yang melindungi.
”Raffi kenapa? Iri ya? Sini.. Sini..” ejek Marissa membentangkan kedua tangannya seolah mau memeluk.
”Dasar! Maunya!” bisik Witya dan Kika hampir bersamaan di telinganya. Rahasia Marissa yang satu ini memang tersimpan aman bersama pelukan mereka bertiga.Tiba-tiba Marissa melepas pelukannya dan menyeruak berteriak riuh di bawah hujan.
”Ayo! Sini semuanya!” lengkingnya sambil menari-nari di bawah hujan.
”Hey, ngapain disitu? Ntar sakit.” Raffi menarik lengannya. Marissa memberontak.
”Witya, Kika sini! Masa tega sih ngebiarin Raffi kena hujan sendirian?” teriaknya menunjuk Raffi di sampingnya. Witya dan Kika berpandangan. Ekspresi mereka sama-sama menggambarkan penolakan mereka untuk berhujan. ”Katanya sahabat?” teriak Marissa lagi. Kalimat andalan.Menyingsing ransel Marissa, Witya menyusul Kika mengejar Marissa dan Raffi. Tiba-tiba langkah Marissa terhenti. Ia memutar arah larinya ke tempat berteduh tadi.
”Kenapa?” tanya Raffi ikut menoleh.
”Mau ngucapin makasih sama..” ditolehnya ke belakang bapak pedagang tadi sudah tidak ada.
”Siapa?” tanya Witya.
”Emm.. Tadi ada liat bapak-bapak gak disitu sama aku?” tunjuk Marissa ke tempatnya tadi berteduh?
”Nggak, nggak ada siapa-siapa kok daritadi..” jawab Kika.
”Beneran?” tanya Marissa meyakinkan.
”Iya..” jawab ketiganya serempak.
”Waaaaaaa hantuuuuuuu!” kocar kacir mereka semua berlari menuju mobil Raffi.
..to be continued
Sunday, 14 November 2010 at 10:48
nulisbuku, facebook
Berbulan-bulan muak ditahannya hingga Rabu itu ia memutuskan pergi dari rumah. Ingin melepas bebannya, pergi dari segala tekanan yang menderanya.Dengan berbekal uang yang diambilnya di ATM, dia nekat pergi dan berencana menginap di hotel yang terletak di pinggiran kota. Disana memang setengah harga dari hotel-hotel di tengah kota tapi disanalah Marissa mendapat salah satu pelajaran berharga.
Menunggu giliran dipanggil resepsionis, Marissa memandang ke sekelilingnya. Tidak terlalu buruk. Tempatnya bersih dan jauh dari suara bising kendaraan. Dia akan tenang disana, pikirnya. Tidak jauh darinya terlihat seorang gadis seumurannya menangis menggedor-gedor pintu mobil merah yang perlahan maju meninggalkannya duduk sendirian di hall hotel, menangis tersedu memegang perutnya.
”Kenapa, Mbak?” tanya Marissa mendatanginya. Ia masih menangis dan tidak menggubris Marissa.”Mbak..?” panggil Marissa lagi lalu menengok ke depan wajahnya.
”Saya belum makan, Mbak..” masih memegang perutnya meringis, ”Itu yang ada di dalam mobil tadi Ayah saya... Saya..” ia terlihat seperti tidak sanggup melanjutkan ceritanya lalu terus menangis. Marissa iba melihatnya. Mereka sama-sama sebatang kara saat ini yang berbeda hanyalah Marissa membawa serta sejumlah uang di sakunya.
”Mbak, kamarnya sudah siap.. Apakah mau sekalian dibawakan ke atas barang-barangnya?” resepsionis yang sibuk tadi lalu menyusulnya ke hall.”Iya, Mbak.. Sekalian aja dibawa ke atas.. Kuncinya saya tinggal di resepsionis aja ya? Saya ada urusan sebentar..” pamit Marissa lalu menggandeng gadis yang menangis tadi pergi. Marissa membawanya ke warung nasi di sekitar hotel dan mereka saling membagi cerita disana. Gadis itu bernama Rika. Rika bercerita bahwa ia pergi dari rumah dan tadi bertemu ayahnya. Ia ditampar habis-habisan karena menolak diajak pulang. Lain Marissa, lain Rika. Rika pergi dari rumah karena ia ingin fipergi dari ayahnya yang tempramen. Bahkan ia bercerita beberapa bulan yang lalu ibunya meninggal di tangan ayahnya sendiri, sungguh tragis.
”Wajarlah alasan kamu, Ka.” kata Marissa menyelesaikan kunyahan sambil menyeruput es tehnya.
”Iya, wajar. Menghindarkan Bapak dari dosa karena membunuhku.” jawab Rika enteng sambil menaikkan sebelah kakinya ke kakki yang lainnya.
”Kamu kenapa nggak ngelapor ke polisi sih?” tanya Marissa menyelidik.”Apa kamu tega ngelihat bapakmu di penjara karena ulahmu? Gak akan, Sa..” kali ini ia sambil mencongkel sisa-sisa makanan yang tersangkut di giginya.
”Emm, iya juga sih.. Apa bedanya bapak kamu sama pembunuh? Bapakmu kan yang membunuh ibumu?” Marissa menepuk jidatnya setelah menyelesaikan kata-katanya barusan. Bicaranya tidak pakai dipikir, pasti Rika tersinggung.”Ya, pembunuh sih pembunuh tapi tetap aja gak tega, Sa.. Gimana pun orang tua sendiri..” jawab Rika bijak tanpa melihatkan mimik tidak nyaman sekalipun. Belum lama estela menyelesaikan kata-katanya terdengar kumandang adzan maghrib.
”Yuk!” Rika menarik lengan Marissa keluar.
”Eh, tunggu, Ka. Aku bayar makanan dulu..” lalu Marissa masuk lagi ke dalam warung dan membayar makanan mereka. ”Kita mau kemana?” tanya Marissa masih terengah menyusul Rika yang sudah berpuluh langkah darinya.
”Solat, kamu solat kan?” tanya Rika lalu meninggalkannya yang mematung ke tempat wudhu.
”Iya,” jawab Marissa ragu, diam di tempatnya. Lalu, ” Ya! Aku solat!” jawabnya mantap dan ini lalu dilihatnya Rika tersenyum.Malamnya Marissa kembali ke hotel dengan perasaan tak menentu. Terlintas pikiran buruk takut-takut ayah atau ibunya memaksanya pulang dengan menamparnya. Mobil si sisi surau tadi. Banyak hal yang membuatnya galau malam ini, pikiran seseorang yang dalam pelarian. Ia sampai ke kamarnya dan merebahkan tubuh ke penidurannya.Satu yang benar-benar mengganggunya ketika berpisah tadi, Rika mengatakan sesuatu padanya ’Bicaramu kadang agak susah dimengerti, Marissa. Tapi terkadang juga amat tidak nyaman didengar..’. Ia terlelap.
**
Esoknya, ia terbangun karena layanan telepon hotel di kamarnya berdering. Masih separuh sadar ia mengangkat asal gagang telepon yang terletak di samping tempat tidur,
”Aloo..Huaaaah..” sahutnya seakan tidak peduli.
”Selamat Pagi, Kostumer kamar nomor dua satu enam atas nama Marissa, benar?” terdengar suara manis resepsionis di telinganya.
"Iya, ini Marissa. Ada apa?” tanya Marissa kini sudah duduk di sisi tempat tidur sambil mengucek matanya.
"Ini ada yang mencari, Mbak..” gagang itu bersuara lagi.
"Siapa?” tanyanya heran. Aneh, sudah ke tepian ini masih ada yang mencarinya. Pasti Rika, pikirnya.
”Dua orang perempuan dengan satu orang laki-laki, Mbak.. Siapa, Mas tadi namanya?” tanya resepsionis pada tamu Marissa.
“Raffi, bilang Marissa ada Raffi di bawah.” terdengar suara berat di balik gagang telepon dari bawah, Raffi. Pasti Raffi, duanya lagi Witya dan Kika. Panik, Marissa menjejalkan segala bawaannya masuk ke dalam ransel merah kesayangannya. Dibiarkannya begitu saja gagang telepon menggantung dari badannya. Dipakainya jaket dan sepatu. Hari masih sejuk, masih pukul empat. Dikeluarkannya sejumlah uang untuk di sisi telepon, uang pembayaran sewa hotel satu malamnya.Dasar seorang Marissa adalah jagoan, ia menyusuri tepi dinding jendela kamarnya dan melompat masuk ke sisi lain hotel. Lalu keluarlah ia dari gerbang belakang hotel dengan menahan dingin yang menusuk tubuhnya.
Ia bersedekap menahan dingin dan melanjutkan berlari. Berarti memang mobil mereka yang dilihatnya di sisi surau semalam. Marissa terus berlari dan masuk ke ruangan gelap yang sesak dengan barang-barang dan debu. Ia melanjutkan tidurnya diatas drum di sudut ruangan.Sampai matanya terbuka lagi menyadari hari sudah pagi dan beberapa pasang mata kepala dan tubuh memandang diatasnya. Para pekerja pabrik penyimpanan barang itu. Ribut membicarakannya dan memperhatikannya takjub. Setelah memohon diri dan meminta maaf Marissa keluar dari ruangan itu dengan santai. Ditolehnya ke belakang para pekerja sibuk dengan urusan nya masing-masing, lalu dikejarnya waktu.
Dalam pelariannya ia menertawakan hari keduanya, sungguh bodoh ia tanpa segala yang biasa sudah tersedia. Perlahan-lahan ia menghentikan langkah di dekat warung makan di tepi kali. Diingatnya terakhir makan kemarin bersama Rika. Pantas perutnya terasa lapar sekali. Dipanggilnya penjaga warung itu dan minta dilayani. Kenyang. Marissa melanjutkan pelariannya. Makin jauh ia berjalan, semakin jelas letih yang dirasakannya. Ia hampir menyerah hari ini kalau saja hari itu tidak hujan.
Inilah indahnya rekayasa Tuhan, Marissa ditemukan dengan seorang pedagang ember keliling yang kebetulan juga sedang berteduh di sudut kecil emperan toko. Awalnya mereka hanya saling tersenyum kepada satu sama lain. Sampai akhirnya pedagang itu membuka pembicaraan,
”Mau kemana, Neng?”
”Gak kemana-mana, Pak. Abis jalan-jalan.”
”Si Eneng pergi dari rumah ya? Kenapa neng? Kalau di rumah eneng pasti gak kehujanan gini..” tanyanya tepat pada sasaran. Marissa hanya terdiam. ”Si Eneng bagusan mash pulang ke rumahnya, pasti ibu sama bapaknya nyariin atuh neng..” kata pedagang itu lagi dengan logat Sundanya yang kental.
”Iya, Pak. Saya juga mulai gak betah jauh dari rumah. Ternyata saya butuh mereka.” tunduk Marissa menahan airmatanya. Pedagang itu tersenyum.
”Ichaaaaaaaaaaaaa..’ teriak Kika dari kejauhan berlari dan memeluknya disusul Witya dan Raffi di belakang menadah hujan dengan tangan di atas kepala mereka.
”Ngerasa hebat jadi ‘most wanted’?” Tanya Witya sambil bercekak pinggang. ”Kemana aja?” sambungnya lagi.
”Hehe.. Aku berpetualang, yah gak ekstrim sih tapi banyak pelajarannya..” jawab Marissa membela diri.”Pelajaran apa? PKn? Agama? Ekonomi? Atau apa?” tanya Witya tidak sabaran.
”Ya, ada semuanya tuh yang kamu sebutin. Aku jadi tau gimana caranya ngomong sopan sama orang lain, aku juga udah tau kalau ternyata solat juga penting sama aku juga tau kalo harga ayam mahal, jadi kalau mau makan murah ya tahu tempe aja.” jawab Marissa cengengesan, Katya semakin erat memeluknya. ”Keren kan?” tanyanya kepada tiga lainnya.
”Bodoh!” kali ini Raffi yang bersuara lalu menoyor kesal kepala Marissa yang disambut dengan manyun manja dari bibir Marissa.
”Iish..” sentak Witya pada lengan Raffi menjauhkan tangannya membela Marissa.
”Eh, kok kalian tau aku disini sih?” tanya Marissa lagi.
”Tau dong, kita kan sahabat!” jawab Witya lantas juga memeluk Marissa.
”Eh, udah pelukannya, aku kehujanan..” protes Raffi yang disambut tertawa yang lain karena Raffi memamng benar-benar berdiri langsung di bawah hujan. Tempat sempit tadi otomatis melindungi Witya dan Kika dari hujan karena mereka memeluk Marissa. Tinggallah Raffi kehujanan tanpa ada atap yang melindungi.
”Raffi kenapa? Iri ya? Sini.. Sini..” ejek Marissa membentangkan kedua tangannya seolah mau memeluk.
”Dasar! Maunya!” bisik Witya dan Kika hampir bersamaan di telinganya. Rahasia Marissa yang satu ini memang tersimpan aman bersama pelukan mereka bertiga.Tiba-tiba Marissa melepas pelukannya dan menyeruak berteriak riuh di bawah hujan.
”Ayo! Sini semuanya!” lengkingnya sambil menari-nari di bawah hujan.
”Hey, ngapain disitu? Ntar sakit.” Raffi menarik lengannya. Marissa memberontak.
”Witya, Kika sini! Masa tega sih ngebiarin Raffi kena hujan sendirian?” teriaknya menunjuk Raffi di sampingnya. Witya dan Kika berpandangan. Ekspresi mereka sama-sama menggambarkan penolakan mereka untuk berhujan. ”Katanya sahabat?” teriak Marissa lagi. Kalimat andalan.Menyingsing ransel Marissa, Witya menyusul Kika mengejar Marissa dan Raffi. Tiba-tiba langkah Marissa terhenti. Ia memutar arah larinya ke tempat berteduh tadi.
”Kenapa?” tanya Raffi ikut menoleh.
”Mau ngucapin makasih sama..” ditolehnya ke belakang bapak pedagang tadi sudah tidak ada.
”Siapa?” tanya Witya.
”Emm.. Tadi ada liat bapak-bapak gak disitu sama aku?” tunjuk Marissa ke tempatnya tadi berteduh?
”Nggak, nggak ada siapa-siapa kok daritadi..” jawab Kika.
”Beneran?” tanya Marissa meyakinkan.
”Iya..” jawab ketiganya serempak.
”Waaaaaaa hantuuuuuuu!” kocar kacir mereka semua berlari menuju mobil Raffi.
..to be continued
Sunday, 14 November 2010 at 10:48
nulisbuku, facebook
Sajak Cinta Alya
Bagiku tidak masalah bagian siapa yang muncul duluan. Bagian siapa yang tertulis lebih dahulu. Toh, kita tetap dalam satu cerita bukan? Hanya tidak akan merubah apa-apa. jika memang ditakdirkan bahagia, bahagialah. Jika ditakdirkan sengsara, semoga kita tetap dapat berbahagia di dalamnya.
"Yuk, pulang.." ajak Fahri menyentuh pundakku.
"Tapi Fahri.."
"Ah yuk ah, daripada nulis-nulis gak jelas gitu di buku?" tunjuk dagunya kearah sajakku di sampul buku matematika.
"Ahh Fahri ngintip!" kataku lalu memukul lengannya dengan buku yang kupegang, ia kabur berlari ke arah parkiran. Kumasukan buku ke dalam tas dan bergegas mengejarnya ke parkiran. "Fahri!! Tunggu pembalasanku.." teriakku dari jauh yang ditanggapi dengan ejekan di wajahnya yang semakin menjadi. Bagian ini yang aku suka. Bagian aku yang selalu mencintainya.
facebook, Dec 7th 2010
"Yuk, pulang.." ajak Fahri menyentuh pundakku.
"Tapi Fahri.."
"Ah yuk ah, daripada nulis-nulis gak jelas gitu di buku?" tunjuk dagunya kearah sajakku di sampul buku matematika.
"Ahh Fahri ngintip!" kataku lalu memukul lengannya dengan buku yang kupegang, ia kabur berlari ke arah parkiran. Kumasukan buku ke dalam tas dan bergegas mengejarnya ke parkiran. "Fahri!! Tunggu pembalasanku.." teriakku dari jauh yang ditanggapi dengan ejekan di wajahnya yang semakin menjadi. Bagian ini yang aku suka. Bagian aku yang selalu mencintainya.
facebook, Dec 7th 2010
Sunday, March 27, 2011
hari keempat uas
Hari ini, setelah tadi malam gak bisa bangun dari tempat tidur, ngerayau sama westi ke;
1. Dunkin donuts
2. Pizza Hut
3. Rumah Bersalin Harapan Bunda
Haha ngapain ke RB? Kak Ici melahirkan.
Trus setelah numpang p*p, belajar buat UAS TIK besoknya, makan donat, kita pulang :D
Intinya sih tekor ya hari ini wkwk
1. Dunkin donuts
2. Pizza Hut
3. Rumah Bersalin Harapan Bunda
Haha ngapain ke RB? Kak Ici melahirkan.
Trus setelah numpang p*p, belajar buat UAS TIK besoknya, makan donat, kita pulang :D
Intinya sih tekor ya hari ini wkwk
Saturday, March 26, 2011
random
Happy 15th monthsarry, Westi sama Rudi pacarnya. Semoga benaran bisa langgeng sampai selama-lamanya :3
Sekamat hidup dengan banyak teman juga buat aku, semoga selama-lamanya punya teman-teman.
In fact, aku udah gak terlalu ngebet nikah.. Gak tau kenapa. Mungkin pengaruh mau UAN ini juga kali ya? Kuliah bla bla bla bla dan sebagainya. Ntar juga akhirnya kepikiran kesitu lagi ah.
Hmm, aku ngerasa flat akhir-akhir ini. Gitu-gitu aja. Malah bagus sih jarang badmood tapi ya gitu deh jadi ngeraaa flat gini. Maunya ada heels sedikit, loh ngomongin sepatu? Maksudnya ada apanya gitu. Aku kan menghindar dari keramaian akhir-akhir ini, itulah kali ya penyebabnya. Makanya suka ngerasa sepi? Tapi aku mulai biasa kok. Toh teman-teman atau pun siapapun lagi sibuk sama dirinya sendiri pas saat-saat gini. Aku sih gak bisa marah atau maksa mereka buat ada. Kalau memang jodoh maksudnya benar-benar baik pengen temanan sama aku ya mereka balik lagi kok :')
Aku sayang sama teman-teman aku.
H-23 menjelang UAN.
Ayu.
Sekamat hidup dengan banyak teman juga buat aku, semoga selama-lamanya punya teman-teman.
In fact, aku udah gak terlalu ngebet nikah.. Gak tau kenapa. Mungkin pengaruh mau UAN ini juga kali ya? Kuliah bla bla bla bla dan sebagainya. Ntar juga akhirnya kepikiran kesitu lagi ah.
Hmm, aku ngerasa flat akhir-akhir ini. Gitu-gitu aja. Malah bagus sih jarang badmood tapi ya gitu deh jadi ngeraaa flat gini. Maunya ada heels sedikit, loh ngomongin sepatu? Maksudnya ada apanya gitu. Aku kan menghindar dari keramaian akhir-akhir ini, itulah kali ya penyebabnya. Makanya suka ngerasa sepi? Tapi aku mulai biasa kok. Toh teman-teman atau pun siapapun lagi sibuk sama dirinya sendiri pas saat-saat gini. Aku sih gak bisa marah atau maksa mereka buat ada. Kalau memang jodoh maksudnya benar-benar baik pengen temanan sama aku ya mereka balik lagi kok :')
Aku sayang sama teman-teman aku.
H-23 menjelang UAN.
Ayu.
Alyami
"Hey!" sapa Almi menepuk pundak Alya yang sedang duduk di teras depan kelas.
"Hmm.." sahutnya tanpa menoleh.
"Ngeliat apaan sih? Seru amat?" selidik Almi melihat lurus tatapan Alya lalu menoleh ke arahnya. "Loh? Loh? Kamu nangis lagi, Ya?" teguran Almi barusan tak digubris Alya. Air matanya makin tak terbendung. Senggukan Alya menangis tanpa suara. Almi yang salah tingkah melihat sahabatnya merangkul Alya lalu duduk di hadapannya. "Kenapa, Ya? Cerita ya?" bujuk Almi.
"Hmm.." Alya mengangguk dengan suara bergetar menahan tangis sambil mengatur nafasnya. "Fahri, Al.." akhirnya Alya bersuara.
"Fahri lagi? Oke, kenapa dia?" tanya Almi mulai terpancing emosinya.
"Kamu jangan marah-marah nanggepinnya. Aku gak jadi cerita nih."
"Iya, iya. Fahri kenapa, sayang?" tanya Almi lembut seraya membelai lembut rambut Alya.
"Dia jahat!"
"Emang jahat kan? Trus?"
"Tuh kan, Almiiiiii! Fahri gak jahat!" sontak suara Alya mengeras dan dengan segera teredam oleh bekapan tangan Almi. Setelah adanya tolehan dari beberapa yang juga duduk di sekitar melihat ke sumber suara yang ditanggapi dengan senyum permohonan maaf dari Almi.
"Woy, gak pake teriak-teriak bisa kan? Diliatin tuh." kata Almi mengingatkan.
"Abisnya tadi kamu bilang Fahri jahat." bela Alya.
"Loh? Tadi yang duluan bilang Fahri jahat siapa ya?" tatap Almi sinis.
"Iya, aku, tapi cuma aku yang boleh bilang Fahri jahat.." rengek Alya.
"Iya deh, terserah. Emang si Fahri itu kenapa lagi sih?"
"Dia jahat.."
"Hmm.."
"Dia gak mau ngantar aku pulang.."
"Hmm.."
"Tapi dia sempat pergi sama Derby.."
"Hmm.."
"Malemnya dia ke rumah aku sih.."
"Hmm.."
"Kalo males sama aku males aja, Al. Gak usah datang-datang ke rumah segala.."
"Hmm.."
"Kamu ham hem ham hem daritadi.. Respon kenapa?"
"Mau direspon apa coba?" tanya Almi balik bertanya.
"Why did he supposed to do that?"
"Hmm.." mata Alya membelalak mendengar gumaman Almi. Lalu dijawab Almi dengan tangan ke depan dadanya, tanda ia meminta waktu sejenak. "Gini loh, Ya.. Fahri itu kan pacar kamu. Wajar dia datang ke rumah kamu, mastiin gimana keadaan kamu. Daripada dia bimbang gak jelas, mending dia ngeliat langsung kan?"
"Khawatir gitu?"
"Exactly!"
"Kenapa gak ngantar aku pulang aja sih pas aku benar-benar butuh dan pengen banget diantar pulang sama dia? Emangnya dia gak khawatir aku kenapa napa di sekolah? Dia baru khawatir setelah aku beneran gak ngasi kabar gitu?"
"Pikir positif deh, Ya. Bisa aja dia emang lagi ada keperluan apa gitu jadi buru-buru trus gak sempat nganter kamu.."
"Oke pikir positif.. Kenapa dia gak bilang aja sih sama aku alasan sebenarnya? Kalo gini aku mikirnya kemana mana, Al.."
"Ya gak tau juga.."
"Tuh kan, gimana aku bisa mikir positif, Al?"
"Iya pelan-pelan, Ya. Kamu kan juga udah tau Fahri itu gimana, ya kan? Dia sayang cuma gak bisa nunjukin, Ya. Percaya deh sama aku."
"Dia gak sayang sama aku, Al."
"Hah?"
"Dia suka sama cewek lain apa ya?"
"Gak lah.."
"Hmmm.."
"Iya, nggak. Udah ah, aku mulai ngawur deh ah."
"Emang kok, kalo badmood kamu suka ngawur. Weeek.." ejek Almi.
"Ahh resek." secara refeks tangan Alya terdekat menjambak rambut sepunggung Almi lalu berlari menghindar ke dalam kelas.
"Ahhhh.." teriak Almi kesal mengejar Alya untuk membalas perbuatan isengnya tersebut.
"Hmm.." sahutnya tanpa menoleh.
"Ngeliat apaan sih? Seru amat?" selidik Almi melihat lurus tatapan Alya lalu menoleh ke arahnya. "Loh? Loh? Kamu nangis lagi, Ya?" teguran Almi barusan tak digubris Alya. Air matanya makin tak terbendung. Senggukan Alya menangis tanpa suara. Almi yang salah tingkah melihat sahabatnya merangkul Alya lalu duduk di hadapannya. "Kenapa, Ya? Cerita ya?" bujuk Almi.
"Hmm.." Alya mengangguk dengan suara bergetar menahan tangis sambil mengatur nafasnya. "Fahri, Al.." akhirnya Alya bersuara.
"Fahri lagi? Oke, kenapa dia?" tanya Almi mulai terpancing emosinya.
"Kamu jangan marah-marah nanggepinnya. Aku gak jadi cerita nih."
"Iya, iya. Fahri kenapa, sayang?" tanya Almi lembut seraya membelai lembut rambut Alya.
"Dia jahat!"
"Emang jahat kan? Trus?"
"Tuh kan, Almiiiiii! Fahri gak jahat!" sontak suara Alya mengeras dan dengan segera teredam oleh bekapan tangan Almi. Setelah adanya tolehan dari beberapa yang juga duduk di sekitar melihat ke sumber suara yang ditanggapi dengan senyum permohonan maaf dari Almi.
"Woy, gak pake teriak-teriak bisa kan? Diliatin tuh." kata Almi mengingatkan.
"Abisnya tadi kamu bilang Fahri jahat." bela Alya.
"Loh? Tadi yang duluan bilang Fahri jahat siapa ya?" tatap Almi sinis.
"Iya, aku, tapi cuma aku yang boleh bilang Fahri jahat.." rengek Alya.
"Iya deh, terserah. Emang si Fahri itu kenapa lagi sih?"
"Dia jahat.."
"Hmm.."
"Dia gak mau ngantar aku pulang.."
"Hmm.."
"Tapi dia sempat pergi sama Derby.."
"Hmm.."
"Malemnya dia ke rumah aku sih.."
"Hmm.."
"Kalo males sama aku males aja, Al. Gak usah datang-datang ke rumah segala.."
"Hmm.."
"Kamu ham hem ham hem daritadi.. Respon kenapa?"
"Mau direspon apa coba?" tanya Almi balik bertanya.
"Why did he supposed to do that?"
"Hmm.." mata Alya membelalak mendengar gumaman Almi. Lalu dijawab Almi dengan tangan ke depan dadanya, tanda ia meminta waktu sejenak. "Gini loh, Ya.. Fahri itu kan pacar kamu. Wajar dia datang ke rumah kamu, mastiin gimana keadaan kamu. Daripada dia bimbang gak jelas, mending dia ngeliat langsung kan?"
"Khawatir gitu?"
"Exactly!"
"Kenapa gak ngantar aku pulang aja sih pas aku benar-benar butuh dan pengen banget diantar pulang sama dia? Emangnya dia gak khawatir aku kenapa napa di sekolah? Dia baru khawatir setelah aku beneran gak ngasi kabar gitu?"
"Pikir positif deh, Ya. Bisa aja dia emang lagi ada keperluan apa gitu jadi buru-buru trus gak sempat nganter kamu.."
"Oke pikir positif.. Kenapa dia gak bilang aja sih sama aku alasan sebenarnya? Kalo gini aku mikirnya kemana mana, Al.."
"Ya gak tau juga.."
"Tuh kan, gimana aku bisa mikir positif, Al?"
"Iya pelan-pelan, Ya. Kamu kan juga udah tau Fahri itu gimana, ya kan? Dia sayang cuma gak bisa nunjukin, Ya. Percaya deh sama aku."
"Dia gak sayang sama aku, Al."
"Hah?"
"Dia suka sama cewek lain apa ya?"
"Gak lah.."
"Hmmm.."
"Iya, nggak. Udah ah, aku mulai ngawur deh ah."
"Emang kok, kalo badmood kamu suka ngawur. Weeek.." ejek Almi.
"Ahh resek." secara refeks tangan Alya terdekat menjambak rambut sepunggung Almi lalu berlari menghindar ke dalam kelas.
"Ahhhh.." teriak Almi kesal mengejar Alya untuk membalas perbuatan isengnya tersebut.
Friday, March 25, 2011
carita el lunn
Aku sedih lagi sore ini. Menangisi kekasih yang sudah mati. Percuma? Ya, tentu saja. Toh, udah gak bakal ada dia lagi.
"Dia udah mati, Yu!" Berkali-kali aku meneriakkan kalimat penyadar itu di depan wajahku. Tapi masih saja aku tak kuasa menahan rindu padanya.
Seolah berharap sewaktu-waktu ia akan mengetuk pintu, datang memelukku rindu di bawah hujan.
Berharap jika suatu kali aku mengirim pesan singkat ke ponselnya, dia datang membawakan makanan lalu menyuapiku.
Berharap jika aku sedang gundah, galau terbawa perasaan takut ditinggal sendirian dia hadir membawa senang, menghadirkan senyum cerianya.
Menyemangatiku, menghidupkanku.
Walau dia sudah tak lagi ada, aku masih saja mencari. Siapa tau ada sosoknya pada yang lain. Tidak ada, ya tepatnya belum ada sejauh ini.
Hmm, kenapa Tuhan ngambil dia begitu cepat? Kenapa Tuhan gak ngebiarin aku bisa lebih lama sama dia? Setidaknya sampai waktu aku siap ditinggal. Gak akan ada waktu siapnya kali ya kalau nunggu siap?
Kadang sempat terlintas pikiran pengen jadi laki-laki supaya bisa berpikir rasional seperti mereka. Mereka tak terbawa perasaan seperti aku sekarang.
Kekasihku sudah lama sekali perginya. Terakhir bertemu awal Januari lalu, selebihnya aku mendapatinya mati, meninggalkan bekas robekan halus di katup jantungku. Begitu halusnya, sampai-sampai harus sering terluka ketika tersentuh, lagi dan terus-terusan entah sampai kapan.
Awalnya aku berpikiran rasanya akan sama saja dengan ditinggal putus cinta atau dikhianati seperti yang sudah-sudah. Tetapi ternyata tidak. Rasanya jauh lebih menusuk, karena sesungguhnya aku jauh lebih tidak siap ditinggal tanpa kembali.
Berkaca dari yang sebelumnya walaupun mereka pergi, mereka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka masih berbagi udara denganku, berbagi space kehidupan bersamaku. Jika sesekali sesak rindu menghampiri aku masih bisa, misalnya sekedar memandangi.
Bagaimana aku?
Ya, masih saja melakukan hal-hal bodoh yang tak pernah kuceritakan pada siapapun karena hanya akan mendapat kecaman jika mereka tau.
Aku membuat beberapa space dimana aku bisa berbicara lepas tanpa ada seorang pun yang memperdulikanku, pembicaraanku tentangnya.
My another twitter account.
Aku hanya tidak ingin membagi jejak jeleknya secara rinci menurut setiap sudut pandangku di mata para followers. Cukup aku yang tau dan tidak ada yang sakit ketika membacanya. Karena jujur saja aku merasa sedih dan kasihan jika ada seorang di timeline yang berujar seperti yang aku coba sembunyikan. Tapi mereka hebat, mereka tidak berusaha menyembunyikan kesedihan. Lain mereka lain aku, aku juga dengan pertimbangan menjaga nama baiknya. Aku juga bukannya butuh dikasihani. Aku hanya akan merasa tidak nyaman hati jika mereka menjatuhkan nilai negatif tentangnya, sedang hanya aku sendiri yang merasa ia demikian. Aku dan marahku. Aku dan cemburuku. Aku dan segala keegoisan dan kekanakanku. Aku sembunyikan hanya untuk aku agar tak seorang pun tahu kecuali kita. Sekarang rahasia itu rapat tak berjejak di bawah tanah bersama nisan batunya.
Bersama kedua sahabat perempuanku, mereka tau aku. Hanya bersama mereka aku pernah melepaskan tawa. Kau bisa menanyai mereka jika aku tak lagi ada. Mereka bisa dipercaya.
Aku tidak tau apa maksud Tuhan mengambil orang yang aku sayangi dengan sangat. Tepatnya satu persatu dari mereka diambil dengan pasti dan tidak untukku lagi. Tetapi aku tetap meyakini secara pasti, suatu hari nanti Tuhan pasti akan mengganti dengan sosok-sosok yang lebih tak tergantikan, pasti!
"Dia udah mati, Yu!" Berkali-kali aku meneriakkan kalimat penyadar itu di depan wajahku. Tapi masih saja aku tak kuasa menahan rindu padanya.
Seolah berharap sewaktu-waktu ia akan mengetuk pintu, datang memelukku rindu di bawah hujan.
Berharap jika suatu kali aku mengirim pesan singkat ke ponselnya, dia datang membawakan makanan lalu menyuapiku.
Berharap jika aku sedang gundah, galau terbawa perasaan takut ditinggal sendirian dia hadir membawa senang, menghadirkan senyum cerianya.
Menyemangatiku, menghidupkanku.
Walau dia sudah tak lagi ada, aku masih saja mencari. Siapa tau ada sosoknya pada yang lain. Tidak ada, ya tepatnya belum ada sejauh ini.
Hmm, kenapa Tuhan ngambil dia begitu cepat? Kenapa Tuhan gak ngebiarin aku bisa lebih lama sama dia? Setidaknya sampai waktu aku siap ditinggal. Gak akan ada waktu siapnya kali ya kalau nunggu siap?
Kadang sempat terlintas pikiran pengen jadi laki-laki supaya bisa berpikir rasional seperti mereka. Mereka tak terbawa perasaan seperti aku sekarang.
Kekasihku sudah lama sekali perginya. Terakhir bertemu awal Januari lalu, selebihnya aku mendapatinya mati, meninggalkan bekas robekan halus di katup jantungku. Begitu halusnya, sampai-sampai harus sering terluka ketika tersentuh, lagi dan terus-terusan entah sampai kapan.
Awalnya aku berpikiran rasanya akan sama saja dengan ditinggal putus cinta atau dikhianati seperti yang sudah-sudah. Tetapi ternyata tidak. Rasanya jauh lebih menusuk, karena sesungguhnya aku jauh lebih tidak siap ditinggal tanpa kembali.
Berkaca dari yang sebelumnya walaupun mereka pergi, mereka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka masih berbagi udara denganku, berbagi space kehidupan bersamaku. Jika sesekali sesak rindu menghampiri aku masih bisa, misalnya sekedar memandangi.
Bagaimana aku?
Ya, masih saja melakukan hal-hal bodoh yang tak pernah kuceritakan pada siapapun karena hanya akan mendapat kecaman jika mereka tau.
Aku membuat beberapa space dimana aku bisa berbicara lepas tanpa ada seorang pun yang memperdulikanku, pembicaraanku tentangnya.
My another twitter account.
Aku hanya tidak ingin membagi jejak jeleknya secara rinci menurut setiap sudut pandangku di mata para followers. Cukup aku yang tau dan tidak ada yang sakit ketika membacanya.
Bersama kedua sahabat perempuanku, mereka tau aku. Hanya bersama mereka aku pernah melepaskan tawa. Kau bisa menanyai mereka jika aku tak lagi ada. Mereka bisa dipercaya.
Aku tidak tau apa maksud Tuhan mengambil orang yang aku sayangi dengan sangat. Tepatnya satu persatu dari mereka diambil dengan pasti dan tidak untukku lagi. Tetapi aku tetap meyakini secara pasti, suatu hari nanti Tuhan pasti akan mengganti dengan sosok-sosok yang lebih tak tergantikan, pasti!
Tuesday, March 22, 2011
Cinta Takkan Salah (Ost Love In Perth) lyrics
Ku kira benar, kau kira salah
Cinta berbeda kita tak sama
Tak pernah searah
Ku bilang iya, kau bilang tidak
Selalu begitu tak pernah setuju
Tak pernah menyatu
Namun ternyata tak pernah ku kira
Di sini kita memulai cerita
Perbedaan jadi tidak berarti
Karena hati telah memilih
Di mataku kita berdua satu
Apapun yang mengganggu
Cinta takkan salah
Ku ingin yang ini, ku ingin yang lain
Coba ‘tuk mengerti, coba ‘tuk pahami
Saling melengkapi
Kini ternyata tak pernah ku kira
Di sini kita memulai cerita
:)
Cinta berbeda kita tak sama
Tak pernah searah
Ku bilang iya, kau bilang tidak
Selalu begitu tak pernah setuju
Tak pernah menyatu
Namun ternyata tak pernah ku kira
Di sini kita memulai cerita
Perbedaan jadi tidak berarti
Karena hati telah memilih
Di mataku kita berdua satu
Apapun yang mengganggu
Cinta takkan salah
Ku ingin yang ini, ku ingin yang lain
Coba ‘tuk mengerti, coba ‘tuk pahami
Saling melengkapi
Kini ternyata tak pernah ku kira
Di sini kita memulai cerita
:)
Two Is Better Than One lyrics
Featuring: Taylor Swift
I remember what you wore on the first day
You came into my life and I thought, hey
You know this could be something
'Cause everything you do and words you say
You know that it all takes my breath away
And now I'm left with nothing
So maybe it's true
That I can't live without you
And maybe two is better than one
But there's so much time
To figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone
And I'm thinking two is better than one
I remember every look upon your face
The way you roll your eyes, the way you say
You make it hard for breathing
'Cause when I close my eyes and drift away
I think of you and everything's okay
I'm finally now believing
That maybe it's true
That I can't live without you
And maybe two is better than one
But there's so much time
To figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone
And I'm thinking two is better than one
I remember what you wore on the first day
You came into my life and I thought, hey
Maybe it's true
That I can't live without you
And maybe two is better than one
There's so much time
To figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone
And I'm thinking, ooh
I can't live without you
'Cause baby, two
Is better than one
There's so much time
To figure out the rest of my life
But I figured out with all that's said and done
Two is better than one
Two is better than one
:)
I remember what you wore on the first day
You came into my life and I thought, hey
You know this could be something
'Cause everything you do and words you say
You know that it all takes my breath away
And now I'm left with nothing
So maybe it's true
That I can't live without you
And maybe two is better than one
But there's so much time
To figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone
And I'm thinking two is better than one
I remember every look upon your face
The way you roll your eyes, the way you say
You make it hard for breathing
'Cause when I close my eyes and drift away
I think of you and everything's okay
I'm finally now believing
That maybe it's true
That I can't live without you
And maybe two is better than one
But there's so much time
To figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone
And I'm thinking two is better than one
I remember what you wore on the first day
You came into my life and I thought, hey
Maybe it's true
That I can't live without you
And maybe two is better than one
There's so much time
To figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone
And I'm thinking, ooh
I can't live without you
'Cause baby, two
Is better than one
There's so much time
To figure out the rest of my life
But I figured out with all that's said and done
Two is better than one
Two is better than one
:)
Monday, March 21, 2011
hmmmm
21 Maret 2011
22:03
Hmmm.
Hmmmm..
Hmmmmm...
Hari ini hari pertama ujian sekolah. Bahasa Indonesia, Fisika. Lumayan puyeng lah walaupun bisa juga ngerjainnya, alhamdulillah.
Hmmmm.
Hmmmmm..
Hmmmmmm...
Tadi ketiduran, eh beneran tidur maksudnya dari jam 2an gitu sampe jam 8 :o
Gak sadar sama sekali. Bangun-bangun ayah udah gak ada :(
Tadinya pusing banget, makanya tidur. Trus sebenarnya ada jadwal tambahan di tempat bimbingan belajar. Berhubung hujan dan tiba-tiba pusing aku mendingan tidur trus belajar sendiri malamnya.
Sebenarnya agak malas les juga karena gak pasti kelasnya gabung apa gak IPAnya. Aku sih ogah gabung sama kelas lain. Yang ada ya buat dosa sama memperjelek mood aja. Huehehe
Sebenarnya sih rugi soalnya aku juga bayar, tapi.....
Hmmm.
Hmmmm..
Hmmmmm...
Aku rindu.
Entah ada tidak pengaruhnya, konsentrasi dan merindumu adalah hal yang bertolak menurutku. Dan, sekarang aku merindu.
Merindu kamu.
Iya, kamu!
22:03
Hmmm.
Hmmmm..
Hmmmmm...
Hari ini hari pertama ujian sekolah. Bahasa Indonesia, Fisika. Lumayan puyeng lah walaupun bisa juga ngerjainnya, alhamdulillah.
Hmmmm.
Hmmmmm..
Hmmmmmm...
Tadi ketiduran, eh beneran tidur maksudnya dari jam 2an gitu sampe jam 8 :o
Gak sadar sama sekali. Bangun-bangun ayah udah gak ada :(
Tadinya pusing banget, makanya tidur. Trus sebenarnya ada jadwal tambahan di tempat bimbingan belajar. Berhubung hujan dan tiba-tiba pusing aku mendingan tidur trus belajar sendiri malamnya.
Sebenarnya agak malas les juga karena gak pasti kelasnya gabung apa gak IPAnya. Aku sih ogah gabung sama kelas lain. Yang ada ya buat dosa sama memperjelek mood aja. Huehehe
Sebenarnya sih rugi soalnya aku juga bayar, tapi.....
Hmmm.
Hmmmm..
Hmmmmm...
Aku rindu.
Entah ada tidak pengaruhnya, konsentrasi dan merindumu adalah hal yang bertolak menurutku. Dan, sekarang aku merindu.
Merindu kamu.
Iya, kamu!
Saturday, March 19, 2011
You’ll Be In My Heart Lyrics
I will protect you from all around you I will be here don’t you cry
For one so small, you seem so strong
My arms will hold you, keep you safe and warm
This bond between us can’t be broken
I will be here don’t you cry
’Cause you’ll be in my heart
Yes, you’ll be in my heart
From this day on now and forever more
You’ll be in my heart no matter what they say
You’ll be here in my heart, always
Why can’t they understand the way we feel
They just don’t trust what they can’t explain
I know we’re different but, deep inside us
We’re not that different at all
And you’ll be in my heart
Yes, you’ll be in my heart
From this day on now and forever more
Don’t listen to them ’cause what do they know
We need each other, to have, to hold
They’ll see in time I know
When destiny calls you you must be strong
I may not be with you but you’ve got to hold on
They’ll see in time I know
We’ll show them together
’Cause you’ll be in my heart
Yes, you’ll be in my heart
From this day on, now and forever more
Oh, you’ll be in my heart
No matter what they say
You’ll be in my heart, always
Always..
Sunday, March 6, 2011
Entahlah..
Entah itu penolakan atau bukan,
Benci atau bukan,
Tidak ingin atau bukan..
Bagiku jelas, aku selalu tau apa yang bukan dan iya, apa yang iya dan bukan, sebalik sebaliknya demikian.
Memberi sedikit perhatian yang sebenarnya tak pernah diminta, entahlah pernah ada harapan darisana apa tidak.
Meluangkan waktu meski detik-detik kian merapat.
Memberi jeda pada hela nafas untuk tetap pada waktunya,tidak memburu seperti aku biasanya.
Tetap mencintai meski terinjak, sakit, sedih, kecewa..
Tapi entahlah mengapa masih saja disini, setia.
Entah bodoh entah cinta..
Suatu saat pasti ada jawabannya.
Semoga yang terbaik yang aku terima.
Amin.
Benci atau bukan,
Tidak ingin atau bukan..
Bagiku jelas, aku selalu tau apa yang bukan dan iya, apa yang iya dan bukan, sebalik sebaliknya demikian.
Memberi sedikit perhatian yang sebenarnya tak pernah diminta, entahlah pernah ada harapan darisana apa tidak.
Meluangkan waktu meski detik-detik kian merapat.
Memberi jeda pada hela nafas untuk tetap pada waktunya,tidak memburu seperti aku biasanya.
Tetap mencintai meski terinjak, sakit, sedih, kecewa..
Tapi entahlah mengapa masih saja disini, setia.
Entah bodoh entah cinta..
Suatu saat pasti ada jawabannya.
Semoga yang terbaik yang aku terima.
Amin.
Subscribe to:
Comments (Atom)



