Bisa gak sih, keterikatan batin sama orang lain ngebuat kita jadi ikutan ngerasain yang dia rasain? Kalo ini antara aku sama mama sih wajar ya, ibu dan anak itu ikatan batinnya kuat, apalagi kalau kita memang punya kualitas hubungan yang dekat banget. Biasanya kalau mamaku sakit disana, aku juga ikutan sakit disini begitupun sebaliknya. Nah, kalau yang sakit ini cuma orang lain-just-something-called-friend- gimana?
Aku kayaknya lagi ngalamin deh, kita sama-sama sakit(titik)
Lebaran tahun lalu, aku rinduuuuuu banget sama seseorang itu. Bukan sakitnya karena dia sih, tapi sakitku mendingan setelah aku ngubungin dia dan dengar suaranya. Ya, setelah beberapa bulan gak kontak tentunya.
Aku diinfus waktu itu. Dia tuh yang rajin ngingetin makan, makan obat, tidur, untuk gak twitteran.. Ya selain mama yang juga rajin nyuapin atau papa yang rajin komentar mengenai tangan yang gak lepas-lepas dari handphone tentunya. Handphone sempat diambil papa, soalnya ya ngeliatnya aku cuma main-main sih.. Gak tau kalau aku punya kualitas dengan kata-kata yang terekam di memorinya. Kata-kata yang buat aku UP, yang buat aku semangat dan gak terus-terusan betek di kamar nenek dengan infus pink cantik tergantung bersisian dengan tempat tidur.
Tapi ya, mungkin aja itu udah menjadi ketergantungan sampai sekarang. Agak sulit lepas, karena terus terikat walaupun terkadang longgar. Entahlah..
Ayu, 26.8
No comments:
Post a Comment
Turn Your Words Become Strawberry Juice!