Something always brings me back to you.
It never takes too long.
No matter what I say or do I'll still feel you
here 'til the moment I'm gone.
You hold me without touch.
You keep me without chains.
I never wanted anything so much than to
drown in your love and not feel your rain.
Set me free, leave me be. I don't want to
fall another moment into your gravity.
Here I am and I stand so tall, just the way
I'm supposed to be.
But you're on to me and all over me.
You loved me 'cause I'm fragile.
When I thought that I was strong.
But you touch me for a little while and all
my fragile strength is gone.
I live here on my knees as I try to make you
see that you're everything I think I need
here on the ground.
But you're neither friend nor foe though I
can't seem to let you go.
The one thing that I still know is that
you're keeping me down
You're on to me, on to me, and all over...
Something always brings me back to you.
It never takes too long.
Sunday, October 31, 2010
Sunday, October 24, 2010
big thaaaaanks, Andri
Andri menatapku dengan aneh. Lama sebelum ia membuang pandangannya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Hehehe.." hanya kekehnya yang kudengar.
"Eh eh, Andri!" panggilku, "Aku aneh gak sih pake rok ginian?" tanyaku padanya.
"Maksudnya?"
"Emm dulu kan aku pakai celana jeans terus, sekarang aku pake rok. Aneh gak?" kataku lagi, memperjelas.
"Gak kok, bagus. Apalagi kan pake kerudung emang bagus pake rok." jawab Andri, sepertinya tulus.
"Iya? Hehe senang banget.." kali ini aku dibuatnya terkekeh.
"Apa sih, gak jelas.." Andri menunjukku dan menertawakanku bersama Tiara. Aku masih tersenyum-senyum.
"Kenapa?" tanyaku.
"Hehehe.." hanya kekehnya yang kudengar.
"Eh eh, Andri!" panggilku, "Aku aneh gak sih pake rok ginian?" tanyaku padanya.
"Maksudnya?"
"Emm dulu kan aku pakai celana jeans terus, sekarang aku pake rok. Aneh gak?" kataku lagi, memperjelas.
"Gak kok, bagus. Apalagi kan pake kerudung emang bagus pake rok." jawab Andri, sepertinya tulus.
"Iya? Hehe senang banget.." kali ini aku dibuatnya terkekeh.
"Apa sih, gak jelas.." Andri menunjukku dan menertawakanku bersama Tiara. Aku masih tersenyum-senyum.
Dia menghujani hatiku
"Ini.." Arman mengulurkan tangan dengan kue tart di ujung jarinya.
"Apa?" tanya Ena memandang kue yang sekarang sudah berada di depan mulutnya.
"Mau gak?" tanya Arman lembut.
"Hm.." jawab Ena dan membuka mulutnya, memakan kue dari Arman. Memakannya dengan sedikit desiran, mengunyahnya dengan senyuman, menikmatinya dengan rasa khawatir. Ia takut jatuh cinta.
24122010
"Apa?" tanya Ena memandang kue yang sekarang sudah berada di depan mulutnya.
"Mau gak?" tanya Arman lembut.
"Hm.." jawab Ena dan membuka mulutnya, memakan kue dari Arman. Memakannya dengan sedikit desiran, mengunyahnya dengan senyuman, menikmatinya dengan rasa khawatir. Ia takut jatuh cinta.
24122010
Friday, October 22, 2010
Fahri beneran
Sekali lagi. Aku melihat keluar kelas, Amira sedang berjalan menjauhi kelasku. Ya Amira! Itu namanya. Kuketahui ketika Dimas menyapanya kemarin.
***
Terhitung tiga minggu sejak kedatanganku, memperhatikannya menjadi satu hobi baruku.
***
Pertemuan pertama adalah hari pertama di sekolah ketika akan menuju ke kelas baruku. Ia ramah sekali, selalu tersenyum selama kuperhatikan. Sambil lalu ia menyapa guru yang sedang bersamaku dan memberiku sedikit senyum manisnya dan setelah sadar aku bukan salah satu temannya, rautnya berubah, penuh tanya. Sangat berkesan meski singkat, aku ikut tersenyum membayangkannya. Membayangkan senyumnya dan wajah penuh tanyanya.
***
Kelas baru. Kukira akan sekelas dengan Amira yang awalnya tak kuketahui namanya. Aku mencarinya saat aku berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri.
***
Hari ini, aku melihatnya lagi. Lebih jelas dan lebih lama dan lebih berani dari yang pernah dan selalu kulakukan. Dia masuk ke kelasku dan berbicara sedikit tentang organisasi yang di bawahinya. Pandangannya menyapu seisi kelas dan melihat ke arahku yang daritadi menatapnya tanpa kedipan. Sesekali ia bercanda bersama teman-teman sekelasku yang dikenal brutal. Satu hal yang membuatku semakin kagum, ia berteman dengan siapa saja meski dari luar ia tampak seperti pribadi yang radikal.
***
Selama ini aku hanya berani memperhatikannya dari bangku kantin yang kupilih dapat mengakses secara bebas ke arahnya tanpa membuat satu pun teman baruku curiga. Aku takut mereka juga memiliki rasa yang sama terhadapnya. Bodoh berpikiran seperti itu, tapi aku sungguh benar-benar khawatir.
***
Kadang aku juga memperhatikan dari bangku kantin yang terdekat dengan mushalla. Setiap waktu shalat ia tidak pernah absen hadir di tempat itu. Semakin mempermudahku untuk memperhatikannya.
***
Beberapa hari ini, wajah Amira lesu. Mungkin lelah karena harus pulang sore terus.
***
Siang ini aku ikut shalat berjama'ah di mushallla. Ia menggunakan mukenah dengan warna yang tidak biasa. Sepertinya itu warna favoritnya.
***
Nama : Rassya Abiyoga
Status : Secret Amira'ers
***
Terhitung tiga minggu sejak kedatanganku, memperhatikannya menjadi satu hobi baruku.
***
Pertemuan pertama adalah hari pertama di sekolah ketika akan menuju ke kelas baruku. Ia ramah sekali, selalu tersenyum selama kuperhatikan. Sambil lalu ia menyapa guru yang sedang bersamaku dan memberiku sedikit senyum manisnya dan setelah sadar aku bukan salah satu temannya, rautnya berubah, penuh tanya. Sangat berkesan meski singkat, aku ikut tersenyum membayangkannya. Membayangkan senyumnya dan wajah penuh tanyanya.
***
Kelas baru. Kukira akan sekelas dengan Amira yang awalnya tak kuketahui namanya. Aku mencarinya saat aku berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri.
***
Hari ini, aku melihatnya lagi. Lebih jelas dan lebih lama dan lebih berani dari yang pernah dan selalu kulakukan. Dia masuk ke kelasku dan berbicara sedikit tentang organisasi yang di bawahinya. Pandangannya menyapu seisi kelas dan melihat ke arahku yang daritadi menatapnya tanpa kedipan. Sesekali ia bercanda bersama teman-teman sekelasku yang dikenal brutal. Satu hal yang membuatku semakin kagum, ia berteman dengan siapa saja meski dari luar ia tampak seperti pribadi yang radikal.
***
Selama ini aku hanya berani memperhatikannya dari bangku kantin yang kupilih dapat mengakses secara bebas ke arahnya tanpa membuat satu pun teman baruku curiga. Aku takut mereka juga memiliki rasa yang sama terhadapnya. Bodoh berpikiran seperti itu, tapi aku sungguh benar-benar khawatir.
***
Kadang aku juga memperhatikan dari bangku kantin yang terdekat dengan mushalla. Setiap waktu shalat ia tidak pernah absen hadir di tempat itu. Semakin mempermudahku untuk memperhatikannya.
***
Beberapa hari ini, wajah Amira lesu. Mungkin lelah karena harus pulang sore terus.
***
Siang ini aku ikut shalat berjama'ah di mushallla. Ia menggunakan mukenah dengan warna yang tidak biasa. Sepertinya itu warna favoritnya.
***
Nama : Rassya Abiyoga
Status : Secret Amira'ers
Luna II
"Lu, jangan terlalu manjain adik-adikku.." ucap Tama sambil memundurkan mobil.
"Kenapa?"
"Mereka gak bisa dilembutin, sayang.
Bakalan ngelunjak!" jawab Tama lembut.
"Maksud aku baik kok. Mereka juga baik sama aku, aku sayang sama mereka."
"Hm, bukannya ngebatasin antara kamu sama mereka. Tapi....." Tama berhenti, pantulan bayangan di spion itu memaksanya melihat dengan seksama. Refleks, Tama membuka pintu mobil dan keluar. Berjalan menuju sumber bayangan tadi.
"Masih berani kesini?" tanya Tama yang hanya dibalas dengan senyuman menantang. "Woi! Budek!"
"Eh, sori jek! Gue kesini niatnya baik, bukannya mau kelai gak jelas."
"Ets, pede amat! Siapa yang mau ngajak kelai? Mendingan lo balik, gue emosian aja nih liat muka lo!" usir Tama.
"Loh? Kenapa harus gitu sih? Santai bro. Gue kesini mau ketemu adik lo, bukan cari ribut sama elo." jawab si lawan bicara tenang.
"Adik gue? Nah itu masalahnya, gue gak suka elo dekat-dekat adik gue!"
Suara itu. Dua suara itu. Dua suara yang seharusnya akrab di telinga Luna. Satunya suara Tama sudah pasti, satunya lagi? Rasa penasaran Luna membuatnya ikut turun dari mobil.
"Zona!" pekik Luna terkejut akan kehadiran mantan pacarnya disitu. Lelaki yang bernama Zona itu terlihat salah tingkah.
"Udah, lo pergi aja gih!" usir Tama sekali lagi.
"Lu, ini pacar kamu?" tanya Zona pada Luna.
"Iya. Kamu ngapain disini?" sakit hati Luna ketika menanyakannya karena Luna sedikit mendengar percakapan tadi.
"Nih, mau minjem buku adiknya." tunjuknya pada Tama. Mendengar keributan diluar, Laras dan Kara berlarian keluar.
"Zona!" Kara memanggil kekasihnya, memastikan bahwa itu memang kekasihnya. Zona menoleh.
"Eh, ini nih gak ngebolehin aku ketemu kamu." tunjuknya lagi pada Tama. Luna mengernyit, sakitnya seperti dipaksa mengingat luka yang pernah diukir Zona. Melihat ekspresi wajah Luna, miris yang dirasakan Tama. Itu satu-satunya alasan Tama teramat membenci Zona. Ia mengambil kunci mobil dan mengajak Luna masuk ke rumah bersama juga Laras di belakang mereka. Zona cinta pertama Luna.
"Kenapa?"
"Mereka gak bisa dilembutin, sayang.
Bakalan ngelunjak!" jawab Tama lembut.
"Maksud aku baik kok. Mereka juga baik sama aku, aku sayang sama mereka."
"Hm, bukannya ngebatasin antara kamu sama mereka. Tapi....." Tama berhenti, pantulan bayangan di spion itu memaksanya melihat dengan seksama. Refleks, Tama membuka pintu mobil dan keluar. Berjalan menuju sumber bayangan tadi.
"Masih berani kesini?" tanya Tama yang hanya dibalas dengan senyuman menantang. "Woi! Budek!"
"Eh, sori jek! Gue kesini niatnya baik, bukannya mau kelai gak jelas."
"Ets, pede amat! Siapa yang mau ngajak kelai? Mendingan lo balik, gue emosian aja nih liat muka lo!" usir Tama.
"Loh? Kenapa harus gitu sih? Santai bro. Gue kesini mau ketemu adik lo, bukan cari ribut sama elo." jawab si lawan bicara tenang.
"Adik gue? Nah itu masalahnya, gue gak suka elo dekat-dekat adik gue!"
Suara itu. Dua suara itu. Dua suara yang seharusnya akrab di telinga Luna. Satunya suara Tama sudah pasti, satunya lagi? Rasa penasaran Luna membuatnya ikut turun dari mobil.
"Zona!" pekik Luna terkejut akan kehadiran mantan pacarnya disitu. Lelaki yang bernama Zona itu terlihat salah tingkah.
"Udah, lo pergi aja gih!" usir Tama sekali lagi.
"Lu, ini pacar kamu?" tanya Zona pada Luna.
"Iya. Kamu ngapain disini?" sakit hati Luna ketika menanyakannya karena Luna sedikit mendengar percakapan tadi.
"Nih, mau minjem buku adiknya." tunjuknya pada Tama. Mendengar keributan diluar, Laras dan Kara berlarian keluar.
"Zona!" Kara memanggil kekasihnya, memastikan bahwa itu memang kekasihnya. Zona menoleh.
"Eh, ini nih gak ngebolehin aku ketemu kamu." tunjuknya lagi pada Tama. Luna mengernyit, sakitnya seperti dipaksa mengingat luka yang pernah diukir Zona. Melihat ekspresi wajah Luna, miris yang dirasakan Tama. Itu satu-satunya alasan Tama teramat membenci Zona. Ia mengambil kunci mobil dan mengajak Luna masuk ke rumah bersama juga Laras di belakang mereka. Zona cinta pertama Luna.
Kemarahan Tama
Tama mendorong kasar pintu depan, diikuti Luna yang menarik-narik lengan jaket yang dikenakan Tama.
***
Terdengar suara langkah kaki, berat, setelah pintu depan membanting dinding di sebelahnya. Itu Tama. Sudah biasa bagi orang rumah, Tama memang sering begitu kalau sedang ada masalah dengan Luna. Pintu kamar Kara menjeblak terbuka. Berdiri Tama dengan Luna di belakangnya berlari kecil mengejar. Bukan Luna penyebab kemarahan Tama kali ini, tapi apa? Letak penyebab kemarahan itu sepertinya ada di kamar Kara.
"Udah, bisa diomongin baik-baik kan?"
"Gak, gak pernah ada toleransi buat orang kayak dia. Udah ya, biarin aku dulu yang ngomong.." Tama tetap bicara dengan lembut tapi menusuk.
"Dek, siapa yang ngantar kamu pulang kemarin?" interogasi Tama langsung.
"Siapa, mas? Lila?"
"Bukan, laki-laki!"
"Emm," Kara berusaha mengingatnya, "Oh!," Kara menjentikkan jari tanda ia mengingatnya.
"Siapa?" tanya Tama lagi.
"Kenapa sih? Itu urusan dedek kali mas, mas resek nih." jawab Kara sambil memainkan ponselnya.
"Mas cuma mau tau dari kamu, kamu tuh adik mas bukan? Gak mau dikasih tau yang benar ya?" Tama masih membentak. Di sebelahnya terlihat Luna mengelus-elus lengan Tama sebagai isyarat agar lebih bisa mengontrol emosinya. Tama memang tidak bisa dihalangi keinginannya, harus dituruti, seperti sekarang. Luna sudah menyarankan untuk bicara baik-baik dengan Kara. Tidak digubris.
Luna pun kesulitan mengontrol emosi Tama, ia tidak mengetahui apa penyebabnya.
"Mas gak usah sok-sokan mau ngejagain aku gitu kenapa sih?"
"Sok-sokan kamu bilang? Kamu gak pernah tau kan dia itu siapa? Mas gak suka sama dia! Kamu dengar? Mas gak suka! Titik!" volume suara Tama semakin meninggi.
"Kenapa sih jadi sok perhatian gini? Selama ini juga gak pernah, mas urusin aja tuh diri mas, perbaikin diri mas sebelum mas ngerasa lebih baik dari dia! Mas tau? Mas tuh gak pantes sama Mbak Lu!" Kara memanas, keluar dari kamarnya membawa serta ponsel bersamanya. Hening. Tama syok mendengar perkataan adiknya barusan, begitu pula Luna. Tama berbalik dan meninju pintu kamar Kara, adiknya. Meluapkan emosinya.
***
Luna menyusul Kara ke teras belakang setelah sedikit memaksa Tama untuk shalat. Kara menangis senggukan disana. Dipeluknya Kara meski awalnya Kara memberontak. Semarah-marahnya semua orang di rumah itu, tetap tidak satu pun sanggup marah kepada Luna. Sang malaikat begitu mereka menyebutnya.
"Dek, kamu gak boleh ngomong kasar sama mas kayak tadi.." Luna membuka pembicaraannya.
"Dedek gak bakal ngomong gitu Mbak, kalo mas gak mulai. Mbak juga ngerti kan kalo jadi dedek? Gimana rasanya kalo pacar kita dijelekin orang, sama kakak sendiri lagi.."
"Iya sayang, mbak ngerti, tapi itu kan mas kamu, kamu juga ngerti dia kan? Walaupun badannya besar gitu, dia kalo marah sering jadi kayak anak-anak loh.." jelas Luna sembari tertawa. Kara ikut tertawa.
"Mbak kok bisa tahan sih sama mas yang gitu? Dedek yang 15 tahun tinggal sama dia aja benci banget gini mbak.."
"Mm, mbak juga gak tau kenapa, dek. Andaikan bisa nemu alasan mbak juga pasti bangga sama mas kamu itu." tawa Luna dengan semu merah di pipinya.
"Ih, ogah. Masnya mbak aja, dedek gak mau punya mas tempramental gitu. Hihihi.." mereka berdua tertawa lepas.
"Mbak Lu!" terdengar teriakan dari dalam. Laras. Ia berlari kecil menuju teras belakang. Memeluk Luna dari belakang.
"Udah pulang sayang?" tanya Luna.
"Iya mbak. Kok Dekya nangis?" tanyanya pada Kara yang sapanya Dekya. Kependekan dari Dedek Kaya- panggilan Tama sewaktu kecil untuk Kara.
"Tadi Dekya ribut sama Mas, sayang.." jawab Luna sambil mengelus kepala Laras sayang.
"Huh, pasti Mas marah-marah gak jelas tuh.. Yayas benci sama Mas."
"Iya, Dekya juda benci Yas sama Mas. Kita bunuh aja yuk!"
ajak Kara.
"Ets, jangan dong! Nanti kalian gak punya Mas lagi, gimana?" tanya Luna.
"Gak papa ah, kan kita masih punya Mbak Lu. Ya kan, Yas?" Kara bersuara.
"Iya, Mbak tuh Mbak terbaik sedunia dunia.."
"Lu, pulang yuk! Aku sekalian mau latihan basket." ajak Tama yang tiba-tiba muncul. Merusak suasana.
"Hm, bentar ya?" bisik Luna. Tama mengangguk. "Kamu tunggu diluar dulu ya?" katanya lagi. Tama keluar.
"Tuh, liat! Emang suka ngerusak kebahagian kan?" kata Kara.
"Iya, emang dia kayak orang gila, Dekya.." sambut Laras.
"Haha.." mereka bertiga tertawa, "Mbak pulang ya sayang?" pamit Luna sambil mengecup keduanya di puncak kepala.
Keduanya membalas dengan tersenyum. Senyum tidak rela.
***t
***
Terdengar suara langkah kaki, berat, setelah pintu depan membanting dinding di sebelahnya. Itu Tama. Sudah biasa bagi orang rumah, Tama memang sering begitu kalau sedang ada masalah dengan Luna. Pintu kamar Kara menjeblak terbuka. Berdiri Tama dengan Luna di belakangnya berlari kecil mengejar. Bukan Luna penyebab kemarahan Tama kali ini, tapi apa? Letak penyebab kemarahan itu sepertinya ada di kamar Kara.
"Udah, bisa diomongin baik-baik kan?"
"Gak, gak pernah ada toleransi buat orang kayak dia. Udah ya, biarin aku dulu yang ngomong.." Tama tetap bicara dengan lembut tapi menusuk.
"Dek, siapa yang ngantar kamu pulang kemarin?" interogasi Tama langsung.
"Siapa, mas? Lila?"
"Bukan, laki-laki!"
"Emm," Kara berusaha mengingatnya, "Oh!," Kara menjentikkan jari tanda ia mengingatnya.
"Siapa?" tanya Tama lagi.
"Kenapa sih? Itu urusan dedek kali mas, mas resek nih." jawab Kara sambil memainkan ponselnya.
"Mas cuma mau tau dari kamu, kamu tuh adik mas bukan? Gak mau dikasih tau yang benar ya?" Tama masih membentak. Di sebelahnya terlihat Luna mengelus-elus lengan Tama sebagai isyarat agar lebih bisa mengontrol emosinya. Tama memang tidak bisa dihalangi keinginannya, harus dituruti, seperti sekarang. Luna sudah menyarankan untuk bicara baik-baik dengan Kara. Tidak digubris.
Luna pun kesulitan mengontrol emosi Tama, ia tidak mengetahui apa penyebabnya.
"Mas gak usah sok-sokan mau ngejagain aku gitu kenapa sih?"
"Sok-sokan kamu bilang? Kamu gak pernah tau kan dia itu siapa? Mas gak suka sama dia! Kamu dengar? Mas gak suka! Titik!" volume suara Tama semakin meninggi.
"Kenapa sih jadi sok perhatian gini? Selama ini juga gak pernah, mas urusin aja tuh diri mas, perbaikin diri mas sebelum mas ngerasa lebih baik dari dia! Mas tau? Mas tuh gak pantes sama Mbak Lu!" Kara memanas, keluar dari kamarnya membawa serta ponsel bersamanya. Hening. Tama syok mendengar perkataan adiknya barusan, begitu pula Luna. Tama berbalik dan meninju pintu kamar Kara, adiknya. Meluapkan emosinya.
***
Luna menyusul Kara ke teras belakang setelah sedikit memaksa Tama untuk shalat. Kara menangis senggukan disana. Dipeluknya Kara meski awalnya Kara memberontak. Semarah-marahnya semua orang di rumah itu, tetap tidak satu pun sanggup marah kepada Luna. Sang malaikat begitu mereka menyebutnya.
"Dek, kamu gak boleh ngomong kasar sama mas kayak tadi.." Luna membuka pembicaraannya.
"Dedek gak bakal ngomong gitu Mbak, kalo mas gak mulai. Mbak juga ngerti kan kalo jadi dedek? Gimana rasanya kalo pacar kita dijelekin orang, sama kakak sendiri lagi.."
"Iya sayang, mbak ngerti, tapi itu kan mas kamu, kamu juga ngerti dia kan? Walaupun badannya besar gitu, dia kalo marah sering jadi kayak anak-anak loh.." jelas Luna sembari tertawa. Kara ikut tertawa.
"Mbak kok bisa tahan sih sama mas yang gitu? Dedek yang 15 tahun tinggal sama dia aja benci banget gini mbak.."
"Mm, mbak juga gak tau kenapa, dek. Andaikan bisa nemu alasan mbak juga pasti bangga sama mas kamu itu." tawa Luna dengan semu merah di pipinya.
"Ih, ogah. Masnya mbak aja, dedek gak mau punya mas tempramental gitu. Hihihi.." mereka berdua tertawa lepas.
"Mbak Lu!" terdengar teriakan dari dalam. Laras. Ia berlari kecil menuju teras belakang. Memeluk Luna dari belakang.
"Udah pulang sayang?" tanya Luna.
"Iya mbak. Kok Dekya nangis?" tanyanya pada Kara yang sapanya Dekya. Kependekan dari Dedek Kaya- panggilan Tama sewaktu kecil untuk Kara.
"Tadi Dekya ribut sama Mas, sayang.." jawab Luna sambil mengelus kepala Laras sayang.
"Huh, pasti Mas marah-marah gak jelas tuh.. Yayas benci sama Mas."
"Iya, Dekya juda benci Yas sama Mas. Kita bunuh aja yuk!"
ajak Kara.
"Ets, jangan dong! Nanti kalian gak punya Mas lagi, gimana?" tanya Luna.
"Gak papa ah, kan kita masih punya Mbak Lu. Ya kan, Yas?" Kara bersuara.
"Iya, Mbak tuh Mbak terbaik sedunia dunia.."
"Lu, pulang yuk! Aku sekalian mau latihan basket." ajak Tama yang tiba-tiba muncul. Merusak suasana.
"Hm, bentar ya?" bisik Luna. Tama mengangguk. "Kamu tunggu diluar dulu ya?" katanya lagi. Tama keluar.
"Tuh, liat! Emang suka ngerusak kebahagian kan?" kata Kara.
"Iya, emang dia kayak orang gila, Dekya.." sambut Laras.
"Haha.." mereka bertiga tertawa, "Mbak pulang ya sayang?" pamit Luna sambil mengecup keduanya di puncak kepala.
Keduanya membalas dengan tersenyum. Senyum tidak rela.
***t
Monday, October 18, 2010
Perempuan yang dicintai suamiku
Kiriman email dari seorang sahabat.
“ Pesan” dahsyat buat para suami (dan bcalon suami) untuk menjaga istrinya… Dan motivasi hebat buat para istri (dan calon istri) untuk tetap mencintai suaminya … =================
Oleh : Botefilia
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic. Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang. Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu. Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas.
Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas. Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah. Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona.
Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita. Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja. Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya, “ Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau makan juga? uhh … dasar anak nakal, sini piringnya”, lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan ….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun! Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku. Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2. Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? Karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.
Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian. Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papanya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?” Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
Dear Meisha, Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku. Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya. Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan. Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart. yours, Mario
Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain. Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya. Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya. Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku. Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
********** Setahun kemudian …
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
”Mario, suamiku…. Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku … Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku ….. Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario. Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, “kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?” Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya. Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan. Istrimu, Rima ”
Di surat yang lain,
“……… Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha ……”
Disurat yang kesekian,
“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalu menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah ……. Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya ……..”
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya … dipeluknya Jelita yang tersedu- sedu disampingnya. Disurat terakhir, pagi ini…“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor. Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit. Tahukah engkau suamiku, Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”
Jelita menatap Meisha, dan bercerita, “Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi …… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak ……”.
Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa. Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
Dear Meisha, Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar …. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya? Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana- mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku ….
Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.
Sumber : Botefilia
“ Pesan” dahsyat buat para suami (dan bcalon suami) untuk menjaga istrinya… Dan motivasi hebat buat para istri (dan calon istri) untuk tetap mencintai suaminya … =================
Oleh : Botefilia
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic. Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang. Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu. Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas.
Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas. Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah. Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona.
Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita. Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja. Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya, “ Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau makan juga? uhh … dasar anak nakal, sini piringnya”, lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan ….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun! Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku. Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2. Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? Karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.
Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian. Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papanya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?” Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
Dear Meisha, Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku. Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya. Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan. Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart. yours, Mario
Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain. Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya. Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya. Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku. Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
********** Setahun kemudian …
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
”Mario, suamiku…. Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku … Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku ….. Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario. Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, “kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?” Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya. Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan. Istrimu, Rima ”
Di surat yang lain,
“……… Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha ……”
Disurat yang kesekian,
“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalu menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah ……. Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya ……..”
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya … dipeluknya Jelita yang tersedu- sedu disampingnya. Disurat terakhir, pagi ini…“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor. Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit. Tahukah engkau suamiku, Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”
Jelita menatap Meisha, dan bercerita, “Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi …… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak ……”.
Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa. Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
Dear Meisha, Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar …. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya? Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana- mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku ….
Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.
Sumber : Botefilia
Saturday, October 16, 2010
BADMOOD to the MAX!!
Why?
B
A
D
M
O
O
D
I felt bad! Is it down-up hormone effects?
Grrrr!
I miss the nice habit, the only way to go to the heaven :(
I don't wan't to show that I'm jealous, truly..
AKU PENGEN NINJU ORANG!
Jangan salahkan aku jutek besok di kelas,
Ayu
B
A
D
M
O
O
D
I felt bad! Is it down-up hormone effects?
Grrrr!
I miss the nice habit, the only way to go to the heaven :(
I don't wan't to show that I'm jealous, truly..
AKU PENGEN NINJU ORANG!
Jangan salahkan aku jutek besok di kelas,
Ayu
Friday, October 15, 2010
I know that we absolutely RIGHT!
Haha
Dari judulnya nampakin egoisme banget y?
Aku memang egois dan harus egois untuk yang satu ini..
Aku bilang mereka salah, padahal bukan berarti aku totally right here..
Ya cuma mau meluruskan bahwa mereka memang pada hakekatnya salah, aku juga mau cari jalan, gimana seharusnya yang benar supaya aku nda seperti mereka..
Mengecewakan..
Bukannya malah kehadiran mereka menguntungkan bagi sekitarnya, malah sebaliknya yang ada sekitar menggunjingkan mereka..
Hmm, deg2an jak nih bakal ditanya apa sama Kakak..
Semoga jak selesainya bikin aku puas..
Amin,
Ayu
Thursday, October 14, 2010
:)
Lagi di pom bensin, nunggu Westi ngantri..
Akunya lagi nunggu di depan atm, udah selesai ngisi..
Tadi pas datang2 lagu Love Story yg diputar..
Tapi bukan Swift version..
Cowok yg nyanyi genrenye New Found Glory tp nda tau siapa, kata Westi sih emang NFG..
Hmm, tadi sore senangs beuts..
Hahaha
Aku ditegur dia!
Padahal cuma untuk sms nda penting bah, mungkin dianya juga nda enak ya diam2an gitu?
Trus banyaklah yang udah buat senang hari ini..
I Love today, I Love Kg
Ayu
Akunya lagi nunggu di depan atm, udah selesai ngisi..
Tadi pas datang2 lagu Love Story yg diputar..
Tapi bukan Swift version..
Cowok yg nyanyi genrenye New Found Glory tp nda tau siapa, kata Westi sih emang NFG..
Hmm, tadi sore senangs beuts..
Hahaha
Aku ditegur dia!
Padahal cuma untuk sms nda penting bah, mungkin dianya juga nda enak ya diam2an gitu?
Trus banyaklah yang udah buat senang hari ini..
I Love today, I Love Kg
Ayu
Tuesday, October 12, 2010
I can't refuse Gods plan..
So here I am, aku telat (lagi)
Aku kecewa sama diri aku sendiri,
Aku kesal kenapa harus terlambat hari ini,
Apa karena niatku ke sekolah dari awal udah jelek?
Aku kecewaaaa, so disapointed on me..
Aku lagi ngadu sama Dudu sambil makan bubur instan dari Te Heni,
Aku nangis macam orang ape gitu,
Udah gak memang kesal dari pagi,
Di tambah telat lagi..
Tapi ya aku mgkn terlalu takut ngadepin hari ini.
Ingus dimana mana,
Aku mau jadi ayu yg kuat setelah ini, jadi ayu yg bisa dibanggain sama orang-orang terdekat aku,
Aku mau jadi ayu yg nda cengeng..
Semoga..
Aku masih ngerasa nda comfort sama Dudu,
Aku cerita dia diam-diam jak..
Ayu
Aku kecewa sama diri aku sendiri,
Aku kesal kenapa harus terlambat hari ini,
Apa karena niatku ke sekolah dari awal udah jelek?
Aku kecewaaaa, so disapointed on me..
Aku lagi ngadu sama Dudu sambil makan bubur instan dari Te Heni,
Aku nangis macam orang ape gitu,
Udah gak memang kesal dari pagi,
Di tambah telat lagi..
Tapi ya aku mgkn terlalu takut ngadepin hari ini.
Ingus dimana mana,
Aku mau jadi ayu yg kuat setelah ini, jadi ayu yg bisa dibanggain sama orang-orang terdekat aku,
Aku mau jadi ayu yg nda cengeng..
Semoga..
Aku masih ngerasa nda comfort sama Dudu,
Aku cerita dia diam-diam jak..
Ayu
Monday, October 11, 2010
I don't wan't it end :')
Well, it's October 11th 2010..
And I'm so really badmood..
A big WHY?
I hate too fast to face tomorrow.. :'(
I hate it so much!
I have cry now..
Tadi ak ngejutekkin dy..
Am I wrong?
Yes I'm wrong..
I know that I'm wrong :'(
Huaaaahuhuhuhu
It's first experience to be like this..
My prediction I can't be strong actually..
Huhu
Tadi pas pray rest di selingan additional lesson aku sama Arfi ke pet shop..
Bought a nice turtle and named Narataraparapara bt we can call it "Dudu".. :)
Senaaaaang sekali :')
Tadi aku juga liatin Dudu ke dia, trus kayak biasa deh disumpahin mati sama dia..
Jahat!
Trus dia bilang aku sombong, I've not reply for him in yahoo messenger..
Padahal tadi malam aku nunggu dia say hi first, eh taunya emang iya tapi akunya gak sadar..
Gak nyesel sih, kan masih ada malam ini.. :')
Tapi aku nda mau besoooook :')
Boleh gak skip aja langsung tanggal 13?
Tolong..
Atau aku nangis besok?
Aku badmood besok?
Aku gak dengerin guru besok?
Aku gak makan bubur besok?
Aku dengerin headset mulu besok?
Aku gambar-gambar terus ya di binder?
Pokoknya aku mau jadi orang resek sedunia kalo besok gak di skip!
Thanks
Ayu
And I'm so really badmood..
A big WHY?
I hate too fast to face tomorrow.. :'(
I hate it so much!
I have cry now..
Tadi ak ngejutekkin dy..
Am I wrong?
Yes I'm wrong..
I know that I'm wrong :'(
Huaaaahuhuhuhu
It's first experience to be like this..
My prediction I can't be strong actually..
Huhu
Tadi pas pray rest di selingan additional lesson aku sama Arfi ke pet shop..
Bought a nice turtle and named Narataraparapara bt we can call it "Dudu".. :)
Senaaaaang sekali :')
Tadi aku juga liatin Dudu ke dia, trus kayak biasa deh disumpahin mati sama dia..
Jahat!
Trus dia bilang aku sombong, I've not reply for him in yahoo messenger..
Padahal tadi malam aku nunggu dia say hi first, eh taunya emang iya tapi akunya gak sadar..
Gak nyesel sih, kan masih ada malam ini.. :')
Tapi aku nda mau besoooook :')
Boleh gak skip aja langsung tanggal 13?
Tolong..
Atau aku nangis besok?
Aku badmood besok?
Aku gak dengerin guru besok?
Aku gak makan bubur besok?
Aku dengerin headset mulu besok?
Aku gambar-gambar terus ya di binder?
Pokoknya aku mau jadi orang resek sedunia kalo besok gak di skip!
Thanks
Ayu
Sunday, October 10, 2010
I R I S lyrics
And I'd give up forever to touch you,
Cause I know that you feel me somehow.
You're the closest to heaven that I'll ever
be,
And I don't want to go home right now.
And all I can taste is this moment,
And all I can breathe is your life,
And sooner or later it's over,
I just don't want to miss you tonight.
And I don't want the world to see me,
Cause I don't think that they'd understand.
When everything's made to be broken,
I just want you to know who I am.
And you cant fight the tears that ain't
coming,
Or the moment of the truth in your lies.
When everything feels like the movies,
Yeah you bleed just to know you're alive.
And I don't want the world to see me,
'Cause I don't think that they'd understand.
When everything's made to be broken,
I just want you to know who I am.
And I don't want the world to see me,
Cause I don't think that they'd understand.
When everything's made to be broken,
I just want you to know who I am.
And I don't want the world to see me,
Cause I dont think that they'd understand.
When everything's made to be broken,
I just want you to know who I am.
I just want you to know who I am.
I just want you to know who I am.
I just want you to know who I am.
Ayu,
Iris Lyric
Cause I know that you feel me somehow.
You're the closest to heaven that I'll ever
be,
And I don't want to go home right now.
And all I can taste is this moment,
And all I can breathe is your life,
And sooner or later it's over,
I just don't want to miss you tonight.
And I don't want the world to see me,
Cause I don't think that they'd understand.
When everything's made to be broken,
I just want you to know who I am.
And you cant fight the tears that ain't
coming,
Or the moment of the truth in your lies.
When everything feels like the movies,
Yeah you bleed just to know you're alive.
And I don't want the world to see me,
'Cause I don't think that they'd understand.
When everything's made to be broken,
I just want you to know who I am.
And I don't want the world to see me,
Cause I don't think that they'd understand.
When everything's made to be broken,
I just want you to know who I am.
And I don't want the world to see me,
Cause I dont think that they'd understand.
When everything's made to be broken,
I just want you to know who I am.
I just want you to know who I am.
I just want you to know who I am.
I just want you to know who I am.
Ayu,
Iris Lyric
Activity was Finished
Hm, after a little tired for yesterday and today, i felt sooooo galau!
why?
hm smtime I wnna talk about seniority in my little big organization..
We-me and mine friends-have some idea to make it back nice..
Truly never have thinks bad for this in the future, to make it broke, to make it nothing more..
We always try to be good senior to our juniors but high seniors always ask us to press them, arggh! I never think with anger they will be able to their living..
Brrr..
Geram deh kdg sm senior yg begitu, bt I also can't promise if I be the seniors should I do better than them or more worst? Idk.
after P
Ayu,
why?
hm smtime I wnna talk about seniority in my little big organization..
We-me and mine friends-have some idea to make it back nice..
Truly never have thinks bad for this in the future, to make it broke, to make it nothing more..
We always try to be good senior to our juniors but high seniors always ask us to press them, arggh! I never think with anger they will be able to their living..
Brrr..
Geram deh kdg sm senior yg begitu, bt I also can't promise if I be the seniors should I do better than them or more worst? Idk.
after P
Ayu,
Rasa sayangku dikhianati
arghh aku tulus boi
apa salahku apa salah ibuku?
*loooh jadi nyanyi mbaaak?
Hahaha
ntah lah, cobe ikhlas yak..
evrythings gonna be allrite bah ye?
aku harus yakin!
aku kan ga pernah maksud buat jahat..
aseeeekkk!
tetehsygsmkalian,
Ayu
apa salahku apa salah ibuku?
*loooh jadi nyanyi mbaaak?
Hahaha
ntah lah, cobe ikhlas yak..
evrythings gonna be allrite bah ye?
aku harus yakin!
aku kan ga pernah maksud buat jahat..
aseeeekkk!
tetehsygsmkalian,
Ayu
Saturday, October 9, 2010
still with my anger
I'm at school now.
It's about half past ten..
Papa told me to join them, and never told to don't..
Arggh!
I went to school at half past eight..
kuesaaal!
I'm waiting for papa picking up :)
Nice,
Ayu
It's about half past ten..
Papa told me to join them, and never told to don't..
Arggh!
I went to school at half past eight..
kuesaaal!
I'm waiting for papa picking up :)
Nice,
Ayu
kesal dg papa
Today, this night actually there's an activity at school.
Papa don't give his permission for me to allow.
Then malemnya, papa pamit wanna go out..
Then ask when i have to go out?
Go where?
To school he answered..
Oh my .......
Why don't you tell me early??
Actually, he just don't allow me to make a bed there, if just come and be there.. Please..
Arggghh!
Papa don't give his permission for me to allow.
Then malemnya, papa pamit wanna go out..
Then ask when i have to go out?
Go where?
To school he answered..
Oh my .......
Why don't you tell me early??
Actually, he just don't allow me to make a bed there, if just come and be there.. Please..
Arggghh!
What Friend Are For?
"Yu, jangan dimanjain benar bah. Dia nda bakal pernah ngerti sama kondisinya kalau dia tahu selalu ada kau untuk belain dia! Malah ngeyel mulu ntar kalau dibilangin. Ngerasa ada yang ngelindungin."
Rasanya akrab dengan kata-kata ini.
Well, i have confuse here.
I have friend that will not able to make friends with the others.
Rarely.
Ya, he is kind, joy, and humourist to make the others laugh bt, he never know that he is too childish to face another.
Yeah I know i don't understand him very well, but smtimes he got a good good assigments to follow, bt ya like i told before, he like to show his child side..
That's what another hate for,
Basically he is nice guy for me..
Hehe
I wanna help, bt I can't..
Here I don't have to much access to come in to this problem..
It's his problem with his classmate, almost all of them hate him.
Which i have heard, he too fast to got angry..
You know smtimes we jokes with the others when we got bored, it's happened when they are joked.
He laughed for everything, he laughed for everybody bt he never accepted when everybody laughed for him..
It's a weird!
He never accept that he maybe as bad as people around him.
He felt that he is most perfect than others.
Arggggh! How to be a good friend to friend like this?
I'm getting mad!
Truly he's mad then I mad after.
People is for adaptation, but for him i'm for adaptation..
He never understand what people feel, he just make his ownself in important.
Wish Allah give hidayah for him, then make him as lovable person like me hahaha
Aminn
Dewasa itu pasti hanya masalah waktunya.
You will delay it, but time will not.
Semoga dia cepat dewasa dan segera menyesuaikan dengan umurnya. Amin.
Rasanya akrab dengan kata-kata ini.
Well, i have confuse here.
I have friend that will not able to make friends with the others.
Rarely.
Ya, he is kind, joy, and humourist to make the others laugh bt, he never know that he is too childish to face another.
Yeah I know i don't understand him very well, but smtimes he got a good good assigments to follow, bt ya like i told before, he like to show his child side..
That's what another hate for,
Basically he is nice guy for me..
Hehe
I wanna help, bt I can't..
Here I don't have to much access to come in to this problem..
It's his problem with his classmate, almost all of them hate him.
Which i have heard, he too fast to got angry..
You know smtimes we jokes with the others when we got bored, it's happened when they are joked.
He laughed for everything, he laughed for everybody bt he never accepted when everybody laughed for him..
It's a weird!
He never accept that he maybe as bad as people around him.
He felt that he is most perfect than others.
Arggggh! How to be a good friend to friend like this?
I'm getting mad!
Truly he's mad then I mad after.
People is for adaptation, but for him i'm for adaptation..
He never understand what people feel, he just make his ownself in important.
Wish Allah give hidayah for him, then make him as lovable person like me hahaha
Aminn
Dewasa itu pasti hanya masalah waktunya.
You will delay it, but time will not.
Semoga dia cepat dewasa dan segera menyesuaikan dengan umurnya. Amin.
Stranger
Yup.
I do never know about him if the others not told me.
Which I know he like to look at me..
When I thru in front of his classroom,
When i have to pray,
When i have laugh with my friends,
And not means i'm confident enough to tell this,
I felt that he glad to see it all, me and mine..
But, until now..
He never ask me to introduce ourself both..
Ya maybe he got wrong perception about,
smtimes I looked radical outside haha
Not brave enough maybe
We never know
And I don't wanna know..
I also don't wan't to know him more,
I'm too lazy to begin and back to bad..
You should be know what I talking about, if not now ya maybe later :D
Sincerely,
Ayu
I do never know about him if the others not told me.
Which I know he like to look at me..
When I thru in front of his classroom,
When i have to pray,
When i have laugh with my friends,
And not means i'm confident enough to tell this,
I felt that he glad to see it all, me and mine..
But, until now..
He never ask me to introduce ourself both..
Ya maybe he got wrong perception about,
smtimes I looked radical outside haha
Not brave enough maybe
We never know
And I don't wanna know..
I also don't wan't to know him more,
I'm too lazy to begin and back to bad..
You should be know what I talking about, if not now ya maybe later :D
Sincerely,
Ayu
no title for today.
hm, i was late to go to school again today.
just have no prepared for biology test and woke up late, im happy to being late :')
bt now now, i miss my mama..
flashback to a few days ago,
i envy with my classmate..
her mom came and almost got into our classroom, give the lunchbox to her..
argggh!
coba ak punya mama disini, my friends must be envy too with me..
but i have not, nanti if mama were here aku mau minta anterin lunchbox aku even itu just a day.
biarin..
most important is to not being envy with her anymore haha
hm, bawaan hormon kali nih ya?
dikit-dikit nangis, Idk why..
maybe October made to be a cry place for me (?)
fool reason, there's no good another ha?
hmm, ak sering ngeluh lately..
smtg about tired, sleepy, pusing arrgh almost at all i felt since additional lesson after school.
i'm getting mad!
maybe this is called stress.
i getting frustated with it all,
posting gajelas at twitter, facebook and many others..
aku mulai gilaaaa-
just have no prepared for biology test and woke up late, im happy to being late :')
bt now now, i miss my mama..
flashback to a few days ago,
i envy with my classmate..
her mom came and almost got into our classroom, give the lunchbox to her..
argggh!
coba ak punya mama disini, my friends must be envy too with me..
but i have not, nanti if mama were here aku mau minta anterin lunchbox aku even itu just a day.
biarin..
most important is to not being envy with her anymore haha
hm, bawaan hormon kali nih ya?
dikit-dikit nangis, Idk why..
maybe October made to be a cry place for me (?)
fool reason, there's no good another ha?
hmm, ak sering ngeluh lately..
smtg about tired, sleepy, pusing arrgh almost at all i felt since additional lesson after school.
i'm getting mad!
maybe this is called stress.
i getting frustated with it all,
posting gajelas at twitter, facebook and many others..
aku mulai gilaaaa-
Friday, October 8, 2010
i have dreamed you jealous on me
last nite rio called me from his desk,
he ask for where's my phone.
i saw at my phone, there was one new message..
he text me..
he told me would i use to be love him?
he gave me time to try..
then i look back, see to him..
his deskmate, kul, guy i have loved look at me silently, his eyes told me to dont, but i realize that he also not give almost of his heart..
rio text me again then moved into back desk of mine..
i can't felt freely with it..
i woke up, i laugh..
he ask for where's my phone.
i saw at my phone, there was one new message..
he text me..
he told me would i use to be love him?
he gave me time to try..
then i look back, see to him..
his deskmate, kul, guy i have loved look at me silently, his eyes told me to dont, but i realize that he also not give almost of his heart..
rio text me again then moved into back desk of mine..
i can't felt freely with it..
i woke up, i laugh..
Subscribe to:
Comments (Atom)
