Tama mendorong kasar pintu depan, diikuti Luna yang menarik-narik lengan jaket yang dikenakan Tama.
***
Terdengar suara langkah kaki, berat, setelah pintu depan membanting dinding di sebelahnya. Itu Tama. Sudah biasa bagi orang rumah, Tama memang sering begitu kalau sedang ada masalah dengan Luna. Pintu kamar Kara menjeblak terbuka. Berdiri Tama dengan Luna di belakangnya berlari kecil mengejar. Bukan Luna penyebab kemarahan Tama kali ini, tapi apa? Letak penyebab kemarahan itu sepertinya ada di kamar Kara.
"Udah, bisa diomongin baik-baik kan?"
"Gak, gak pernah ada toleransi buat orang kayak dia. Udah ya, biarin aku dulu yang ngomong.." Tama tetap bicara dengan lembut tapi menusuk.
"Dek, siapa yang ngantar kamu pulang kemarin?" interogasi Tama langsung.
"Siapa, mas? Lila?"
"Bukan, laki-laki!"
"Emm," Kara berusaha mengingatnya, "Oh!," Kara menjentikkan jari tanda ia mengingatnya.
"Siapa?" tanya Tama lagi.
"Kenapa sih? Itu urusan dedek kali mas, mas resek nih." jawab Kara sambil memainkan ponselnya.
"Mas cuma mau tau dari kamu, kamu tuh adik mas bukan? Gak mau dikasih tau yang benar ya?" Tama masih membentak. Di sebelahnya terlihat Luna mengelus-elus lengan Tama sebagai isyarat agar lebih bisa mengontrol emosinya. Tama memang tidak bisa dihalangi keinginannya, harus dituruti, seperti sekarang. Luna sudah menyarankan untuk bicara baik-baik dengan Kara. Tidak digubris.
Luna pun kesulitan mengontrol emosi Tama, ia tidak mengetahui apa penyebabnya.
"Mas gak usah sok-sokan mau ngejagain aku gitu kenapa sih?"
"Sok-sokan kamu bilang? Kamu gak pernah tau kan dia itu siapa? Mas gak suka sama dia! Kamu dengar? Mas gak suka! Titik!" volume suara Tama semakin meninggi.
"Kenapa sih jadi sok perhatian gini? Selama ini juga gak pernah, mas urusin aja tuh diri mas, perbaikin diri mas sebelum mas ngerasa lebih baik dari dia! Mas tau? Mas tuh gak pantes sama Mbak Lu!" Kara memanas, keluar dari kamarnya membawa serta ponsel bersamanya. Hening. Tama syok mendengar perkataan adiknya barusan, begitu pula Luna. Tama berbalik dan meninju pintu kamar Kara, adiknya. Meluapkan emosinya.
***
Luna menyusul Kara ke teras belakang setelah sedikit memaksa Tama untuk shalat. Kara menangis senggukan disana. Dipeluknya Kara meski awalnya Kara memberontak. Semarah-marahnya semua orang di rumah itu, tetap tidak satu pun sanggup marah kepada Luna. Sang malaikat begitu mereka menyebutnya.
"Dek, kamu gak boleh ngomong kasar sama mas kayak tadi.." Luna membuka pembicaraannya.
"Dedek gak bakal ngomong gitu Mbak, kalo mas gak mulai. Mbak juga ngerti kan kalo jadi dedek? Gimana rasanya kalo pacar kita dijelekin orang, sama kakak sendiri lagi.."
"Iya sayang, mbak ngerti, tapi itu kan mas kamu, kamu juga ngerti dia kan? Walaupun badannya besar gitu, dia kalo marah sering jadi kayak anak-anak loh.." jelas Luna sembari tertawa. Kara ikut tertawa.
"Mbak kok bisa tahan sih sama mas yang gitu? Dedek yang 15 tahun tinggal sama dia aja benci banget gini mbak.."
"Mm, mbak juga gak tau kenapa, dek. Andaikan bisa nemu alasan mbak juga pasti bangga sama mas kamu itu." tawa Luna dengan semu merah di pipinya.
"Ih, ogah. Masnya mbak aja, dedek gak mau punya mas tempramental gitu. Hihihi.." mereka berdua tertawa lepas.
"Mbak Lu!" terdengar teriakan dari dalam. Laras. Ia berlari kecil menuju teras belakang. Memeluk Luna dari belakang.
"Udah pulang sayang?" tanya Luna.
"Iya mbak. Kok Dekya nangis?" tanyanya pada Kara yang sapanya Dekya. Kependekan dari Dedek Kaya- panggilan Tama sewaktu kecil untuk Kara.
"Tadi Dekya ribut sama Mas, sayang.." jawab Luna sambil mengelus kepala Laras sayang.
"Huh, pasti Mas marah-marah gak jelas tuh.. Yayas benci sama Mas."
"Iya, Dekya juda benci Yas sama Mas. Kita bunuh aja yuk!"
ajak Kara.
"Ets, jangan dong! Nanti kalian gak punya Mas lagi, gimana?" tanya Luna.
"Gak papa ah, kan kita masih punya Mbak Lu. Ya kan, Yas?" Kara bersuara.
"Iya, Mbak tuh Mbak terbaik sedunia dunia.."
"Lu, pulang yuk! Aku sekalian mau latihan basket." ajak Tama yang tiba-tiba muncul. Merusak suasana.
"Hm, bentar ya?" bisik Luna. Tama mengangguk. "Kamu tunggu diluar dulu ya?" katanya lagi. Tama keluar.
"Tuh, liat! Emang suka ngerusak kebahagian kan?" kata Kara.
"Iya, emang dia kayak orang gila, Dekya.." sambut Laras.
"Haha.." mereka bertiga tertawa, "Mbak pulang ya sayang?" pamit Luna sambil mengecup keduanya di puncak kepala.
Keduanya membalas dengan tersenyum. Senyum tidak rela.
***t
No comments:
Post a Comment
Turn Your Words Become Strawberry Juice!