Friday, October 22, 2010

Luna II

"Lu, jangan terlalu manjain adik-adikku.." ucap Tama sambil memundurkan mobil.
"Kenapa?"
"Mereka gak bisa dilembutin, sayang.
Bakalan ngelunjak!" jawab Tama lembut.
"Maksud aku baik kok. Mereka juga baik sama aku, aku sayang sama mereka."
"Hm, bukannya ngebatasin antara kamu sama mereka. Tapi....." Tama berhenti, pantulan bayangan di spion itu memaksanya melihat dengan seksama. Refleks, Tama membuka pintu mobil dan keluar. Berjalan menuju sumber bayangan tadi.
"Masih berani kesini?" tanya Tama yang hanya dibalas dengan senyuman menantang. "Woi! Budek!"
"Eh, sori jek! Gue kesini niatnya baik, bukannya mau kelai gak jelas."
"Ets, pede amat! Siapa yang mau ngajak kelai? Mendingan lo balik, gue emosian aja nih liat muka lo!" usir Tama.
"Loh? Kenapa harus gitu sih? Santai bro. Gue kesini mau ketemu adik lo, bukan cari ribut sama elo." jawab si lawan bicara tenang.
"Adik gue? Nah itu masalahnya, gue gak suka elo dekat-dekat adik gue!"
Suara itu. Dua suara itu. Dua suara yang seharusnya akrab di telinga Luna. Satunya suara Tama sudah pasti, satunya lagi? Rasa penasaran Luna membuatnya ikut turun dari mobil.
"Zona!" pekik Luna terkejut akan kehadiran mantan pacarnya disitu. Lelaki yang bernama Zona itu terlihat salah tingkah.
"Udah, lo pergi aja gih!" usir Tama sekali lagi.
"Lu, ini pacar kamu?" tanya Zona pada Luna.
"Iya. Kamu ngapain disini?" sakit hati Luna ketika menanyakannya karena Luna sedikit mendengar percakapan tadi.
"Nih, mau minjem buku adiknya." tunjuknya pada Tama. Mendengar keributan diluar, Laras dan Kara berlarian keluar.
"Zona!" Kara memanggil kekasihnya, memastikan bahwa itu memang kekasihnya. Zona menoleh.
"Eh, ini nih gak ngebolehin aku ketemu kamu." tunjuknya lagi pada Tama. Luna mengernyit, sakitnya seperti dipaksa mengingat luka yang pernah diukir Zona. Melihat ekspresi wajah Luna, miris yang dirasakan Tama. Itu satu-satunya alasan Tama teramat membenci Zona. Ia mengambil kunci mobil dan mengajak Luna masuk ke rumah bersama juga Laras di belakang mereka. Zona cinta pertama Luna.

No comments:

Post a Comment

Turn Your Words Become Strawberry Juice!