Again..
Ya mungkin udah ketebak kali aku mau nulis apa, tapi ya gitu deh. Kenapa setiap diangsurkan dengan konsep jodoh selalu kamu yg terbayang? Ralat, kamu sebagai sosok imamku kelak.
Mengapa? Padahal aku rasa selama ini manipulasi terhadap reseptor penerima rangsang memori berhasil dengan baik.
Apakah aku kurang piawai memanipulasinya?
Apakah aku seharusnya memerlukan analgesik agar reseptor itu sekalian rusak dan tidak bisa menerima perih dan mendefinisikan sedih ke otak?
Apakah harus?
Tapi aku tidak bisa. Analgesik berarti orang lain. Aku tidak perlu orang lain untuk bisa survive. Untuk hal ini aku bisa sendiri.
Kau memainkan musik kesukaanku dengan ritme favoritku, namun ntah mengapa hati bagai tersayat ketika mendengarnya. Kutoleh ke arah sumber suara, kau! Pantas saja alunan musik seindah itu bisa terdengar menyayat pilu, kau penyebabnya. *sigh deeply*
Jadi? Aku sudah atau belum? Sudah! Aku hanya perlu meluruskan para akson agar sakit lebih cepat terasa dan lekas melupakannya.. Aku tidak perlu analgesik karena hanya akan melumpuhkan dan membuatku buta akan rasa setelahnya.. :')
No comments:
Post a Comment
Turn Your Words Become Strawberry Juice!